Education

Penolakan Komisi X DPR terhadap Rencana Sekolah Daring demi Efisiensi Energi

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana pemerintah yang ingin memberlakukan kembali sistem pembelajaran daring (online) bagi para siswa. Wacana ini muncul sebagai salah satu strategi pemerintah untuk melakukan penghematan energi di tengah ketidakpastian kondisi global, khususnya dampak konflik di Timur Tengah (Iran) yang berpotensi melambungkan harga minyak dunia. Kebijakan ini direncanakan akan mulai dibahas dan kemungkinan diterapkan pada April 2026.

Refleksi dari Pengalaman Pandemi Covid-19

Kritik tajam yang disampaikan oleh Esti didasarkan pada pengalaman pahit dunia pendidikan Indonesia selama masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Menurutnya, transisi paksa ke sistem pembelajaran jarak jauh kala itu telah meninggalkan berbagai persoalan serius yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. Esti menekankan bahwa pembelajaran daring terbukti kurang efektif dalam menjamin kualitas pendidikan nasional.

Ada beberapa kendala utama yang ia soroti jika sekolah daring kembali diterapkan:

1. Penurunan Kemampuan Kognitif: Siswa cenderung sulit menyerap materi pelajaran dengan optimal melalui layar perangkat digital dibandingkan dengan interaksi tatap muka secara langsung di dalam kelas.

2. Masalah Kedisiplinan: Kontrol terhadap disiplin waktu dan perilaku siswa menjadi sangat lemah ketika mereka belajar dari rumah tanpa pengawasan langsung dari guru.

3. Kesenjangan Teknologi: Tidak semua siswa dan sekolah memiliki infrastruktur digital yang memadai, sehingga kebijakan ini justru akan memperlebar jurang keadilan dalam dunia pendidikan.

Ancaman Learning Loss dan Gangguan Karakter

Esti menyatakan keprihatinan yang mendalam mengenai fenomena learning loss, di mana peserta didik kehilangan minat belajar dan bahkan cenderung “melupakan” esensi dari sekolah itu sendiri. Menurut pengamatannya, penurunan kemampuan intelektual anak-anak Indonesia pasca-pandemi menjadi bukti nyata bahwa sekolah bukan sekadar tempat transfer informasi, melainkan ruang sosial yang krusial bagi tumbuh kembang mereka.

Lebih jauh lagi, aspek afektif yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, sikap, dan karakter siswa sangat sulit diimplementasikan melalui sistem daring. Pendidikan karakter memerlukan keteladanan langsung dan interaksi sosial yang nyata, yang mana hal tersebut hilang dalam sistem virtual. Selain itu, Esti juga menyinggung dampak psikologis dan kesehatan fisik anak yang dapat terganggu akibat isolasi sosial dan durasi penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan (screentim).

Mencari Solusi Alternatif Tanpa Mengorbankan Pendidikan

Sebagai wakil rakyat, Esti meminta pemerintah untuk mengkaji ulang wacana ini secara mendalam dan mencari solusi alternatif untuk mengatasi krisis ekonomi atau kenaikan harga energi tanpa harus mengorbankan masa depan anak-anak. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi jangka panjang bangsa yang tidak boleh dijadikan variabel untuk efisiensi jangka pendek.

“Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak dunia,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa dampak dari kebijakan pendidikan yang keliru akan dirasakan dalam jangka waktu yang sangat lama, sehingga pemerintah tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan yang berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version