Education
Nekat Berenang Saat Arus Deras, Remaja 16 Tahun Ditemukan Tewas
Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com sebuah tragedi menimpa seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun berinisial MFA, yang tewas setelah hanyut terbawa arus deras di Kali Mampang, Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Peristiwa nahas ini terjadi pada Rabu sore, 29 Oktober 2025, sekitar pukul 17.00 WIB, ketika korban nekat berenang bersama temannya di tengah kondisi sungai yang sedang meluap pasca hujan.
Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian pada Senin, 3 November 2025, kondisi Kali Mampang yang cukup lebar itu memang menunjukkan aliran air yang deras, bahkan saat hujan tidak turun lebat. Situasi ini diperburuk dengan tumpukan sampah yang banyak tersangkut di tepi kali, di antara pilar bangunan dan bebatuan, menandakan bahaya yang mengintai di bawah permukaan.
Lokasi Favorit yang Berubah Jadi Duka
Titik lokasi tempat korban dan temannya memulai aksi mereka adalah sebuah jembatan yang menghubungkan Jalan Poncol 9 dan Jalan Kuningan Barat. Menurut keterangan warga sekitar, Hilman (30), area tersebut memang sudah lama dikenal sebagai tempat bermain air favorit bagi anak-anak di kawasan itu.
“Banyak (yang suka berenang). Tapi habis kejadian kemarin (hanyut), jadi pada enggak ada lagi,” ungkap Hilman.
Tragedi yang menimpa MFA sontak mengubah kebiasaan tersebut. Warga setempat kini menjadi jauh lebih waspada dan secara aktif melarang anak-anak mereka untuk bermain atau berenang di aliran kali yang terbukti berbahaya itu.
Kronologi Kejadian dan Upaya Pencarian
Peristiwa ini bermula ketika MFA dan temannya, Andika (16), memutuskan untuk melompat dari jembatan dengan tujuan berenang menyeberang hingga ke sebatang pohon kelapa di seberangnya. Wahid, seorang warga lain, menuturkan bahwa keduanya melompat bersamaan. Namun, hanya Andika yang berhasil sampai ke pohon kelapa. MFA, setelah melompat, tidak pernah muncul lagi ke permukaan.
Ironisnya, Andika mengira temannya akan segera menyusul sehingga ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Misteri hilangnya MFA baru terungkap pada malam hari ketika ia tak kunjung kembali ke rumah. Andika akhirnya menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya, yang segera berkoordinasi dengan keluarga korban dan aparat setempat (RT, RW, Lurah) untuk melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib.
Laporan resmi diterima oleh BPBD DKI Jakarta pada Kamis malam (30/10/2025). Kepala Pelaksana BPBD DKI, Isnawa Adji, mengonfirmasi bahwa korban terseret arus deras saat berenang di kali yang sedang meluap. Tim SAR gabungan, kepolisian, dan aparat kelurahan segera dikerahkan untuk melakukan penelusuran di sepanjang aliran kali.
Pencarian berakhir duka dua hari setelah kejadian. Jenazah MFA ditemukan di kanal barat sungai wilayah Kemanggisan, Jakarta Barat, dalam kondisi yang sudah membengkak dan tersangkut di dekat tumpukan sampah.
Permohonan Pilu dari Keluarga Korban
Ibu korban, Nia, mengungkapkan bahwa peristiwa yang menimpa putranya adalah kejadian pertama di kawasan tersebut. Dalam duka yang mendalam, ia menyampaikan permohonan tulus kepada pemerintah atau pihak terkait agar segera memasang papan peringatan atau poster larangan berenang.
Nia berharap adanya sanksi tegas bagi yang melanggar, agar tidak ada lagi anak-anak yang menjadikan kali tersebut sebagai tempat bermain.
“Saya sih penginnya nih, dikasih poster ya, siapa yang berenang kena sanksi gitu. Biar enggak ada yang berenang lagi di situ anak-anak. Biar cukup anak saya aja yang jadi korban pertama dan terakhir,” ujar Nia dengan pilu.