International
Misteri di Balik Megaproyek Gedung Putih: Antara Ballroom Mewah dan Bunker Kiamat
Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Sejak bulan Oktober 2025, kediaman resmi Presiden Amerika Serikat, Gedung Putih, tengah berada dalam fase renovasi besar-besaran. Proyek ini awalnya diperkenalkan sebagai ambisi Presiden Donald Trump untuk mendirikan sebuah grand ballroom yang megah di bagian sayap kiri bangunan bersejarah tersebut. Narasi resmi menyebutkan bahwa fasilitas ini diperlukan untuk mengakomodasi jamuan kenegaraan berskala besar yang selama ini dianggap kurang memadai. Namun, seiring berjalannya waktu, proyek ini memicu gelombang spekulasi dan skeptisisme publik. Banyak pihak meyakini bahwa pembangunan ruang pesta tersebut hanyalah sebuah “topeng” atau kedok untuk menutupi tujuan strategis yang jauh lebih serius: pembangunan ulang bunker pertahanan canggih di bawah tanah.
Indikasi Modernisasi Benteng Bawah Tanah, Laporan terbaru dari CNN pada Selasa, 20 Januari 2026, memperkuat dugaan bahwa fokus utama renovasi sebenarnya terletak di perut bumi, tepatnya di bawah Sayap Timur (East Wing). Di lokasi ini, terdapat Pusat Operasi Darurat Kepresidenan atau Presidential Emergency Operations Center (PEOC), sebuah fasilitas legendaris yang dirancang untuk melindungi pemimpin negara saat keamanan nasional berada di titik kritis. Sejarah mencatat bahwa bunker ini pertama kali dibangun atas perintah Presiden Franklin D. Roosevelt pada tahun 1941. Pemicunya adalah serangan mendadak Jepang ke Pearl Harbor yang menyeret AS ke dalam Perang Dunia II, sehingga mendesak adanya ruang perlindungan anti-bom bagi presiden.
Puluhan tahun kemudian, bunker ini kembali menjadi sorotan saat Wakil Presiden Dick Cheney dan sejumlah pejabat tinggi dievakuasi ke dalamnya selama serangan teror 11 September 2001 (9/11). Namun, fasilitas yang kini berusia lebih dari 80 tahun tersebut dianggap sudah tidak relevan lagi untuk menghadapi ancaman perang modern. Analis meyakini bahwa proyek renovasi saat ini bertujuan merombak total struktur bunker agar mampu menahan gempuran senjata berteknologi tinggi masa kini, yang jauh lebih destruktif dibandingkan ancaman di era Perang Dunia II. Pengakuan Tersirat dan Dalih Keamanan Nasional, Kecurigaan publik semakin menguat akibat sikap tertutup pihak Gedung Putih. Meski rincian proyek bunker tidak pernah diungkap secara gamblang, Joshua Fisher, Direktur Manajemen dan Administrasi Gedung Putih, sempat memberikan pernyataan yang ambigu.
Ia menyebutkan bahwa renovasi tersebut tidak hanya soal estetika, melainkan untuk menciptakan infrastruktur yang tangguh demi keberlangsungan misi negara. Ketika didesak lebih jauh mengenai renovasi di sayap kiri, Fisher mengakui adanya elemen pekerjaan yang bersifat “sangat rahasia” (classified) yang sedang berlangsung di bawah permukaan tanah. Pernyataan ini menjadi indikasi kuat bahwa ada proyek militer atau pertahanan yang berjalan beriringan dengan pembangunan fisik di atas tanah. Bahkan, urgensi proyek ini terlihat jelas dalam sebuah sengketa hukum baru-baru ini. Saat menghadapi gugatan yang meminta penghentian sementara renovasi sayap timur, tim hukum Gedung Putih menggunakan argumen pamungkas: mereka mengklaim bahwa menunda proyek tersebut akan membahayakan keamanan nasional Amerika Serikat.
Argumen ini tentu terdengar berlebihan jika proyek yang dimaksud hanyalah sebuah ruang pesta atau ballroom, sehingga semakin meyakinkan publik bahwa yang sedang dipertaruhkan adalah kesiapan infrastruktur pertahanan nuklir atau komando perang. Berdasarkan bocoran informasi, bunker yang sedang diperbarui ini didesain menyerupai benteng yang tak tertembus. Akses masuknya tersembunyi di Sayap Timur, melewati pintu baja super tebal yang mekanismenya menyerupai brankas bank raksasa. Di dalamnya, fasilitas ini dirancang untuk kelangsungan hidup jangka panjang, dilengkapi dengan stok makanan, air, tempat tidur, serta sistem komunikasi canggih yang anti-sadap dan anti-retas. Selain itu, rumor yang beredar menyebutkan adanya jalur evakuasi rahasia yang memungkinkan presiden melarikan diri dari Gedung Putih ke lokasi aman lainnya tanpa terdeteksi.
Jonathan Wackrow, mantan agen Secret Service, menegaskan bahwa PEOC adalah ruang komando eksklusif untuk situasi darurat ekstrem, bukan tempat yang bisa diakses sembarang orang. Kontroversi proyek ini memuncak ketika menyoal biaya. Anggaran renovasi dilaporkan membengkak secara drastis, naik dua kali lipat dari estimasi awal sebesar US$ 200 juta (sekitar Rp 3,3 triliun) menjadi US$ 400 juta (sekitar Rp 6,7 triliun). Para ajudan Trump bersikeras bahwa kenaikan biaya ini wajar demi membangun infrastruktur permanen untuk acara kenegaraan. Namun, para kritikus menilai angka fantastis tersebut tidak masuk akal jika hanya dialokasikan untuk sebuah ballroom. Selisih biaya yang sangat besar tersebut diyakini mengalir deras ke bawah tanah, membiayai teknologi pertahanan mutakhir untuk menyulap bunker tua menjadi benteng pertahanan abad ke-21 yang tak tergoyahkan.