Tech
Membedah Kenyamanan dan Realitas Pemilikan Nissan Grand Livina 2010 Bekas
Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com Di tengah gempuran mobil-mobil baru yang terus bermunculan, daya tarik mobil Multi-Purpose Vehicle (MPV) lawas ternyata belum sepenuhnya pudar. Salah satu primadona di pasar mobil bekas yang hingga kini masih banyak dicari adalah Nissan Grand Livina generasi awal.
Sebuah artikel terbaru mengulas pengalaman seorang pemilik bernama Wisnu, yang telah menggunakan Nissan Grand Livina Ultimate lansiran tahun 2010 selama kurang lebih tiga tahun. Kisah pemilikan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai apa yang bisa diharapkan dari mobil keluarga yang pernah sangat populer pada masanya ini.
Dari segi kelebihan, faktor utama yang membuat Grand Livina tetap relevan adalah kenyamanannya yang legendaris. Mobil ini sering kali dijuluki sebagai “MPV rasa sedan” karena bantingan suspensinya yang empuk dan kestabilannya yang mumpuni. Wisnu mengungkapkan bahwa kenyamanan ini sangat terasa ketika mobil dipacu di jalan tol dengan kecepatan tinggi; bodi mobil terasa anteng dan minim gejala limbung, sebuah karakteristik yang jarang ditemukan pada MPV sekelasnya.
Selain itu, desain eksteriornya yang timeless atau tak lekang oleh waktu menjadi nilai tambah tersendiri. Meski usianya sudah memasuki belasan tahun, tampilan Grand Livina masih terlihat manis, apalagi jika diberi sentuhan modifikasi ringan seperti penggantian velg atau penambahan body kit.
Aspek performa mesin juga menjadi sorotan positif. Meskipun merupakan mobil lawas dengan mesin 1.500 cc, Grand Livina terbukti tangguh melahap berbagai medan. Pengalaman Wisnu membawa mobil ini melintasi jalur pegunungan yang menanjak, seperti kawasan Puncak, Bogor, hingga rute mudik Wonosobo–Temanggung dengan muatan penuh, membuktikan bahwa tenaga mesinnya masih sangat dapat diandalkan.
Tidak ada kendala berarti seperti mesin yang “ngempos” atau tidak kuat menanjak. Efisiensi bahan bakar pun tergolong irit untuk ukuran mobil lawas, dengan catatan konsumsi BBM dalam kota sekitar 1:10 hingga 1:12 km/liter, dan bisa mencapai 1:15 km/liter di jalur bebas hambatan.
Namun, seperti halnya mobil bekas pada umumnya, ada beberapa kekurangan dan aspek perawatan yang perlu diperhatikan. Selama tiga tahun pemakaian, beberapa komponen “kaki-kaki” mulai meminta peremajaan. Penggantian part seperti rack steer, bushing arm, dan support shock menjadi menu perawatan yang wajar mengingat usia kendaraan. Selain itu, sistem pendinginan mesin juga sempat mengalami masalah berupa penyumbatan pada radiator yang mengharuskan penggantian unit baru.
Kabar baiknya, aspek perawatan mobil ini tergolong mudah dan tidak menyulitkan. Ketersediaan suku cadang, baik yang orisinal maupun aftermarket, sangat melimpah di pasaran. Jaringan bengkel spesialis Nissan pun tersebar luas dengan mekanik yang kompeten—sering kali merupakan mantan teknisi bengkel resmi—sehingga pemilik tidak perlu khawatir kesulitan mencari tempat servis. Biaya perawatan rutin juga relatif terjangkau, berkisar di angka Rp 750.000 untuk paket servis lengkap yang mencakup ganti oli, tune up, hingga pembersihan fuel pump.
Secara keseluruhan, pengalaman ini menegaskan bahwa Nissan Grand Livina 2010 masih menjadi opsi yang sangat masuk akal bagi mereka yang mencari mobil keluarga dengan kenyamanan di atas rata-rata namun dengan biaya kepemilikan yang ramah di kantong.