Education
Menelusuri Jejak Kemegahan Istana Siak Asserayah Al-Hasyimiyah: Ikon Sejarah yang Resmi Menjadi Museum Nasional

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari detikedu, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai penjaga warisan budaya Nusantara. Hal ini ditandai dengan penetapan resmi Istana Siak Asserayah Al-Hasyimiyah sebagai museum dan cagar budaya oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Penetapan yang didasarkan pada Nomor Pendaftaran Nasional Museum (NPNM) ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pengakuan negara atas nilai historis tinggi yang dikandung oleh istana yang menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Siak Indrapura.
Akar Sejarah dan Pembangunan Istana
Sejarah panjang Kesultanan Siak bermula pada tahun 1723 M, didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau yang dikenal sebagai Raja Kecil. Kerajaan yang awalnya berpusat di Buantan ini memiliki dinamika perpindahan ibu kota yang cukup tinggi—mulai dari Mempura, Senapelan, hingga akhirnya kembali ke wilayah Siak Sri Indrapura pada masa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaludin.
Namun, kemegahan fisik yang kita saksikan hari ini adalah buah tangan dari Sultan ke-11, yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Dibangun pada tahun 1889 saat perekonomian kerajaan sedang berada di puncaknya, istana ini menjadi simbol kemajuan hubungan diplomatik dan dagang Siak dengan dunia internasional, khususnya negara-negara Eropa seperti Jerman dan Belanda.
Akulturasi Arsitektur yang Memukau

Salah satu daya tarik utama Istana Siak adalah gaya arsitekturnya yang unik. Bangunan ini merepresentasikan akulturasi budaya Melayu, Arab, dan Eropa yang harmonis. Nuansa Eropa sangat kental terasa pada ornamen menara dan pilar-pilar bangunan, sementara sentuhan Arab hadir melalui bentuk lengkungan pintu serta ukiran kaligrafi yang indah. Di sisi lain, identitas lokal tetap dipertahankan melalui struktur atap dan tata ruang yang mengikuti pakem adat Melayu.
Kemewahan istana ini juga tercermin dari material pembangunannya. Tidak main-main, marmer lantai didatangkan langsung dari Italia, sementara keramik dan berbagai hiasan dinding diimpor dari Belanda, menciptakan interior yang tidak hanya kokoh tetapi juga artistik.
Harta Karun Koleksi Kerajaan
Kini, setelah bertransformasi menjadi museum, Istana Siak menawarkan pengalaman edukasi yang mendalam melalui koleksi benda-benda bersejarahnya. Koleksi ini menjadi bukti betapa kosmopolitannya Kesultanan Siak di masa lampau.

Salah satu artefak yang paling fenomenal adalah “Komet”, sebuah alat pemutar musik otomatis buatan Jerman tahun 1890-an. Komet ini memiliki nilai sejarah yang tak ternilai karena konon hanya tersisa dua unit di seluruh dunia: satu di Jerman dan satu lagi tersimpan rapi di Istana Siak.
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat kemewahan lain seperti:
- Meja marmer tembus pandang dari Italia.
- Cermin permaisuri yang dipercaya memiliki khasiat awet muda.
- Mangkok porselen dari Tiongkok yang dapat mendeteksi racun.
- Kursi kristal dan perabotan mewah lainnya.
Semangat Nasionalisme Sultan Siak
Di balik kemegahannya, Istana Siak juga menyimpan cerita patriotisme. Sultan Syarif Kasim II, sultan terakhir, memainkan peran krusial dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Beliau tidak hanya menyatakan integrasi Kesultanan Siak ke dalam Republik Indonesia, tetapi juga menyumbangkan mahkota kerajaan serta uang sebesar 10.000 gulden (setara ratusan juta rupiah saat ini) untuk perjuangan kemerdekaan. Atas jasa-jasanya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan dimakamkan di dekat Masjid Syahabuddin, tak jauh dari istana yang dicintainya.
Dengan status barunya sebagai museum resmi, Istana Siak Asserayah Al-Hasyimiyah diharapkan dapat terus menjadi pusat konservasi budaya Melayu sekaligus destinasi wisata sejarah yang menginspirasi generasi mendatang.







