Education
Paradigma Baru Kemendikdasmen: Membangun Ekosistem Sekolah yang Aman dan Nyaman dengan Pendekatan Humanis

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi memperkenalkan arah kebijakan baru yang menitikberatkan pada transformasi budaya di lingkungan satuan pendidikan. Kebijakan ini lahir dari kesadaran bahwa kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh suasana psikologis dan keamanan fisik para siswa.
Inti dari regulasi terbaru ini adalah menciptakan ekosistem sekolah yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjamin rasa aman dan kenyamanan bagi setiap individu di dalamnya, dengan memprioritaskan pendekatan persuasif dibandingkan pemberian sanksi yang kaku.

Pergeseran dari Punitif ke Restoratif
Salah satu poin paling krusial dalam aturan ini adalah komitmen kementerian untuk meminimalkan sanksi yang bersifat menghukum (punitif). Selama ini, pelanggaran disiplin di sekolah sering kali diselesaikan dengan tindakan tegas yang terkadang justru menimbulkan trauma atau resistensi pada siswa. Melalui aturan baru ini, Kemendikdasmen mendorong penerapan disiplin positif dan keadilan restoratif.
Pemerintah berpandangan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh siswa seharusnya menjadi momentum untuk belajar dan memperbaiki diri melalui dialog, bukan sekadar menerima hukuman. Dengan meminimalkan sanksi fisik atau tekanan mental, sekolah diharapkan mampu menjadi tempat yang merangkul keberagaman karakter siswa tanpa menciptakan rasa takut yang berlebihan.
Pilar Utama Budaya Sekolah yang Aman
Regulasi ini menggarisbawahi beberapa pilar penting yang harus diupayakan oleh setiap sekolah:
- Pencegahan Kekerasan: Sekolah diwajibkan memiliki sistem deteksi dini untuk mencegah perundungan (bullying), kekerasan seksual, dan intoleransi.
- Lingkungan Inklusif: Menciptakan ruang di mana setiap siswa, tanpa memandang latar belakang sosial atau kemampuan fisik, merasa diterima dan dihargai.
- Kesehatan Mental: Memberikan perhatian lebih pada kesejahteraan emosional siswa sebagai fondasi keberhasilan belajar.
Kolaborasi Seluruh Pemangku Kepentingan
Implementasi aturan ini tidak bisa dilakukan oleh guru semata. Kemendikdasmen menekankan pentingnya sinergi antara guru, orang tua, dan masyarakat. Guru diharapkan bertransformasi menjadi mentor dan teladan yang mengedepankan kasih sayang dalam mendidik. Di sisi lain, orang tua diminta untuk menyelaraskan pola asuh di rumah dengan budaya positif yang dibangun di sekolah agar terjadi kesinambungan nilai.
Secara jangka panjang, kebijakan ini bertujuan untuk mencetak generasi yang memiliki karakter kuat, empati tinggi, dan kesehatan mental yang terjaga. Dengan sekolah yang aman dan nyaman, potensi terbaik setiap anak dapat tergali secara optimal tanpa terhambat oleh tekanan lingkungan yang toksik.
Kemendikdasmen optimis bahwa pengurangan sanksi yang dibarengi dengan penguatan nilai budaya akan menghasilkan lingkungan pendidikan yang jauh lebih manusiawi dan efektif.







