Connect with us

Education

Krisis Tersembunyi Kontaminasi Timbal: Ancaman Serius terhadap Kecerdasan dan Masa Depan Anak Indonesia

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip cnbcindonesia.com Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman kesehatan publik yang sangat serius namun sering kali terabaikan, yaitu kontaminasi logam berat timbal (plumbum). Berdasarkan data terbaru dari Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) Tahap Pertama, ditemukan fakta mengkhawatirkan bahwa satu dari tujuh anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah yang melebihi ambang batas aman. Standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI adalah maksimal 5 mikrogram per desiliter (µg/dL). Jika melampaui angka tersebut, intervensi medis dan lingkungan sangat mendesak untuk dilakukan.

Paparan timbal pada anak-anak bukanlah masalah sepele karena dampaknya bersifat permanen dan kronis. Logam berat ini menyerang sistem saraf pusat, yang berakibat pada penurunan tingkat kecerdasan (IQ), gangguan tumbuh kembang, hingga masalah kesehatan jangka panjang lainnya. Ironisnya, keracunan timbal sering kali tidak memunculkan gejala klinis yang nyata secara instan, sehingga banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak mereka sedang mengalami penurunan fungsi kognitif akibat lingkungan yang terkontaminasi.

Penelitian kolaboratif antara Kementerian Kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta lembaga seperti Pure Earth Indonesia dan Vital Strategies ini mengungkap berbagai sumber paparan di sekitar kita. Salah satu temuan kunci adalah risiko tinggi pada anak-anak yang tinggal di hunian dengan cat dinding yang mengelupas; mereka memiliki risiko 61% lebih besar untuk terpapar timbal hingga level yang sangat berbahaya. Selain itu, peralatan rumah tangga sehari-hari seperti alat masak logam, keramik dengan lapisan tertentu, mainan anak, hingga kosmetik dan bedak ditemukan mengandung timbal yang melebihi ambang batas. Faktor pekerjaan orang tua yang bersinggungan dengan logam juga berkontribusi pada peningkatan kadar timbal darah anak sekitar 7 hingga 10 persen.

Data ini juga menyoroti adanya kesenjangan sosial dalam tingkat risiko. Anak-anak dari keluarga dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih rendah cenderung lebih rentan terpapar, sementara mereka dengan akses pendidikan dan ekonomi yang lebih baik memiliki kadar timbal darah yang lebih rendah. Oleh karena itu, pemerintah menekankan pentingnya kebijakan yang berbasis keadilan untuk melindungi seluruh lapisan masyarakat. Langkah deteksi dini dan identifikasi sumber paparan menjadi kunci utama dalam merumuskan kebijakan publik yang tepat sasaran agar generasi masa depan Indonesia dapat tumbuh dengan potensi intelektual yang maksimal tanpa terhambat oleh racun lingkungan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *