Anak-anak
Mengenali Sinyal Awal: Studi Ungkap Indikasi Perilaku Psikopat Sejak Usia Balita
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Selama ini, istilah “psikopat” sering kali dianggap sebagai diagnosis yang hanya relevan bagi orang dewasa yang memiliki gangguan kepribadian serius. Namun, sebuah studi klinis terbaru yang dirilis oleh CNBC Indonesia menyoroti temuan mengejutkan bahwa bibit atau tanda-tanda kecenderungan psikopat ternyata sudah dapat dideteksi sejak anak berusia dua tahun. Identifikasi dini ini bukan bertujuan untuk memberikan stigma negatif pada anak, melainkan sebagai upaya intervensi sedini mungkin agar perilaku tersebut tidak berkembang menjadi gangguan kepribadian yang berbahaya di masa depan.
Para ahli psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai sifat Callous-Unemotional (CU), sebuah kondisi di mana anak menunjukkan kurangnya empati, rasa bersalah, dan kepekaan emosional terhadap orang lain. Berikut adalah lima tanda utama yang perlu diwaspadai oleh orang tua menurut studi tersebut:
1. Kurangnya Empati dan Rasa Bersalah
Anak-anak pada usia balita umumnya mulai belajar memahami perasaan orang lain. Namun, anak dengan kecenderungan psikopat sering kali tampak tidak peduli ketika melihat teman atau anggota keluarga mereka menangis atau kesakitan. Mereka juga jarang menunjukkan rasa menyesal setelah melakukan kesalahan, seperti memukul atau merebut mainan, meskipun mereka tahu tindakan tersebut dilarang.
2. Perilaku Manipulatif yang Tak Biasa
Meskipun balita sering mencari perhatian, anak dengan ciri psikopat menunjukkan pola manipulasi yang lebih terstruktur. Mereka mungkin berbohong secara terang-terangan tanpa merasa cemas atau melakukan tindakan tertentu hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa memedulikan aturan atau batasan yang telah ditetapkan oleh orang tua.
3. Ketidakpedulian terhadap Hukuman
Sebagian besar anak akan merespons atau merasa takut saat diberikan konsekuensi atau hukuman ringan (seperti time-out). Sebaliknya, anak dengan sifat CU cenderung tidak terpengaruh oleh ancaman hukuman. Fokus mereka sepenuhnya tertuju pada kepuasan atau tujuan pribadi, sehingga mekanisme pendisiplinan konvensional sering kali tidak efektif bagi mereka.
4. Agresi yang Dingin dan Terhitung
Berbeda dengan kemarahan balita (tantrum) yang biasanya meledak-ledak dan emosional, agresi pada anak dengan ciri psikopat cenderung lebih “dingin”. Mereka mungkin menyakiti orang lain atau hewan peliharaan dengan sengaja tanpa ekspresi kemarahan yang meluap, seolah-olah tindakan tersebut adalah hal yang wajar dilakukan.
5. Pesona yang Dangkal (Superficial Charm)
Dalam beberapa kasus, anak-anak ini bisa tampak sangat menawan atau berperilaku sangat manis jika mereka merasa hal itu akan menguntungkan mereka. Namun, keramahan ini biasanya bersifat transaksional dan tidak didasari oleh ikatan emosional yang tulus. Mereka menggunakan “pesona” ini sebagai alat untuk mengendalikan situasi di sekitar mereka.
Mengapa Deteksi Dini Penting?
Para peneliti menekankan bahwa kehadiran tanda-tanda di atas tidak secara otomatis berarti seorang anak akan menjadi penjahat di masa depan. Lingkungan pengasuhan memegang peranan yang sangat krusial. Anak-anak yang menunjukkan sifat Callous-Unemotional memerlukan pola asuh yang sangat spesifik, yang lebih menekankan pada pemberian reward positif daripada hukuman keras.
Hukuman yang terlalu kasar justru dapat memperburuk kondisi mereka dan memutus sisa-sisa empati yang mereka miliki. Dengan dukungan psikologis yang tepat dan pola asuh yang hangat serta konsisten, kecenderungan perilaku ini dapat diarahkan menjadi sifat yang lebih sehat secara sosial.