Lifestyle
Mengurai Penghambat Keberkahan: Lima Kebiasaan yang Menutup Pintu Rezeki dalam Perspektif Islam
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Sering kali seseorang merasa telah mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk bekerja, namun hasil yang didapatkan terasa stagnan atau cepat habis tanpa bekas. Dalam ajaran Islam, fenomena ini berkaitan erat dengan konsep keberkahan (barakah). Rezeki tidak hanya diukur dari angka nominal di rekening bank, melainkan dari nilai manfaat dan ketenangan yang dihasilkan dari harta tersebut. Berdasarkan ulasan dari Islamic Finance Guru (IFG) yang dimuat dalam artikel tersebut, terdapat beberapa kebiasaan buruk dalam pengelolaan keuangan yang justru dapat menjauhkan kita dari pintu rezeki.
1. Terjebak dalam Harta Haram dan Syubhat
Aspek paling fundamental dalam mencari nafkah adalah memastikan sumbernya suci. Mengonsumsi harta yang didapatkan dari jalan haram—seperti mencuri, menipu, atau korupsi—menjadi penghalang utama doa-doa dikabulkan. Selain harta haram, hal-hal yang bersifat syubhat atau samar (belum jelas halal-haramnya) juga harus diwaspadai. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa seseorang yang makanan dan pakaiannya berasal dari sumber haram, maka permohonannya kepada Allah akan sulit diijabah. Oleh karena itu, integritas dalam mencari nafkah menjadi syarat mutlak agar harta yang dimiliki membawa kebaikan bagi pemiliknya.
2. Melalaikan Kewajiban Zakat
Zakat bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan instrumen penyucian harta. Secara filosofis, kata zakat memiliki arti “tumbuh” dan “bersuci”. Dengan mengeluarkan sebagian hak orang lain dalam harta kita, sebenarnya kita sedang merawat harta tersebut agar tumbuh dengan sehat. Sebaliknya, menahan harta yang seharusnya dizakatkan justru akan merusak nilai harta lainnya. Dalam pandangan spiritual, harta yang tidak dizakati berisiko menjadi sumber malapetaka baik di dunia maupun di akhirat. Menunaikan zakat setiap tahun adalah bentuk ketaatan yang secara paradoks justru akan menambah kelapangan rezeki.
3. Keterlibatan dalam Praktik Riba
Islam memberikan peringatan keras terhadap praktik riba atau pengambilan bunga dalam transaksi utang-piutang. Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan ancaman bagi mereka yang terlibat riba, bahkan mengategorikannya sebagai tindakan yang menghilangkan keberkahan ekonomi secara sistemik. Praktik bunga diyakini dapat menciptakan ketimpangan dan mengecilkan pintu rezeki yang sebenarnya bisa datang dari jalur perdagangan yang sehat. Bagi umat Islam yang terlanjur mendapatkan bunga dari sistem perbankan konvensional, sangat disarankan untuk “membersihkan” harta tersebut dengan menyalurkannya ke fasilitas publik atau amal sosial tanpa mengharapkan pahala sedekah.
4. Pola Hidup Boros dan Berlebihan
Kebiasaan konsumtif yang melampaui kebutuhan nyata merupakan salah satu bentuk perilaku yang tidak disukai Allah SWT. Sifat mubazir atau pemborosan sering kali membuat harta sebanyak apa pun terasa selalu kurang. Islam mengajarkan pola hidup moderat atau pertengahan (wasathiyah). Allah menegaskan dalam surat Al-A’raf bahwa Dia tidak menyukai hamba-Nya yang berlebihan. Dengan mengontrol pengeluaran dan menjauhi gaya hidup pamer, seseorang akan lebih mampu merasakan kecukupan, yang merupakan inti dari rezeki yang berkah.
5. Ketidakjujuran dan Kelalaian dalam Kewajiban Finansial
Integritas dalam berbisnis dan bertransaksi sangat menentukan keberlangsungan rezeki. Kebiasaan menunda pembayaran utang padahal mampu, mengingkari janji keuangan, atau menyembunyikan cacat pada barang yang dijual akan menghapus keberkahan dari transaksi tersebut. Kejujuran dan keterbukaan antara pihak-pihak yang bertransaksi merupakan magnet bagi datangnya kemudahan finansial. Sebaliknya, sekali saja integritas ternoda demi keuntungan sesaat, maka pintu keberkahan jangka panjang dapat tertutup.
Penutup: Membuka Kembali Pintu Keberkahan
Meskipun kebiasaan-kebiasaan di atas dapat membuat rezeki terasa sempit, Islam selalu menyediakan jalan untuk kembali. Pintu tobat senantiasa terbuka bagi mereka yang ingin memperbaiki tata kelola keuangannya. Dengan mengoreksi sumber penghasilan, membersihkan harta melalui zakat, serta menjaga kejujuran, setiap Muslim berpeluang besar untuk mendapatkan rezeki yang tidak hanya melimpah secara jumlah, tetapi juga membawa ketenangan batin dan kebermanfaatan yang luas.