Nasional

Kritik Keras Prabowo terhadap Standar Hunian Bencana: Menolak Atap Seng Demi Memanusiakan Korban

Published

on

Semarang (usmnews) – Presiden (atau pejabat tinggi terkait) Prabowo Subianto kembali menunjukkan perhatian mendalamnya terhadap detail implementasi proyek pemerintah, khususnya yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat kecil. Dalam sebuah peninjauan terhadap pembangunan hunian bagi para korban bencana banjir, Prabowo melontarkan kritik tajam mengenai spesifikasi material bangunan yang digunakan. Sorotan utamanya tertuju pada penggunaan atap berbahan seng (logam tipis) yang dinilai sangat tidak ideal untuk kondisi iklim tropis Indonesia.

Kritik Prabowo bermula saat ia menyadari bahwa hunian yang dibangun untuk para penyintas bencana tersebut menggunakan atap seng tanpa lapisan peredam panas yang memadai. Dengan tegas, ia menyatakan keberatannya karena material tersebut akan membuat suhu di dalam ruangan menjadi sangat panas dan pengap, terutama di siang hari.

Pernyataan “Panas, pikirkan solusinya” bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah teguran keras terhadap mentalitas pembangunan yang hanya mengejar target fisik tanpa memikirkan kenyamanan penghuninya. Prabowo menekankan bahwa korban banjir sudah cukup menderita karena kehilangan harta benda dan trauma bencana; oleh karena itu, negara tidak boleh menambah penderitaan mereka dengan memberikan tempat tinggal yang tidak nyaman dan menyerupai “oven”. Kritik ini menegaskan bahwa bantuan sosial harus tetap menjunjung tinggi martabat manusia, bukan sekadar menggugurkan kewajiban proyek.

Instruksi Prabowo untuk “memikirkan solusinya” memberikan tantangan langsung kepada kementerian terkait, kontraktor, dan arsitek yang terlibat dalam proyek rehabilitasi pascabencana. Hal ini memaksa para pelaksana untuk berpikir kreatif dalam menyeimbangkan antara efisiensi anggaran, kecepatan pembangunan, dan standar kenyamanan termal.

Momen protes Prabowo ini dapat menjadi titik balik bagi standarisasi pembangunan hunian tetap (Huntap) atau hunian sementara (Huntara) di seluruh Indonesia. Ke depannya, spesifikasi teknis bangunan bantuan pemerintah diharapkan tidak lagi hanya berpatokan pada harga terendah, tetapi juga memperhitungkan faktor kelayakan huni (habitability).

Langkah ini menunjukkan gaya kepemimpinan yang detail dan empatik. Prabowo ingin memastikan bahwa anggaran negara benar-benar dirasakan manfaatnya secara optimal oleh rakyat. Dengan menolak atap seng yang panas, ia sedang mengirimkan pesan bahwa rakyat korban bencana berhak mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik, dimulai dari atap yang menaungi mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version