Nasional
Langkah Dahsyat Perbaikan RTLH Jawa Tengah di HUT ke-81: Bangkitkan Ekonomi Rakyat
Semarang (usmnews) – Program Perbaikan RTLH Jawa Tengah kini menjadi sorotan utama dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 provinsi ini. Membenahi rumah tidak layak huni (RTLH) di wilayah ini bukan lagi sekadar kegiatan rutin mengganti atap yang bocor, memperbaiki lantai tanah, atau memperkuat dinding yang rapuh. Di Jawa Tengah, keberadaan rumah yang tidak layak sering kali merupakan bagian dari rentetan persoalan struktural yang jauh lebih besar dan kompleks. Masalah ini bermula dari penghasilan keluarga yang sangat terbatas, hingga ketiadaan pekerjaan yang menentu bagi para anggota keluarganya.
BACA SELENGKAPNYA :
Karena itu, ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng menginisiasi program Perbaikan RTLH Jawa Tengah untuk ribuan rumah warga miskin, yang disentuh bukan semata-mata bangunan fisiknya saja. Memasuki usianya yang ke-81 tahun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat dan memperdalam pendekatan holistik tersebut. Intervensi terhadap fisik rumah berjalan saling berdampingan dengan berbagai upaya pemberdayaan guna memperkuat fondasi ekonomi keluarga yang menempatinya. Rumah dibuat menjadi lebih sehat, bersih, dan aman, sementara ragam persoalan lain seperti akses pendidikan, jaminan pekerjaan, hingga peluang untuk meningkatkan penghasilan ikut ditelisik dan dicarikan solusinya secara nyata.
“Kita bantu tidak hanya rumahnya. Kalau anaknya ada yang putus sekolah, kita sekolahkan. Kalau butuh pekerjaan, bantuan sosialnya juga kita dorong dan fasilitasi,” kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, saat menyalurkan bantuan rehabilitasi hunian di Desa Gondang, Sragen, pada 4 Maret 2026 lalu. Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap program sosial harus memiliki efek berganda yang bisa mengangkat derajat hidup masyarakat dari kemiskinan.
Komitmen Masif Perbaikan RTLH Jawa Tengah dalam Menekan Backlog
Komitmen kuat tersebut berjalan seiring dengan besarnya penanganan backlog (kekurangan) perumahan di wilayah ini. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 274.514 unit rumah berhasil ditangani oleh pemerintah dan berbagai pihak terkait. Capaian luar biasa itu sukses menurunkan angka backlog dari 1.332.968 unit pada awal tahun 2025, menjadi 1.058.454 unit pada awal tahun 2026. Angka ini membuktikan efektivitas kebijakan perumahan yang diambil oleh pemerintah provinsi.
Upaya progresif tersebut berlanjut dengan masif pada tahun 2026. Hingga Triwulan II, penanganan backlog telah mencapai angka 65.449 unit. Dana penanganan ini berasal dari berbagai sumber yang saling berkolaborasi, mulai dari APBN melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), Dana Desa, anggaran kementerian/lembaga, APBD Provinsi, APBD kabupaten/kota, hingga dana CSR dan kolaborasi dengan Baznas. Dari APBD Provinsi Jawa Tengah sendiri, realisasi hingga Triwulan II telah mencapai 1.625 unit dari total target 5.231 unit.
Besarnya angka penanganan tersebut juga menunjukkan bahwa fokus pemerintah tidak semata-mata membangun rumah baru dari nol. Pada tahun 2025, dari total 17.510 unit yang ditangani secara khusus melalui APBD Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 17.170 unit di antaranya merupakan peningkatan kualitas rumah tidak layak huni, sementara pembangunan rumah baru hanya sebanyak 340 unit. Artinya, intervensi terbesar diarahkan untuk membuat rumah yang sudah ditempati oleh masyarakat menjadi lebih layak huni. Data kelayakan hunian pada awal 2026 memperkuat gambaran tersebut; dari 1.058.454 unit backlog, sebanyak 762.064 unit merupakan backlog kelayakan, sedangkan backlog kepemilikan tercatat di angka 296.390 unit.
Kisah Sukses Bantuan Perbaikan RTLH Jawa Tengah di Berbagai Daerah
Di titik inilah intervensi dan rehabilitasi hunian menjadi sangat fundamental. Bantuan dari pemerintah tidak hanya sekadar mengurangi beban keluarga untuk memperbaiki bangunan yang selama ini sulit ditanggung sendiri, tetapi juga menciptakan lingkungan yang jauh lebih sehat. Namun, pemerintah menyadari bahwa sekadar bangunan fisik yang direnovasi belum sepenuhnya menuntaskan kemiskinan keluarga tersebut.
Hal itu terlihat jelas ketika Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengecek rumah milik Sailah (50), seorang warga Desa Ayamputih, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, yang baru saja mendapatkan bantuan rehab. Tak hanya memastikan rumahnya telah layak, Taj Yasin juga secara proaktif menanyakan kondisi ekonomi serta pekerjaan anggota keluarganya.
Diketahui, suami Sailah yang bernama Ade Suratman, merantau ke Cirebon untuk bekerja sebagai pedagang cilok, sementara Sailah bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan upah minim. Penghasilan mereka pas-pasan. Terlebih lagi, anak sulung mereka yang telah lulus SMA pun belum mendapatkan pekerjaan. Mengetahui hal tersebut, Taj Yasin langsung berupaya menghubungkan anak Sailah dengan berbagai peluang kerja serta program peningkatan keterampilan. Bantuan ini mencakup bursa kerja, pelatihan vokasi, hingga peluang kerja ke luar negeri. “Anaknya sudah lulus SMA. Kita coba link-kan (hubungkan) ke dunia usaha atau pekerjaan,” ujarnya.
Bagi keluarga Sailah, bantuan tersebut membuat perubahan yang sebelumnya terasa sulit menjadi nyata. Rumahnya yang dulu masih berlantai tanah kotor dan berdinding bata tanpa plester, kini sudah lebih bersih. “Terima kasih banyak atas bantuannya. Rumah jadi bagus. Dulu rumah masih tanah, temboknya belum diplester. Sekarang sudah lebih layak,” tutur Sailah penuh haru pada 14 Juli 2026 lalu.
Dampak Nyata Perbaikan RTLH Jawa Tengah bagi Ekonomi Lemah
Hal serupa juga dirasakan oleh Hadi Mulyono, seorang warga asal Kabupaten Kudus. Ia mengaku sudah sejak lama memiliki impian untuk memperbaiki rumahnya. Namun, keterbatasan dan kemampuan ekonomi yang sangat pas-pasan membuat keinginan tersebut sulit diwujudkan.
“Senang sekali dapat bantuan dari Gubernur Ahmad Luthfi. Dulu saya punya keinginan mau bangun atau perbaiki rumah ini, tetapi mengumpulkan uang dari dulu nggak pernah cukup. Saya tertolong sekali dengan adanya bantuan dari Pak Luthfi ini,” ujar Hadi saat ditemui pada 29 Juni 2026.
Dua kesaksian ini secara gamblang mendeskripsikan manfaat paling nyata dari program penanganan rumah ini. Ketika biaya untuk membenahi bangunan berada di luar jangkauan keluarga, kehadiran pemerintah membuat impian yang tertunda tersebut akhirnya dapat diwujudkan secara nyata.
Pada saat yang sama, pemerintah menyadari bahwa skala pekerjaan besar ini belum selesai sepenuhnya. Hingga Triwulan II tahun 2026, masih terdapat sekitar 993.005 unit backlog yang mendesak dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Oleh karena itu, pekerjaan rumah ke depan bukan sekadar mempercepat angka perbaikan hunian secara kuantitas, tetapi memastikan setiap intervensi mampu memberikan efek kemandirian.
Memasuki usia ke-81 tahun yang matang ini, langkah holistik lewat program Perbaikan RTLH Jawa Tengah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya ekstra keras pemerintah dalam menangani masalah kemiskinan dari berbagai sisi. Rumah yang kuat dan aman adalah kebutuhan dasar, tetapi keluarga yang menempatinya juga sangat membutuhkan peluang dan pijakan ekonomi yang kuat untuk terus tumbuh sejahtera.