International
Nilai Tukar Rupiah Terdepresiasi, Analis Prediksi IHSG Bakal Fluktuatif Akibat Capital Outflow
Semarang (usmnews) – Pergerakan rupiah di pasar spot kian menunjukkan tren melemah pada awal sesi perdagangan Jumat pagi ini. Mata uang Garuda mengalami depresiasi sebesar 19 poin atau sekitar 0,11 persen menuju level Rp 17.864 per dollar Amerika Serikat (AS).
Kondisi lesu ini terjadi bersamaan dengan pelemahan sebagian besar mata uang utama di kawasan Asia. Won Korea Selatan bahkan mencatat penurunan terdalam terhadap dollar AS setelah melemah hingga 0,51 persen.
Selanjutnya, dollar Singapura ikut terkoreksi sebesar 0,05 persen, yen Jepang turun 0,04 persen, dan dollar Hong Kong melemah 0,01 persen. Sebaliknya, beberapa mata uang regional justru mampu melawan arus dengan mencetak penguatan tipis.
Dampak Arus Keluar Dana Asing Terhadap Indeks Saham
Sementara itu, pelemahan mata uang domestik ini mulai memberikan tekanan baru bagi pergerakan IHSG. Senior Market Analyst, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa tekanan tersebut berpotensi memicu volatilitas tinggi pada pasar saham.
Selanjutnya, situasi ini berisiko memperparah aksi jual bersih atau net sell oleh para investor global. Pelaku pasar cenderung mengamankan aset mereka ke instrumen berbasis dollar AS untuk menghindari risiko kerugian nilai tukar.
Selain itu, Nafan menegaskan bahwa koreksi pada indeks saham domestik ini kemungkinan besar bersifat jangka pendek. Namun, potensi arus keluar dana asing (capital outflow) tetap perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Faktor Geopolitik dan Repatriasi Dividen Jadi Pemicu Utama
Di sisi lain, para pengamat menilai kondisi fundamental makro ekonomi nasional sebenarnya masih relatif solid. Kejatuhan mata uang Garuda lebih mengarah pada faktor eksternal, terutama penguatan indeks dollar AS (DXY).
Lebih lanjut, ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut mendorong lonjakan permintaan terhadap mata uang Paman Sam. Ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS (The Fed) juga turut memperkeruh sentimen pasar.
Akhirnya, faktor musiman internal seperti puncak repatriasi dividen perusahaan asing ikut menguras cadangan valas domestik. Kebutuhan mata uang asing yang melonjak tinggi selama periode musim haji juga ikut memperberat pergerakan rupiah.