Lifestyle
Menguak Hambatan Struktural: Studi Terbaru Tunjukkan Mengapa Kekayaan Begitu Sulit Dicapai

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Seringkali, ketidakmampuan seseorang untuk mengakumulasi kekayaan dikaitkan dengan kebiasaan pribadi yang buruk, seperti gaya hidup boros atau kurangnya disiplin menabung. Namun, sebuah laporan studi terbaru yang diulas oleh CNBC Indonesia pada 5 Februari 2026 membuka mata kita pada faktor fundamental yang jauh lebih besar dan sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Studi yang dilakukan oleh analis dari Goldman Sachs ini menyoroti bahwa hambatan utama dalam membangun kekayaan jangka panjang bukanlah sekadar masalah pengeluaran harian, melainkan korelasi erat antara harga properti dan kualitas fasilitas publik, khususnya sekolah.
Jebakan “Kualitas Sekolah” dan Harga Properti

Inti dari temuan Goldman Sachs ini mengungkapkan sebuah realitas pahit di pasar properti. Analisis tersebut membandingkan tingkat kepemilikan rumah di berbagai wilayah (tingkat county) dengan kualitas sekolah negeri setempat. Kualitas sekolah ini diukur berdasarkan selisih nilai rata-rata tes lokal dibandingkan dengan rata-rata nasional.
Hasilnya menunjukkan pola yang sangat konsisten: semakin tinggi kualitas sekolah di suatu wilayah, semakin mahal pula harga properti di sekitarnya. Hal ini menciptakan sebuah paradoks bagi keluarga kelas menengah ke bawah. Di satu sisi, mereka ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka sebagai sarana mobilitas sosial. Namun, di sisi lain, “tiket masuk” untuk akses pendidikan tersebut—yakni membeli rumah di zonasi sekolah unggulan—dipatok dengan harga yang sering kali tidak terjangkau.
Mengapa Ini Menghambat Kekayaan?
Para analis Goldman Sachs menegaskan bahwa mahalnya harga rumah di kawasan elit bukan sekadar masalah tingginya biaya hidup saat ini. Lebih jauh dari itu, hal ini menjadi tembok penghalang bagi pembentukan kekayaan antargenerasi. Ketika keluarga tidak mampu membeli rumah di daerah yang strategis, mereka kehilangan akses ganda: akses terhadap pendidikan berkualitas yang bisa mengangkat derajat ekonomi anak-anak mereka di masa depan, serta akses terhadap peluang kerja yang lebih baik di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
Studi ini memperkuat riset tahun 2024 yang menunjukkan jurang kekayaan yang menganga antara pemilik rumah dan penyewa. Data menunjukkan bahwa pemilik rumah rata-rata memiliki kekayaan bersih hingga 40 kali lipat lebih besar dibandingkan penyewa. Kepemilikan rumah secara historis adalah mesin utama akumulasi kekayaan bagi kelas menengah, di mana nilai aset cenderung naik seiring waktu (apresiasi modal) sekaligus menjadi “tabungan paksa” melalui pembayaran hipotek.
Lingkaran Setan Sewa-Menyewa
Artikel tersebut juga menyoroti betapa sulitnya keluar dari “jebakan sewa”. Tekanan biaya sewa yang terus meningkat membuat penyewa semakin terjepit. Data tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari seperempat penyewa di Amerika Serikat harus merelakan lebih dari separuh pendapatan mereka hanya untuk membayar sewa dan utilitas.
Kondisi arus kas yang tercekik ini—di mana hanya sekitar 39% penyewa yang memiliki arus kas positif setiap bulannya—membuat upaya menabung untuk uang muka (DP) rumah menjadi hampir mustahil. Akibatnya, jutaan keluarga terjebak dalam siklus menyewa seumur hidup, di mana uang mereka habis untuk biaya konsumsi tempat tinggal tanpa pernah menjadi aset yang bisa diwariskan.

Kesimpulannya, studi ini memberikan perspektif baru bahwa “susah kaya” bukan semata-mata karena kita terlalu sering membeli kopi mahal atau gagal berhemat, melainkan karena adanya hambatan sistemik di mana akses terhadap aset pembentuk kekayaan (rumah di lingkungan baik) semakin menjauh dari jangkauan pendapatan rata-rata.







