Lifestyle
Pentingnya Ruang Hening agar Hidup Tidak Disetir Algoritma

Hidup di Tengah Banjir Notifikasi
Semarang (usmnews) – Pernahkah Anda menghitung berapa kali tangan Anda meraih ponsel dalam satu jam? Tanpa sadar, bunyi notifikasi telah mendikte ritme hidup kita sepenuhnya. Tiap menit, layar gawai menyala, menyajikan pesan WhatsApp, pembaruan media sosial, hingga berita terbaru yang datang silih berganti tanpa henti. Kita sering kali menganggap riuh rendah digital ini sebagai sebuah kewajaran baru yang tak terelakkan. Namun, di balik kenyamanan teknologi tersebut, tersimpan sebuah ironi besar: kita hidup di era yang paling cerdas secara teknologi, tetapi sekaligus menjadi era yang paling bising bagi mental kita.
Dunia saat ini tidak hanya bising oleh suara fisik kendaraan atau perkotaan, melainkan oleh banjir informasi yang tak terbendung. Kehadiran Artificial Intelligence (AI), big data, dan algoritma canggih semakin memperparah keadaan ini. Teknologi tersebut terus-menerus menyuapi kita dengan opini instan, drama media sosial, dan menuntut respons super cepat. Akibatnya, kita melahap informasi layaknya makanan cepat saji; kenyang seketika tetapi miskin nutrisi karena kita menelannya tanpa sempat mencernanya dengan benar.

Saat Algoritma Mengambil Alih Kemudi
Sejarawan dan pemikir besar, Yuval Noah Harari, menyoroti fenomena memprihatinkan ini dengan tajam. Menurut pandangan Harari, tantangan terbesar kita saat ini bukanlah seberapa canggih teknologi itu berkembang, melainkan seberapa kuat manusia mampu mempertahankan jati dirinya di hadapan mesin. Ia sama sekali tidak memusuhi kemajuan teknologi, namun ia memberikan peringatan keras mengenai bahaya nyata ketika manusia perlahan kehilangan “kendali internal” atas pikirannya sendiri.
Kita harus menyadari bahwa algoritma bekerja dalam senyap dan sangat efektif. Sistem ini mempelajari kebiasaan, preferensi, hobi, bahkan emosi terdalam kita setiap hari. Lama-kelamaan, algoritma mampu memahami diri kita jauh lebih baik daripada kita memahami diri sendiri. Jika kita tidak waspada, teknologi akan memegang kendali penuh dan menyetir keputusan-keputusan hidup kita tanpa kita sadari. Inilah kondisi yang Harari sebut sebagai peretasan manusia (hacking humans). Tanpa adanya jeda, kita hanya akan berubah menjadi objek pasif yang bereaksi impulsif terhadap apa pun yang algoritma sajikan di layar gawai.

Keheningan sebagai Bentuk Perlawanan
Oleh karena itu, menciptakan “ruang hening” di tengah kesibukan bukan sekadar aktivitas melamun atau bermalas-malasan. Tindakan ini adalah sebuah bentuk perlawanan aktif. Kita sangat membutuhkan keheningan untuk mengubah serpihan informasi yang berserakan menjadi pengetahuan yang utuh, dan kemudian mengolah pengetahuan tersebut menjadi kebijaksanaan hidup. AI mungkin memiliki kecerdasan super untuk memecahkan masalah logis dan matematis, tetapi ia tidak memiliki kesadaran, perasaan, maupun kemampuan merenungi makna penderitaan dan kebahagiaan.
Di titik inilah letak kekuatan manusia yang sesungguhnya yang tidak boleh hilang. Kita perlu secara sadar mengambil jarak aman dari kebisingan digital yang memekakkan telinga. Dengan tekun merawat keheningan, kita menjaga kewarasan mental, memperdalam makna hidup, dan membangun relasi antarmanusia yang bermartabat—sesuatu yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin secanggih apa pun di masa depan.







