Lifestyle
RS Jantung Jakarta Ungkap Bahaya Penyakit Jantung Koroner Pada Usia Muda
Semarang (usmnews) – Penyakit jantung saat ini terus menempati urutan teratas sebagai pencabut nyawa paling menakutkan masyarakat Indonesia. Kini penyakit jantung mengancam usia muda secara nyata tanpa memandang batas usia produktif seseorang. Rumah sakit bahkan makin sering menangani pasien muda yang menderita gangguan pembuluh darah mendadak. Selain itu, pemerintah mengeluarkan dana kesehatan sangat besar demi membiayai pengobatan para penderita penyakit ini.
Direktur Utama RS Jantung Jakarta, dr. Mohammad Andi Yassin, Sp.JP, FIHA, membeberkan tingginya angka kasus tersebut. Beliau menegaskan bahwa penyakit koroner sering menyerang seseorang tanpa memperlihatkan tanda bahaya awal. “Kalau dari data Kemenkes, dari BPJS, penyakit jantung ini merupakan kelima tertinggi menghabiskan biaya atau dana untuk pengobatan jantung. Jadi kalau dari sisi biaya itu tinggi, sisi kesakitan, bahkan sampai mortalitas atau kematian itu juga sangat tinggi,” ujar Andi Yassin.
Penyakit Jantung Mengancam Usia Muda Akibat Gaya Hidup Pasif
Perubahan pola hidup harian menjadi pemicu utama timbulnya gangguan kesehatan organ vital tersebut. Masyarakat modern zaman sekarang cenderung mengadopsi gaya hidup pasif dan meminimalkan pergerakan tubuh harian. Pekerja kantoran umumnya menghabiskan waktu berjam-jam hanya duduk di depan layar komputer. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi camilan manis serta merokok semakin memperparah kondisi kesehatan pembuluh darah. Sebaliknya, generasi terdahulu rutin melakukan aktivitas fisik berat seperti bercocok tanam di ladang.
Namun, anak muda zaman sekarang justru mengabaikan pentingnya berolahraga secara teratur setiap minggu. Penyakit jantung mengancam usia muda akibat minimnya aktivitas fisik harian secara konsisten. Akibatnya, plak jahat menumpuk dan menyumbat aliran darah menuju ke organ jantung. Rumah sakit baru saja merawat pemuda berusia 26 tahun akibat serangan jantung parah. Pemuda tersebut mengalami kelemahan pompa organ serta penyumbatan total pada saluran darahnya. “Baru-baru saja di Rumah Sakit Jantung Jakarta ada laki-laki 26 tahun. Pompa jantungnya lemah, datang dengan serangan jantung dan memang ada heart block, tersumbat total di pembuluh darah jantungnya,” kata Andi Yassin.
Gejala Pembunuh Senyap dan Bahaya Penyakit Jantung Usia Muda
Penyakit jantung koroner mendapat julukan berbahaya sebagai pembunuh senyap di tengah masyarakat kita. Sebagian besar penderita baru menyadari penyakit ini ketika kondisi kesehatan mereka memburuk secara drastis. Umumnya, penderita merasakan nyeri dada, sesak napas, atau rasa berat saat beraktivitas berat. Namun, rasa sakit tersebut sering kali mereda sewaktu penderita beristirahat sejenak di rumah. Bahkan, sebagian pasien sama sekali tidak menunjukkan gejala awal sebelum serangan hebat datang.
Kondisi ini tentu sangat membahayakan keselamatan jiwa seseorang jika tidak mendapat pertolongan cepat. Andi Yassin menceritakan fenomena mengejutkan yang sering menimpa para pasien jantung koroner. “Mungkin lagi tenang-tenang di rumah, lagi nonton, lagi ketawa-ketiwi dengan keluarga, tiba-tiba enggak enak dadanya, kemudian collapse,” ungkap Andi Yassin. Oleh sebab itu, masyarakat wajib mewaspadai setiap perubahan kondisi fisik sekecil apa pun.
Pentingnya Pemeriksaan Rutin Mencegah Penyakit Jantung
Oleh karena itu, masyarakat perlu menjadwalkan pemeriksaan kesehatan tubuh secara berkala dan konsisten. Pemerintah telah menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan secara gratis pada seluruh puskesmas terdekat. Pria berusia 40 tahun serta wanita menopause sangat wajib memanfaatkan fasilitas pemeriksaan medis ini. Namun, kelompok dewasa muda juga tidak boleh merasa aman dari ancaman penyakit mematikan ini.
Masyarakat harus segera mengubah gaya hidup dengan memperbanyak olahraga dan menghentikan kebiasaan merokok. Selain itu, konsumsi makanan bergizi seimbang mampu menjaga kelancaran sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Pendeteksian faktor risiko sejak dini menjadi kunci utama guna menyelamatkan nyawa seseorang dari serangan. Melalui pola hidup sehat, masyarakat dapat menekan potensi bahaya penyakit jantung koroner secara maksimal.