Education
Mendikti Saintek dan Peraih Nobel Ungkap Kunci Sukses Menjadi Peneliti Kelas Dunia: Kesabaran dan Wawasan Global

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto, menyampaikan pesan krusial bagi para akademisi dan generasi muda Indonesia yang bercita-cita menembus kancah sains global. Dalam sebuah kesempatan istimewa saat menghadiri kuliah umum internasional yang diisi oleh peraih Nobel bidang Kimia, Prof. Susumu Kitagawa, Brian menekankan bahwa jalan menuju pengakuan dunia sebagai ilmuwan bukanlah lintasan yang singkat, melainkan sebuah maraton yang menuntut ketahanan mental yang luar biasa.
Berbicara di Graha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tangerang Selatan, Brian menggarisbawahi bahwa kesabaran adalah modalitas utama yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, proses penelitian ilmiah sering kali memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum membuahkan hasil yang signifikan. Ia mencontohkan bagaimana para profesor kelas dunia mendedikasikan hidup mereka untuk melakukan penelitian secara terus-menerus dan simultan. Mereka memiliki fokus yang tajam dan tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal di luar substansi keilmuan mereka. Ketekunan seperti inilah yang diharapkan Brian dapat diteladani oleh para peneliti Indonesia dari sosok seperti Prof. Kitagawa.

Selain aspek kesabaran, Brian juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam ekosistem riset modern. Ia menegaskan bahwa era “lone wolf” atau peneliti yang bekerja sendirian di laboratorium perlahan mulai ditinggalkan. Kesuksesan riset masa kini sangat bergantung pada kemampuan membangun jejaring dan kerja sama tim. Kolaborasi yang melibatkan banyak rekan kerja dengan berbagai keahlian sering kali menjadi kunci pembuka bagi terobosan-terobosan ilmiah yang berdampak besar.
Senada dengan sang Menteri, Prof. Susumu Kitagawa turut membagikan resep pribadinya kepada anak muda Indonesia. Meskipun ia merendah dengan menyebut perjalanan kariernya sebagai “kasus istimewa”, Kitagawa memberikan dua nasihat universal yang sangat relevan. Pertama, ia mendorong para calon ilmuwan untuk berani keluar dari zona nyaman dan mempelajari ragam budaya. Menurutnya, pengalaman hidup di luar negeri atau berinteraksi dengan budaya yang berbeda sangat vital untuk memperkaya perspektif. Jika seseorang hanya tumbuh dan menetap di satu lingkungan seumur hidup, cara pandangnya akan terbatas pada satu kacamata budaya saja. Sebaliknya, eksposur terhadap multikulturalisme akan mengasah ketajaman pikiran dan membuka sudut pandang baru dalam memecahkan masalah.

Nasihat kedua dari sang peraih Nobel adalah kembali pada fondasi intelektual yang paling mendasar: membaca buku. Kitagawa mengingatkan bahwa buku tetap menjadi jendela dunia yang paling efektif. Dengan rajin membaca, seorang peneliti dapat menyerap berbagai perspektif kehidupan yang mungkin tidak mereka alami secara langsung, yang pada akhirnya akan memperkaya wawasan dan kedalaman analisis mereka dalam melakukan penelitian. Kombinasi antara kesabaran, kolaborasi, wawasan lintas budaya, dan literasi yang kuat inilah yang diyakini menjadi formula ampuh untuk mencetak peneliti-peneliti Indonesia yang mampu bersaing di panggung dunia.







