Lifestyle
Mitos 8 Jam: Mengapa Kualitas Lebih Penting daripada Kuantitas?

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Selama bertahun-tahun, kita telah didoktrin dengan sebuah “aturan emas” kesehatan: manusia wajib tidur selama 8 jam setiap malam. Namun, menurut pakar dan pelatih tidur profesional, aturan ini sebenarnya merupakan sebuah salah kaprah yang justru bisa memicu kecemasan.
1. Angka 8 Jam Hanyalah Rata-rata, Bukan Aturan Mutlak
Pelatih tidur menekankan bahwa angka “8 jam” sebenarnya diambil dari rata-rata kebutuhan tidur populasi umum. Namun, kebutuhan biologis setiap individu sangatlah unik. Ada orang yang merasa bugar hanya dengan 6-7 jam tidur, sementara yang lain mungkin membutuhkan hingga 9 jam. Masalah terbesar muncul ketika seseorang terobsesi dengan angka ini. Ketika Anda terbangun di malam hari dan menyadari Anda belum tidur 8 jam, Anda mulai panik. Kepanikan ini memicu hormon stres (kortisol) yang justru membuat Anda semakin sulit untuk kembali tidur. Kondisi ini sering disebut sebagai orthosomnia—kecemasan berlebihan karena ingin tidur sempurna.

2. Berpikir dalam “Siklus”, Bukan “Jam”Alih-alih menghitung total jam (linear), pelatih tidur menyarankan kita untuk memahami tidur dalam bentuk siklus 90 menit. Secara biologis, otak manusia melewati tahapan tidur (dari tidur ringan, deep sleep, hingga REM) yang memakan waktu sekitar 90 menit per putaran. Jika Anda tidur 8 jam penuh, Anda mungkin akan terbangun di tengah-tengah siklus (fase deep sleep), yang menyebabkan rasa pening atau “grogi” saat bangun (inersia tidur). Sebaliknya, bangun setelah 5 siklus penuh (5 x 90 menit = 7,5 jam) atau bahkan 4 siklus (6 jam) sering kali membuat tubuh terasa lebih segar karena Anda bangun di akhir siklus saat otak sudah mendekati kesadaran.
3. Target Mingguan, Bukan Harian
Salah satu poin paling menarik dari artikel tersebut adalah perubahan pola pikir dari target harian ke target mingguan. Pelatih tidur menyarankan untuk melihat tidur sebagai akumulasi mingguan. Idealnya, seseorang mungkin menargetkan sekitar 35 siklus tidur per minggu (rata-rata 5 siklus per hari).Jika malam ini Anda begadang dan hanya mendapat 4 siklus, jangan panik. Anda tidak “rusak”.Anda cukup membayarnya di malam berikutnya atau dengan mengambil istirahat sejenak (power nap) di siang hari untuk mengejar ketertinggalan siklus mingguan Anda.Pendekatan ini jauh lebih fleksibel dan manusiawi. Ini membebaskan kita dari rasa bersalah saat harus lembur atau ingin menikmati waktu bersosialisasi hingga larut malam sesekali.

4. Konsistensi Waktu Bangun adalah Kunci
Saran terakhir yang sangat krusial adalah tentang ritme sirkadian. Pelatih tidur menegaskan bahwa waktu bangun (wake-up time) jauh lebih penting untuk didisiplinkan daripada waktu tidur. Tubuh kita menyukai rutinitas. Dengan menetapkan waktu bangun yang sama setiap hari (bahkan di akhir pekan), jam biologis tubuh akan secara alami mengatur kapan Anda mulai merasa mengantuk di malam hari, biasanya sekitar 5 siklus (7,5 jam) sebelum alarm Anda berbunyi. Tidur berkualitas bukan tentang mematung di kasur selama 8 jam, melainkan tentang memahami ritme biologis tubuh (siklus 90 menit), menjaga konsistensi waktu bangun, dan menghilangkan stres atau tekanan untuk harus “tidur sempurna” setiap malam.







