Sports
Mengukir Sejarah: 5 Fakta Dominasi Portugal U-17 di Piala Dunia 2025

Semarang (usmnews) – Dikutip CNN Indonesia Tim nasional Portugal U-17 berhasil mengukir prestasi gemilang dengan menjuarai Piala Dunia U-17 edisi tahun 2025. Dalam laga final yang mempertemukan mereka dengan Austria, Portugal menunjukkan mental juara dengan memenangkan pertandingan melalui skor tipis 1-0. Gol tunggal yang menjadi penentu sejarah tersebut dicetak oleh Anisio Cabral. Kemenangan ini tidak hanya sekadar penambahan trofi, tetapi juga menjadi penanda capaian bersejarah yang disertai dengan serangkaian fakta menarik yang menyoroti keberhasilan program pembinaan pemain muda di negara tersebut.
1. Mahkota Juara Dunia untuk Kali Pertama dalam Sejarah Gelar juara Piala Dunia U-17 tahun 2025 ini merupakan yang pertama bagi Portugal di kategori usia ini. Pencapaian ini menjadi penutup dari penantian panjang Portugal di panggung sepak bola junior dunia. Sebelumnya, rekor terbaik yang pernah dicatatkan oleh generasi muda Portugal di Piala Dunia U-17 hanyalah meraih peringkat ketiga pada edisi tahun 1989. Dengan menembus batas capaian lama dan meraih gelar juara, Portugal kini secara resmi mengukuhkan diri sebagai kekuatan dominan di level junior global. Keberhasilan ini melambangkan hasil dari investasi jangka panjang dan fokus pada pengembangan bakat muda yang matang.
2. Mengawinkan Gelar Kontinental dan Dunia: Bukti Regenerasi Sukses Kemenangan ini terasa lebih spesial karena Portugal U-17 berhasil mengawinkan gelar juara Piala Dunia U-17 dengan trofi Piala Eropa U-17 di tahun yang sama. Pencapaian “kawin gelar” ini merupakan cerminan nyata dari suksesnya regenerasi sepak bola di Portugal. Kemampuan untuk mendominasi dua turnamen besar, baik di tingkat regional Eropa maupun global, menunjukkan kedalaman skuat yang superior serta konsistensi performa di bawah asuhan pelatih. Prestasi ganda ini menjadi sinyal positif bahwa fondasi masa depan tim nasional senior Portugal berada di jalur yang sangat menjanjikan.
3. Dominasi Penghargaan Individual yang Menonjol Selain sukses kolektif, para pemain Portugal juga meraih berbagai penghargaan individu. Meskipun gelar top skor jatuh ke tangan Johannes Moser dari Austria, penyerang Portugal, Anisio Cabral, berhasil finis di posisi kedua daftar pencetak gol terbanyak dengan torehan mengesankan, yakni tujuh gol. Tidak hanya itu, kualitas bintang muda Portugal diakui secara luas. Gelandang Mateus Mide dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen (Golden Ball), sementara palang pintu terakhir mereka, Romario Cunha, dianugerahi gelar kiper terbaik (Golden Glove). Dominasi dalam penghargaan ini menunjukkan bahwa Portugal memiliki talenta luar biasa yang merata di hampir setiap lini permainan.

4. Pertahanan yang Sangat Kokoh di Fase Gugur Salah satu faktor kunci keberhasilan Portugal adalah solidnya lini pertahanan mereka, terutama di fase-fase krusial turnamen. Portugal mencatatkan rekor impresif dengan tidak pernah kebobolan satu gol pun sejak babak 16 besar hingga pertandingan final. Rangkaian clean sheets yang panjang ini menjadi bukti nyata dari disiplin taktis dan organisasi pertahanan yang sangat baik. Secara total, selama gelaran Piala Dunia U-17 2025, gawang tim Portugal hanya kemasukan empat gol. Catatan defensif yang fantastis ini menunjukkan betapa sulitnya tim lawan untuk menciptakan peluang emas dan menembus barisan pertahanan mereka di momen-momen penentuan.
5. Satu-satunya Kekalahan yang Datang dari Jepang Meskipun mengakhiri turnamen sebagai juara, perjalanan Portugal tidak sepenuhnya mulus. Terdapat satu-satunya noda kekalahan yang mereka derita, yakni saat berhadapan dengan wakil Asia, Jepang, di fase grup dengan skor akhir 1-2. Kekalahan ini menjadi pengecualian dalam rekor kemenangan beruntun mereka yang mengesankan. Menariknya, meskipun Jepang berhasil mengalahkan sang juara, langkah mereka harus terhenti di babak perempat final setelah dikalahkan oleh Austria. Kekalahan tunggal ini membuktikan ketahanan mental skuat Portugal, yang mampu mengambil pelajaran berharga dari kegagalan awal dan meningkatkan performa secara drastis di babak-babak eliminasi, mengubah kekalahan tersebut menjadi motivasi untuk meraih gelar tertinggi.







