Connect with us

Education

Mitos “Paru-Paru Dunia”: Mengapa Kapasitas Tanaman Menyerap Karbon Ternyata Jauh di Bawah Ekspektasi?

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip Kompas.com Selama beberapa dekade, narasi utama dalam mitigasi perubahan iklim selalu bergantung pada satu solusi “alami”: menanam lebih banyak pohon. Asumsinya sederhana, yakni semakin banyak karbon dioksida (CO2) di atmosfer, tanaman akan tumbuh semakin subur karena CO2 adalah bahan bakar utama fotosintesis. Fenomena ini dikenal sebagai “efek pemupukan karbon” (carbon fertilization effect). Namun, penelitian terbaru yang mengejutkan ilmuwan iklim—termasuk studi yang menyoroti peran Universitas Graz, Austria—mengungkapkan bahwa asumsi tersebut terlalu optimis dan tidak sepenuhnya akurat.

Ternyata, kemampuan tanaman untuk menyerap karbon dioksida tidaklah tak terbatas. Studi tersebut menemukan bahwa model iklim yang kita gunakan selama ini telah melebih-lebihkan kapasitas penyerapan karbon oleh vegetasi bumi. Penyebab utama dari kesalahan perhitungan ini berakar pada satu faktor krusial yang sering luput dari perhatian: ketersediaan nitrogen.

Meskipun CO2 melimpah di udara, tanaman tidak bisa tumbuh hanya dengan karbon. Mereka membutuhkan nitrogen sebagai nutrisi pendamping untuk membangun enzim dan protein yang diperlukan dalam proses fotosintesis. Masalahnya, ketersediaan nitrogen di alam bersifat terbatas. Ketika tanaman dibanjiri oleh CO2 tetapi kekurangan nitrogen, mereka tidak dapat memanfaatkan karbon tersebut untuk pertumbuhan maksimal. Akibatnya, laju penyerapan karbon melambat drastis, jauh di bawah prediksi model-model iklim sebelumnya yang mengasumsikan nitrogen tersedia tanpa batas.

Selain faktor nutrisi, tekanan lingkungan akibat pemanasan global itu sendiri turut memperparah situasi. Di tengah suhu yang semakin panas dan kondisi kekeringan yang lebih sering terjadi, tanaman memiliki mekanisme pertahanan diri dengan menutup stomata (pori-pori daun) mereka untuk mencegah kehilangan air berlebih. Sayangnya, ketika stomata tertutup, tanaman juga berhenti menyerap CO2 dari udara. Dalam kondisi ekstrem, alih-alih menyerap karbon, tanaman yang stres justru dapat melepaskan kembali CO2 melalui proses respirasi yang meningkat.

Temuan ini membawa implikasi yang sangat serius bagi kebijakan iklim global. Kita tidak lagi bisa sekadar mengandalkan penanaman pohon atau hutan sebagai “penyelamat tunggal” untuk membersihkan emisi yang kita hasilkan. Hutan memang penting, namun mereka bukanlah penyedot debu raksasa yang bisa bekerja tanpa henti. Realitas ini menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar yang paling efektif adalah mengurangi emisi karbon dari sumbernya—seperti bahan bakar fosil—secara drastis dan segera, karena alam ternyata memiliki batas toleransi yang lebih rendah daripada yang kita duga.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *