Education

Memahami Fenomena Doom Spending

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari sindonews.com Secara harfiah, Doom Spending dapat diartikan sebagai “belanja kiamat”. Istilah ini merujuk pada kebiasaan berbelanja barang-barang mewah atau pengalaman yang memberikan kesenangan instan (seperti konser, liburan, atau barang branded) sebagai bentuk pelarian dari stres finansial. Alih-alih merasa bersalah karena tidak menabung, pelaku doom spending merasa bahwa menabung pun tidak akan cukup untuk membeli aset besar seperti rumah di tengah inflasi yang gila-gilaan. Mengapa Gen Z dan Milenial Melakukannya? Banyak faktor yang melatarbelakangi pergeseran pola pikir ini, di antaranya :

Pesimisme Ekonomi: Dengan kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan pertumbuhan gaji, banyak anak muda merasa bahwa memiliki rumah adalah mimpi yang mustahil.Stres Global: Ketidakpastian politik, krisis iklim, dan bayang-bayang resesi membuat masa depan terlihat “gelap”. Belanja menjadi mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) untuk merasa bahagia “saat ini juga”. Tekanan Media Sosial: Paparan gaya hidup mewah di platform digital sering kali memicu keinginan untuk tetap relevan, meskipun secara finansial sebenarnya tidak mampu. Dampak Jangka Panjang bagi Keuangan Pribadi. Meskipun memberikan kebahagiaan sementara, doom spending membawa risiko yang nyata.

Tanpa tabungan darurat atau investasi yang dimulai sejak dini, generasi ini rentan terjerat dalam siklus utang, terutama melalui fitur “PayLater” atau kartu kredit. Para ahli keuangan memperingatkan bahwa mengabaikan perencanaan masa depan demi kenyamanan saat ini dapat menyebabkan kesulitan finansial yang lebih parah di masa tua. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan: menikmati hidup sekarang tanpa harus mengorbankan keamanan finansial di kemudian hari. Untuk mengatasi dorongan ini, artikel tersebut menyarankan beberapa langkah praktis:Kesadaran Diri (Self-Awareness): Mengenali pemicu emosional yang membuat Anda ingin belanja saat stres.Budgeting yang Fleksibel: Alokasikan dana untuk “kesenangan” tanpa menyentuh dana darurat atau tabungan inti.

Fokus pada Tujuan Kecil: Jika membeli rumah terasa terlalu jauh, mulailah dengan target yang lebih realistis agar Anda tetap merasa memiliki progres finansial.Catatan Penting: Perilaku ini mencerminkan kondisi mental masyarakat yang merasa terjebak oleh sistem ekonomi saat ini. Validasi terhadap perasaan stres itu penting, namun disiplin keuangan tetap menjadi kunci untuk bertahan hidup di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version