Education
Paradoks Pendidikan Tinggi, Ketika Ribuan Lulusan S2 dan S3 Menyerah pada Pasar Kerja

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari Sindonews.com Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) kembali membuka mata publik melalui publikasi terbarunya, Labor Market Brief 2025 Volume 6, Nomor 11, yang dirilis pada November 2025. Laporan yang ditulis oleh Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah ini menyoroti sebuah fenomena mengkhawatirkan dalam lanskap ketenagakerjaan Indonesia: meningkatnya angka “penganggur putus asa” atau discouraged workers.
Fenomena Keputusasaan di Kalangan Terdidik
Temuan yang paling mengejutkan dari laporan ini adalah fakta bahwa tingginya jenjang pendidikan tidak lagi menjadi jaminan mutlak bagi seseorang untuk mudah terserap dalam dunia kerja. Data per Februari 2025 menunjukkan bahwa keputusasaan dalam mencari kerja telah merambah hingga ke lapisan intelektual tertinggi. Tercatat lebih dari 6.000 lulusan program pascasarjana (S2 dan S3) dan sekitar 45.000 lulusan Sarjana (S1) masuk dalam kategori penganggur yang berhenti mencari kerja karena putus asa.

Meskipun secara persentase lulusan S2 dan S3 “hanya” menyumbang 0,35% dan lulusan S1 sebesar 1,57% dari total penduduk yang putus asa, keberadaan mereka menjadi sinyal bahaya bagi sistem pendidikan dan ekonomi nasional. Hal ini mematahkan asumsi bahwa mobilitas vertikal melalui pendidikan tinggi akan selalu berbanding lurus dengan kemudahan mendapatkan pekerjaan. Ketika kelompok berpendidikan tinggi merasa pesimis, ini menandakan adanya masalah struktural yang serius dalam daya serap pasar tenaga kerja.
Akar Masalah: Mengapa Mereka Menyerah?
LPEM FEB UI mengidentifikasi beberapa faktor krusial yang menyebabkan lulusan pendidikan tinggi memilih untuk “menyerah” dari perburuan kerja:
- Ekspektasi Upah yang Tidak Bertemu: Terdapat kesenjangan antara tingginya harapan gaji lulusan pascasarjana dengan realitas penawaran pasar.
- Mismatch Kompetensi: Ketidaksesuaian antara bidang studi yang dipelajari di bangku kuliah dengan jenis peluang kerja yang tersedia.
- Diskriminasi Usia: Lulusan S2 dan S3 cenderung memasuki pasar kerja di usia yang lebih matang dibandingkan lulusan jenjang di bawahnya. Persepsi dunia usaha yang memandang usia “tua” sebagai hal yang tidak menguntungkan menjadi penghalang besar bagi mereka.
Lonjakan Angka “Putus Asa” Secara Nasional
Secara agregat, laporan ini mencatat lonjakan yang signifikan pada jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak lagi mencari pekerjaan. Pada Februari 2025, angka ini mencapai 1,87 juta orang, naik 11% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 yang tercatat sebanyak 1,68 juta orang.
Komposisi penduduk yang putus asa ini masih didominasi oleh kelompok berpendidikan rendah, dengan rincian:

- Lulusan SD: 50,07%
- Lulusan SMP: 20%
- Lulusan SMA: 17%
- Lulusan SMK: 8%
Implikasi Ekonomi dan Pandangan ILO
Kenaikan belasan persen dalam kurun waktu satu tahun ini mengindikasikan pergeseran segmen penduduk dari posisi “mencari kerja” menjadi “tidak aktif”. Fenomena ini selaras dengan catatan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang menyebutkan bahwa di negara berpendapatan menengah, pekerja yang putus asa (discouraged workers) merupakan komponen vital dari labour underutilization. Mereka secara teknis dikategorikan tidak aktif, padahal sejatinya mereka masih memiliki keinginan dan ketersediaan untuk bekerja jika peluang itu ada.
Kondisi ini menuntut perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Jika optimisme pasar kerja tidak segera dipulihkan, bonus demografi Indonesia berisiko berubah menjadi beban demografi akibat tingginya angka tenaga kerja produktif yang memilih pasif karena kehilangan harapan.






