Nasional
Optimisme Baru di Jalan Ibu Kota: Klaim Penguraian Kemacetan Jakarta yang Lebih Cepat

Semarang (usmnews) – Masalah kemacetan di DKI Jakarta, yang selama puluhan tahun seolah menjadi “penyakit kronis” tak tersembuhkan, kini menemui titik terang baru. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) dan didukung oleh aparat kepolisian, mengklaim bahwa durasi kemacetan di titik-titik krusial kini dapat diurai dengan tempo yang jauh lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Klaim ini bukan sekadar janji manis, melainkan hasil dari intervensi teknologi canggih dan rekayasa lalu lintas yang terukur.
Pondasi utama dari klaim keberhasilan ini terletak pada modernisasi sistem kendali lalu lintas. Jakarta telah beralih dari sistem lampu lalu lintas konvensional yang menggunakan pengatur waktu statis (timer tetap) menuju sistem Area Traffic Control System (ATCS) yang didukung oleh Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).
Teknologi ini bekerja layaknya “mata dan otak” digital di persimpangan jalan. Kamera pemantau yang terpasang tidak hanya merekam, tetapi juga menghitung volume kendaraan secara real-time. Algoritma AI kemudian menganalisis data tersebut untuk menentukan durasi lampu hijau secara otomatis.
Dampak dari penerapan teknologi ini diklaim signifikan. Berdasarkan evaluasi di lapangan, terjadi penurunan persentase antrean kendaraan di persimpangan-persimpangan utama yang telah terintegrasi dengan sistem AI. Kemacetan yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam untuk terurai, kini diklaim bisa mencair lebih cepat karena distribusi arus kendaraan diatur secara lebih merata oleh sistem, bukan lagi berdasarkan insting petugas semata.
Pejabat terkait menyebutkan bahwa efisiensi lalu lintas meningkat, yang berimbas pada peningkatan kecepatan rata-rata kendaraan di jam sibuk. Meskipun volume kendaraan di Jakarta terus bertambah setiap tahunnya, teknologi ini dianggap berhasil menahan laju penurunan performa jalan, bahkan memperbaikinya di sektor-sektor tertentu.

Klaim terurainya kemacetan lebih cepat ini tidak berdiri sendiri hanya karena teknologi lampu merah. Hal ini juga didukung oleh perbaikan ekosistem transportasi publik yang semakin masif. Perluasan jangkauan JakLingko, integrasi fisik antara halte TransJakarta, stasiun MRT, dan LRT Jabodebek, telah mendorong sebagian masyarakat untuk beralih moda transportasi.
Penutupan beberapa putaran balik (u-turn) yang selama ini menjadi biang kerok pelambatan arus, serta rekayasa lalu lintas satu arah di jam-jam tertentu, juga berkontribusi besar dalam melancarkan sirkulasi kendaraan. Sinergi antara manajemen lalu lintas berbasis IT dan rekayasa fisik jalan inilah yang menjadi kunci “napas” baru bagi jalanan Jakarta.
Meski demikian, klaim ini tetap disertai catatan. Pemerintah mengakui bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Tantangan terbesar tetap pada rasio pertumbuhan jalan yang tidak sebanding dengan ledakan jumlah kendaraan pribadi, serta tingkat kedisiplinan pengendara.
Oleh karena itu, klaim “bisa terurai lebih cepat” ini harus dipahami sebagai peningkatan efisiensi manajemen kemacetan, bukan berarti Jakarta telah sepenuhnya bebas dari macet. Upaya ini merupakan langkah progresif untuk mengubah wajah transportasi Jakarta dari yang sebelumnya semrawut menjadi lebih cerdas dan terprediksi.







