Education
Marlyn Ivana Trigita: Menilik Korelasi Otonomi dan Depresi Perempuan Menikah Melalui Skripsi di UGM
Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Marlyn Ivana Trigita, seorang mahasiswi dari Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), baru-baru ini menarik perhatian publik setelah berhasil menyelesaikan studi sarjananya dengan predikat sebagai salah satu lulusan tercepat. Keberhasilan Marlyn bukan sekadar tentang kecepatan waktu tempuh studi, melainkan juga kualitas risetnya yang mengangkat isu sosial yang sangat relevan dan krusial di Indonesia saat ini, yaitu kesehatan mental perempuan dalam institusi pernikahan.
Fokus Penelitian: Otonomi dan Kesehatan Mental
Dalam penelitian skripsinya yang berjudul “Peran Otonomi Pengambilan Keputusan terhadap Peluang Terjadinya Depresi pada Perempuan Menikah di Indonesia”, Marlyn mengeksplorasi bagaimana tingkat kemandirian seorang istri dalam mengambil keputusan rumah tangga berdampak pada kesejahteraan psikologisnya. Isu ini dianggap sangat penting mengingat struktur sosial di Indonesia yang masih kental dengan budaya patriarki, di mana posisi perempuan sering kali berada dalam keterbatasan ruang gerak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Salah satu temuan menarik dalam penelitiannya adalah fenomena yang disebut sebagai shadowed autonomy atau otonomi bayangan. Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana seorang perempuan menikah tampak seolah-olah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan keluarga, namun pada kenyataannya, keputusan tersebut tetap didominasi oleh pihak lain atau tidak sepenuhnya mencerminkan kehendak pribadinya. Ketidakmampuan untuk bertindak sesuai keinginan sendiri ini, menurut riset Marlyn, berpotensi besar meningkatkan risiko depresi pada perempuan.
Strategi Akademik dan Penggunaan Data Sekunder
Keberhasilan Marlyn lulus dalam waktu singkat didukung oleh strategi penelitian yang cerdas. Ia memilih untuk menggunakan data sekunder dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang kelima. IFLS merupakan survei skala besar yang sangat diakui kevalidannya. Dengan memanfaatkan data yang sudah tersedia dan terverifikasi secara nasional tersebut, Marlyn dapat menghemat waktu yang biasanya dihabiskan untuk pengumpulan data primer di lapangan tanpa sedikit pun mengurangi bobot akademik atau kualitas analisis penelitiannya.
Marlyn mengakui bahwa kurikulum di Psikologi UGM yang terstruktur dengan baik per semester sangat membantunya untuk tetap berada di jalur yang benar. Namun, ia juga menyoroti bahwa dinamika sebenarnya baru terasa ketika memasuki semester 6 dan 7, saat mahasiswa mulai dihadapkan pada pengerjaan tugas akhir. Pada titik inilah, kefokusan dan manajemen waktu menjadi kunci utama kelulusannya.
Pesan untuk Mahasiswa Lain
Meskipun menyandang gelar lulusan tercepat, Marlyn memberikan pesan yang rendah hati bagi rekan-rekan mahasiswanya. Ia menekankan bahwa kecepatan bukanlah segalanya. Baginya, yang paling utama adalah pemahaman mendalam terhadap topik yang diambil serta penguasaan metode penelitian. Ia menyarankan agar mahasiswa tidak perlu merasa tertekan untuk menjadi yang tercepat, melainkan berupaya melakukan yang terbaik sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Pencapaian Marlyn Ivana Trigita ini membuktikan bahwa dengan fokus yang tajam, keberanian mengangkat isu sosial yang bermakna, serta dukungan lingkungan akademik yang suportif, seorang mahasiswa dapat menghasilkan karya yang tidak hanya memenuhi syarat kelulusan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi literatur kesehatan mental di Indonesia. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa pendidikan tinggi adalah tentang bagaimana kita menyelesaikan apa yang telah dimulai dengan kualitas dan dedikasi penuh.