Education
Menyingkap Keagungan Sidratul Muntaha: Eksplorasi Visual dan Spiritual dalam Tafsir Ibnu Katsir
Semarang (usmnews) – Dikutip dari SINDOnews, Dalam tradisi Islam, peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah pencapaian spiritual tertinggi bagi Nabi Muhammad SAW. Salah satu entitas paling megah yang ditemui oleh Rasulullah dalam perjalanan tersebut adalah Sidratul Muntaha.
Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir dalam karya tafsirnya yang masyhur, Sidratul Muntaha digambarkan sebagai sebuah pohon besar yang melambangkan batas akhir bagi segala pengetahuan makhluk, baik malaikat maupun manusia.
Makna di Balik Nama “Muntaha”
Istilah “Sidrah” merujuk pada pohon bidara, namun “Muntaha” memiliki arti “puncak” atau “tempat berakhir”. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dinamakan demikian karena segala urusan yang naik dari bumi akan berhenti di sana, begitu pula segala rahmat dan perintah yang turun dari atas akan sampai di titik tersebut sebelum diteruskan. Tempat ini merupakan batas di mana ilmu pengetahuan para malaikat dan nabi pun terhenti; tidak ada yang bisa melampauinya kecuali atas izin dan kehendak Allah SWT, sebagaimana dialami oleh Nabi Muhammad SAW.
Deskripsi Fisik yang Luar Biasa
Ibnu Katsir mengutip berbagai riwayat hadis untuk menggambarkan kemegahan pohon ini. Sidratul Muntaha terletak di atas langit ketujuh, tepat di sebelah kanan Arasy. Gambaran visual yang diberikan sangatlah unik:
- Dedaunannya: Digambarkan sangat lebar, menyerupai telinga-telinga gajah (adhanul falah). Hal ini mencerminkan betapa masifnya pohon tersebut sehingga satu helai daunnya saja bisa menaungi umat manusia.
- Buahnya: Ukuran buahnya diibaratkan sebesar tempayan atau kendi besar dari daerah Hajar (qilal Hajar). Deskripsi ini menunjukkan keagungan ciptaan Allah yang berada di luar logika dimensi bumi.
- Akar dan Sungai: Dari pangkal pohon ini, Ibnu Katsir menyebutkan adanya empat aliran sungai. Dua sungai bersifat batin (tersembunyi di surga), dan dua sungai bersifat lahir (tampak di bumi, yakni Sungai Nil dan Sungai Eufrat). Hal ini melambangkan keberkahan yang mengalir dari langit menuju bumi.
Keindahan yang Melampaui Kata-Kata
Satu elemen penting dalam tafsir Ibnu Katsir adalah deskripsi saat pohon tersebut “diliputi” oleh sesuatu. Sebagaimana termaktub dalam Surah An-Najm ayat 16, pohon ini ditutupi oleh cahaya-cahaya yang luar biasa indah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pohon tersebut diliputi oleh semacam kupu-kupu atau ngengat emas, serta dihiasi oleh berbagai warna yang tidak sanggup digambarkan oleh lisan manusia manapun karena saking indahnya.
Kehadiran cahaya dan warna-warna yang berubah-ubah ini menandakan keagungan Allah yang menyelimuti tempat tersebut. Di sinilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu, di sebuah tempat yang berada di dekat Jannatul Ma’wa (Surga Tempat Tinggal).
Kesimpulan Spiritual
Bagi Ibnu Katsir, Sidratul Muntaha adalah bukti nyata kekuasaan Allah yang tak terbatas. Pohon ini bukan sekadar vegetasi surgawi, melainkan penanda batas antara alam ciptaan yang bisa dipahami dan rahasia ketuhanan yang absolut. Penggambaran detail mengenai bentuk dan keindahannya berfungsi untuk menanamkan rasa takzim dan kekaguman bagi setiap mukmin terhadap perjalanan suci Rasulullah.