Education
Menyikapi Keberagaman Awal Ramadan 2026: Pesan Persatuan dari Menteri Agama

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Menjelang tibanya bulan suci Ramadan 1447 H, atmosfer diskusi mengenai kapan tepatnya ibadah puasa dimulai kembali menghangat di tengah masyarakat Indonesia. Fenomena perbedaan penentuan tanggal ini memang bukan barang baru, namun pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) merasa perlu untuk kembali memberikan koridor pemikiran yang sehat agar perbedaan tersebut tidak memicu gesekan sosial yang tidak perlu.
Menteri Agama menekankan bahwa variasi dalam memulai ibadah puasa merupakan hal yang lumrah dan seharusnya dipandang sebagai kekayaan ijtihad (usaha sungguh-sungguh ulama) dalam khazanah Islam, bukan sebagai tanda perpecahan.
Esensi Pesan Menteri Agama

Dalam keterangannya, Menteri Agama (Menag) memberikan beberapa poin krusial sebagai pedoman bagi umat Muslim di Indonesia:
- Hindari Stigma Negatif: Menag mengimbau dengan sangat agar masyarakat tidak memberi label negatif atau menganggap salah satu pihak “kurang tepat” hanya karena perbedaan metode. Perbedaan tanggal 1 Ramadan harus dilihat sebagai bentuk kebebasan berkeyakinan dan berpendapat dalam bingkai akademis agama.
- Fokus pada Substansi Ibadah: Dibandingkan menghabiskan energi untuk memperdebatkan selisih 24 jam di awal bulan, Menag mengajak umat untuk lebih fokus mempersiapkan diri secara spiritual. Esensi Ramadan adalah penyucian diri, peningkatan empati, dan pengabdian kepada Tuhan, yang mana tujuan ini tetap sama bagi siapa pun, terlepas dari hari apa mereka memulainya.
- Mengedepankan Ukhuwah (Persaudaraan): Di tengah kemajemukan ini, menjaga Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dan Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa) jauh lebih sakral daripada memaksakan penyeragaman tanggal.
Dibalik Perbedaan Metode: Hisab dan Rukyat

Perbedaan ini biasanya berakar pada dua metode besar yang digunakan di Indonesia:
- Metode Hisab: Digunakan oleh organisasi seperti Muhammadiyah yang mengandalkan perhitungan astronomis yang presisi untuk menentukan posisi hilal tanpa harus melihatnya secara langsung.
- Metode Rukyatul Hilal: Yang dijalankan oleh pemerintah melalui Sidang Isbat, yang mengharuskan adanya observasi fisik (melihat langsung) hilal sebagai verifikasi atas perhitungan yang ada.
Menag menjelaskan bahwa kedua metode ini memiliki dasar hukum yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan memiliki kedewasaan berpikir untuk menerima bahwa hasil yang berbeda adalah konsekuensi logis dari metode yang berbeda pula.
Harapan untuk Masyarakat
Pemerintah berharap agar Ramadan tahun 2026 ini tetap menjadi momen yang sejuk. Toleransi antarumat yang memulai puasa di hari Rabu maupun Kamis harus dijunjung tinggi. Dengan sikap saling menghormati, perbedaan ini justru menjadi bukti betapa dinamis dan indahnya praktik keagamaan di Indonesia yang demokratis.
Keharmonisan dalam perbedaan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi dunia internasional bahwa Indonesia mampu mengelola keberagaman di dalam tubuh umat Islam sendiri dengan sangat bijaksana.







