Nasional
LEBIH DARI SEKEDAR PENGHUBUNG: JEMBATAN PANDANSIMO,IKON MEGAH BARU DI LINTAS SELATAN YOGYAKARTA

Semarang (usmnews) - Dikutip dari KompasTrevel Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini memiliki sebuah ikon infrastruktur baru yang mengesankan, yaitu Jembatan Pandansimo. Jembatan ini telah resmi dibuka untuk umum dan dapat dilintasi oleh masyarakat. Dengan statusnya sebagai jembatan terpanjang di DIY, Jembatan Pandansimo memiliki total bentang yang mengagumkan, yakni mencapai 2,3 kilometer.
Lokasi jembatan ini sangat strategis, membentang kokoh di sisi utara muara Sungai Progo. Fungsi utamanya adalah menyambungkan dua kabupaten, yakni Kulon Progo dan Bantul, secara langsung melalui trase Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang vital.

Pembangunan jembatan megah ini bukanlah proyek kecil. Proyek Jembatan Pandansimo menelan biaya yang sangat besar, yakni mencapai total Rp 863 miliar. Kehadiran jembatan ini memberikan dampak signifikan terhadap konektivitas di wilayah selatan DIY. Bagi wisatawan atau masyarakat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo, perjalanan menuju destinasi wisata pantai di sisi timur, seperti Parangtritis di Bantul, kini menjadi jauh lebih efisien. Mereka dapat langsung menyusuri JJLS tanpa perlu lagi memutar jauh ke arah utara melalui Kecamatan Srandakan, yang sebelumnya menjadi rute wajib.
Namun, fungsi Jembatan Pandansimo ternyata tidak terbatas hanya sebagai urat nadi transportasi. Sejak dibuka untuk umum, jembatan ini dengan cepat bertransformasi menjadi sebuah destinasi wisata baru yang ramai dikunjungi. Fenomena ini terkonfirmasi saat kunjungan lapangan Kompas.com pada Rabu, 29 Oktober 2025. Terlihat jelas antusiasme masyarakat, banyak pengunjung yang sengaja datang. Sebagian besar dari mereka melintasi jembatan sambil mengabadikan momen, baik dengan berkendara perlahan sambil merekam video menggunakan ponsel, atau sekadar menikmati kemegahan struktur dan pemandangan sekitar.
Daya tarik utama jembatan ini tidak hanya terletak pada panjangnya, tetapi juga pada desain arsitekturalnya yang unik. Di bagian tengah jembatan, berdiri sebuah gapura monumental berbentuk gunungan wayang, yang tingginya mencapai puluhan meter dan langsung menjadi ikon utama. Selain itu, jembatan ini dirancang ramah bagi pejalan kaki dengan disediakannya jalur pedestrian di kedua sisinya, serta sebuah dek observasi di area tengah. Area ikonik gunungan wayang ini menjadi titik favorit wisatawan untuk berfoto dan menikmati pemandangan.

Meskipun demikian, pihak pengelola telah menetapkan aturan tegas: semua kendaraan dilarang keras berhenti di sepanjang bentang jembatan utama. Bagi pengunjung yang ingin berfoto atau menikmati suasana di area tengah, mereka diwajibkan memarkirkan kendaraan di kantong parkir yang tersedia di ujung jembatan, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jalur pedestrian yang aman.
Sayangnya, pantauan di lapangan menunjukkan bahwa aturan tersebut belum sepenuhnya dipatuhi. Masih ada beberapa pengendara dan bahkan pedagang yang nekat berhenti di tengah jembatan, meskipun rambu larangan berhenti telah terpasang dengan jelas.
Kabar baiknya, untuk menikmati kemegahan Jembatan Pandansimo, wisatawan tidak dikenakan biaya masuk alias gratis. Pengunjung hanya akan dikenakan tarif parkir resmi jika mereka memilih untuk memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki. Menurut Maryanto, seorang pemilik warung di sisi timur jembatan, suasana paling ramai terjadi saat malam Minggu.
Ia menambahkan bahwa lampu-lampu jembatan yang indah biasanya mulai dinyalakan sesaat setelah waktu Maghrib dan akan dipadamkan sekitar pukul 22:00 WIB.







