Anak-anak

Menyembuhkan Luka Batin: Urgensi Pendampingan Psikologis bagi Anak-Anak Korban Bencana Sumatera

Published

on

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com Di balik genangan banjir dan sisa-sisa longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun 2025, terdapat krisis kemanusiaan yang tak kasat mata namun sangat krusial: trauma psikologis pada anak-anak. Menyadari hal ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bergerak cepat mengerahkan tim khusus untuk memberikan layanan trauma healing atau pemulihan emosional bagi anak-anak yang kini bertahan di pengungsian.

Pendekatan Holistik Kemendukbangga

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan logistik semata. Setelah kebutuhan primer seperti makanan, pakaian, dan tempat berteduh terpenuhi, prioritas selanjutnya adalah kesehatan mental para penyintas, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.

Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta Selatan pada Rabu (10/12/2025), Wihaji menjelaskan strategi intervensi yang dilakukan kementeriannya. “Setelah kebutuhan primernya itu terpenuhi, sekarang butuh namanya trauma healing, itu yang sudah kami kerjakan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tim yang diterjunkan terdiri dari para pendamping keluarga yang sudah terlatih, bekerja sama dengan psikolog profesional serta relawan dari Generasi Berencana (Genre). Kolaborasi ini bertujuan memastikan bahwa pendekatan yang dilakukan tepat sasaran dan sensitif terhadap kondisi psikis anak-anak yang masih terguncang.

Metode Pemulihan yang Humanis

Proses pemulihan trauma ini dilakukan dengan sangat hati-hati di berbagai titik pengungsian yang tersebar di tiga provinsi terdampak. Tim pendamping menggunakan metode yang humanis dan partisipatif untuk mengembalikan keceriaan anak-anak. Kehadiran psikolog dan relawan bertujuan untuk memberikan “semangat baru” bagi mereka yang mungkin kehilangan rumah, barang-barang kesayangan, atau bahkan terpisah dari kerabat akibat banjir bandang yang terjadi sejak akhir November lalu.

Kegiatan ini menjadi sangat vital mengingat skala bencana yang cukup besar. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka korban yang memprihatinkan: 969 jiwa meninggal dunia, 252 orang masih dinyatakan hilang, dan sekitar 5.000 orang mengalami luka-luka. Di tengah statistik yang kelam ini, anak-anak adalah pihak yang paling rentan mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD) jika perasaan takut dan cemas mereka tidak segera divalidasi dan ditangani.

Konteks Lingkungan dan Penegakan Hukum

Sementara upaya pemulihan sosial berjalan, aspek penyebab bencana juga terus didalami. Banjir bandang ini diduga kuat berkaitan dengan kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan yang masif. Pihak kepolisian, melalui Bareskrim Polri, saat ini tengah melakukan penyelidikan intensif di sekitar Desa Garoga, Tapanuli Selatan, dengan mengambil sampel kayu gelondongan untuk melacak asal-usul kerusakan hutan tersebut.

Namun, bagi anak-anak di pengungsian, isu lingkungan dan hukum adalah hal yang jauh dari jangkauan pemikiran mereka. Yang mereka butuhkan saat ini adalah rasa aman dan kepastian bahwa mereka tidak sendirian. Melalui program trauma healing yang digagas Kemendukbangga ini, negara hadir tidak hanya untuk membangun kembali infrastruktur fisik, tetapi juga untuk merawat masa depan bangsa dengan memulihkan senyum dan harapan anak-anak Sumatera.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version