Lifestyle
Mengenali Berbagai Isyarat Tubuh Saat Kelebihan Asupan Gula Tambahan
Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Meskipun gula berfungsi sebagai salah satu bahan bakar utama untuk memproduksi energi bagi tubuh manusia, konsumsi yang tidak terkontrol dapat mendatangkan berbagai masalah kesehatan. Ancaman terbesar umumnya datang dari produk olahan yang kaya akan gula tambahan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau agar konsumsi gula tambahan ini tidak melebihi 10 persen dari total kalori harian kita.
Senada dengan hal tersebut, Kementerian Kesehatan RI menetapkan batas aman konsumsi gula bagi orang dewasa adalah maksimal 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan per hari. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari bahwa gula tambahan sering kali “bersembunyi” dalam makanan sehari-hari, seperti sereal, saus, camilan, dan minuman kemasan. Ketika kadarnya di dalam tubuh sudah melampaui batas, tubuh akan mulai mengirimkan sinyal peringatan berikut ini:
1. Sering Mengantuk dan Mengalami Penurunan Energi (Crash)
Mengonsumsi asupan yang manis memang bisa memberikan tambahan energi secara instan. Akan tetapi, pasokan energi ini bersifat semu dan tidak bertahan lama. Berdasarkan data kesehatan dari Healthline, asupan gula yang tinggi memicu lonjakan glukosa darah dan insulin secara mendadak. Setelah itu, kadar gula akan merosot secara drastis (sugar crash), yang memicu rasa lemas, kantuk, serta tubuh yang terasa kekurangan tenaga meskipun Anda sudah beristirahat dengan cukup.
2. Rasa Lapar yang Terus Menerus Muncul
Pernahkah Anda merasa ingin terus makan atau mengemil padahal baru saja menyelesaikan makan besar? Hal ini bisa menjadi indikator bahwa Anda terlalu banyak mengonsumsi gula. Fruktosa dalam kadar tinggi dapat mengacaukan regulasi hormon yang mengatur sinyal kenyang pada otak. Ditambah lagi, hidangan yang sarat akan gula biasanya minim kandungan serat dan protein, sehingga tidak mampu memberikan rasa kenyang yang awet.
3. Adiksi atau Kecanduan Makanan Manis
Dorongan konstan untuk selalu mencari pencuci mulut atau camilan manis merupakan indikasi bahwa tubuh telah beradaptasi dengan kadar gula tinggi. Berdasarkan penelitian dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, konsumsi gula mengaktifkan sistem penghargaan (reward system) di otak melalui pelepasan hormon dopamin. Efeknya mirip dengan zat adiktif; semakin sering Anda memanjakan lidah dengan makanan manis, semakin kuat pula sinyal otak untuk terus mengulanginya.
4. Mengalami Kabut Otak (Brain Fog) dan Susah Fokus
Tidak hanya berdampak pada fisik, kelebihan gula juga merugikan fungsi kognitif kita. Ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah yang naik-turun secara ekstrem dapat mengganggu performa otak. Akibatnya, Anda akan merasa sulit memusatkan perhatian, mudah beralih fokus, serta mengalami fenomena brain fog atau pikiran yang terasa linglung dan tidak jernih.
5. Munculnya Masalah Jerawat pada Kulit
Kondisi kulit wajah sangat dipengaruhi oleh apa yang kita konsumsi. Makanan dengan indeks glikemik tinggi atau kaya gula akan merangsang peningkatan insulin dan hormon insulin-like growth factor-1 (IGF-1). Lonjakan kedua zat ini di dalam tubuh memicu kelenjar sebum untuk menghasilkan minyak secara berlebihan sekaligus memicu inflamasi (peradangan), yang menjadi dalang utama kemunculan jerawat.
6. Perubahan Suasana Hati (Mood Swing) secara Mendadak
Fluktuasi gula darah yang tidak teratur ikut mengacaukan stabilitas emosional seseorang. Anda mungkin menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau cepat marah tanpa alasan yang jelas. Penelitian dalam jurnal Scientific Reports bahkan mengungkapkan bahwa individu yang mengonsumsi gula lebih dari 67 gram per hari memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan hingga depresi.
7. Kenaikan Berat Badan yang Signifikan
Gula tambahan menyumbang kalori dalam jumlah besar tanpa disertai nutrisi penting. Sifatnya yang mudah ditelan—terutama dalam bentuk minuman manis—membuat kita kerap mengonsumsinya secara berlebihan tanpa merasa kenyang. Akibatnya, terjadi surplus kalori yang dalam jangka panjang beralih menjadi tumpukan lemak dan memicu obesitas.