Nasional
Membangun Lebih dari Sekadar Atap: UGM Berdayakan Warga Aceh Utara Bangun 100 Huntara Mandiri

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan peran nyata pengabdian masyarakat dalam merespons bencana alam di Indonesia. Merespons dampak banjir bandang yang melanda wilayah Aceh Utara, UGM tidak hanya sekadar menyalurkan bantuan logistik, tetapi turun langsung untuk membangun kembali kehidupan warga yang terdampak. Bekerja sama dengan Rumah Zakat sebagai mitra kemanusiaan, UGM menginisiasi pembangunan 100 unit Hunian Sementara (Huntara) di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Pendekatan Pemberdayaan: Warga Sebagai Subjek UtamaPoin paling menarik dari inisiatif ini adalah metode pelaksanaannya yang mengedepankan pemberdayaan (“empowerment”). Berbeda dengan bantuan konvensional di mana korban bencana hanya menjadi penerima pasif, UGM menempatkan warga sebagai aktor utama dalam proses pemulihan.
Sebelum konstruksi dimulai, Tim Tangguh dari Fakultas Teknik UGM yang dipimpin oleh Ashar Saputra, Ph.D., memberikan pelatihan intensif mengenai keterampilan konstruksi kepada warga setempat.Pelatihan yang dilaksanakan sejak akhir Desember 2025 ini melibatkan 14 warga lokal. Tujuannya adalah mentransfer pengetahuan teknis mengenai cara membangun struktur hunian yang aman, cepat, dan efisien. Dengan bekal keterampilan ini, warga tidak hanya mampu membangun huntara mereka sendiri saat ini, tetapi juga memiliki keahlian pertukangan yang berguna untuk mata pencaharian mereka di masa depan. Huntara yang dibangun didesain secara khusus menggunakan material kayu dengan dimensi 6×6 meter. Desain ini dipilih oleh tim ahli UGM karena konstruksinya yang sederhana namun kokoh, sehingga mudah dipahami dan direplikasi oleh warga awam dalam waktu singkat.

Filosofi “gotong royong” menjadi napas utama proyek ini, di mana warga bahu-membahu mendirikan tempat tinggal mereka di bawah supervisi teknis dari UGM. Perwakilan Rumah Zakat, Ar Razi Izzatul Yazid, menyebutkan bahwa sinergi ini sangat krusial. Sementara UGM menyediakan basis keilmuan dan teknis, Rumah Zakat mendukung dari sisi pendanaan dan penyediaan fasilitas penunjang di lapangan, seperti genset untuk mengatasi keterbatasan listrik, serta penyediaan toren air bersih. Tantangan dan Harapan Pemulihan. Proses pembangunan ini bukan tanpa kendala. Kondisi lapangan pascabencana yang berlumpur, serta minimnya akses air bersih dan listrik, menjadi tantangan berat bagi tim gabungan dan warga. Namun, antusiasme warga untuk memiliki kembali tempat tinggal yang layak mengalahkan segala hambatan tersebut.

Program ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah papan (tempat tinggal) semata. Lebih jauh lagi, keberadaan huntara memberikan rasa aman, privasi, dan stabilitas psikologis bagi keluarga korban bencana. Dengan kembalinya hunian yang layak, warga dapat mulai menata kembali kehidupan sosial dan ekonomi mereka yang sempat lumpuh akibat banjir bandang. Langkah UGM ini menjadi contoh nyata bagaimana institusi pendidikan dapat menerjemahkan riset dan ilmu pengetahuan menjadi solusi praktis yang berdampak langsung bagi kemanusiaan.







