Blog

Peluru Nyasar di UNP Padang: Dua Warga Terluka di Depan Gedung Rektorat

Published

on

Semarang(usmnews)- Ketenangan lingkungan akademik di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat mendadak berubah menjadi kepanikan massal pada awal Juni 2026 ini. Sebuah insiden keamanan yang sangat membahayakan nyawa manusia kembali melanda kawasan kampus hijau tersebut. Dentuman misterius yang membawa proyektil tajam bersarang di tubuh warga yang sedang beraktivitas. Peristiwa mencekam tersebut melukai dua orang warga sipil tepat di depan area Gedung Rektorat UNP. Kehadiran berita peluru nyasar unp ini langsung memicu sorotan tajam publik karena mengancam keselamatan ruang publik institusi pendidikan.

Kronologi Penembakan Saat Momen Kelulusan dan Proses Operasi Pengangkatan Proyektil

Peristiwa buruk ini bermula pada sore hari saat kawasan alun-alun kampus sedang ramai oleh aktivitas mahasiswa. Para korban sebenarnya sedang merayakan kelulusan ujian seminar proposal yang penuh dengan kegembiraan. Mereka sedang asyik berswafoto (selfie) untuk mengabadikan momen kebersamaan di depan ikon Gedung Rektorat UNP. Namun, sebutir timah panas mendadak menyambar tubuh mereka secara tiba-tiba tanpa ada peringatan apa pun.

Maka dari itu, letusan senjata misterius tersebut langsung menjatuhkan dua orang korban ke tanah. Korban pertama merupakan seorang mahasiswi Jurusan Sosiologi UNP yang menderita luka tembak pada bagian paha atau kaki. Sementara itu, korban kedua adalah seorang warga sipil dari anggota keluarga mahasiswa yang terkena hantaman pada bagian tangan. Rekan-rekan korban segera melarikan kedua korban menuju rumah sakit swasta terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Selanjutnya, petugas medis memindahkan para korban menuju Rumah Sakit Tentara (RST) dr. Reksodiwiryo guna menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru. Beruntung, kondisi kedua korban kini sudah berangsur pulih setelah mendapatkan perawatan intensif dari tim dokter spesialis. Alhasil, kesembuhan para korban memberikan sedikit rasa lega di tengah bergulirnya berita peluru nyasar unp ini.

Garis Sejajar Lapangan Tembak Lapai dan Investigasi Proyektil oleh Kodam

Pihak keamanan kampus bersama aparat penegak hukum segera melakukan olah tempat kejadian perkara untuk merunut asal tembakan. Berdasarkan hasil analisis balistik awal, peluru diduga kuat berasal dari kegiatan latihan menembak personel batalyon TNI. Dugaan ini menguat karena keberadaan fasilitas lapangan tembak TNI di kawasan Lapai memiliki posisi yang sejajar. Jarak antara lokasi latihan militer tersebut hanya membentang sejauh 800 meter dan menghadap langsung ke arah Gedung Rektorat UNP.

Kemudian, jajaran Polisi Militer bersama pihak Kodam terkait langsung meluncurkan investigasi mendalam untuk mengusut tuntas peristiwa ini. Petugas ingin memastikan sumber proyektil dan kronologi pasti dari kesalahan arah bidikan tersebut. Sejauh ini, tim investigator di lapangan telah berhasil menemukan satu proyektil peluru sebagai barang bukti utama. Tambahan pula, pimpinan militer berjanji akan menjatuhkan sanksi tegas jika menemukan unsur kelalaian prosedur dari anggota di lapangan. Singkatnya, kepastian asal-usul senjata ini menjadi poin krusial yang paling dinantikan dalam perkembangan berita peluru nyasar unp.

Desakan Relokasi Mantan Rektor UNP Ganefri Atas Teror Tujuh Kali Penembakan

Rentetan insiden berdarah ini seketika memicu gelombang kekhawatiran dan aksi protes keras dari seluruh civitas akademika. Mantan Rektor UNP, Ganefri, bersama jajaran dosen mendesak pihak TNI untuk segera merelokasi atau memindahkan lapangan tembak dari kawasan Lapai. Pihak kampus menilai keberadaan fasilitas bersenjata di tengah permukiman padat dan area kampus sudah tidak layak lagi.

Berdasarkan laporan resmi pihak universitas, kasus ancaman timah panas ini ternyata bukan merupakan peristiwa yang pertama kali terjadi. Lingkungan kampus UNP tercatat sudah mengalami musibah peluru nyasar sebanyak tujuh kali sejak tahun 2010 silam. Oleh karena itu, UNP kini menagih janji lama aparat penegak hukum untuk melakukan evaluasi keamanan secara total dan menyeluruh. Langkah konkret harus segera berjalan agar tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan di masa depan.

Pada akhirnya, dampak psikologis dari teror ini mulai mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar di luar kelas. Muncul laporan mengenai trauma mendalam di kalangan mahasiswa yang kini menjadi takut untuk melintas di area terbuka depan rektorat. Kita belajar bahwa ruang akademis harus steril dari segala bentuk ancaman senjata api demi kenyamanan generasi muda menuntut ilmu. Singkatnya, pemerintah daerah wajib menjembatani dialog antara pihak kampus dan militer guna melahirkan solusi pemindahan fasilitas latihan tersebut. Kita semua berharap agar keadilan hukum bagi kedua korban dapat tegak seadil-adilnya. Akhirnya, mari kita kawal terus penyelesaian kasus ini demi mengakhiri kemunculan peluru nyasar unp pada masa-masa yang akan datang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version