Lifestyle
Krisis Air dan Sanitasi yang Mencekam di New Delhi: Ketika Sungai Suci Menjadi Sumber Petaka
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Jutaan penduduk di ibu kota India, New Delhi, saat ini sedang bergulat dengan krisis kemanusiaan yang berakar pada masalah lingkungan yang akut. Selama berhari-hari, warga dipaksa bertahan hidup dengan pasokan air yang sangat terbatas dan berkualitas buruk akibat tingkat pencemaran amonia yang ekstrem di Sungai Yamuna. Sungai ini, yang sejatinya dipuja dan dianggap suci oleh jutaan umat Hindu serta menjadi tulang punggung bagi sekitar 40% kebutuhan air bersih ibu kota, kini telah berubah menjadi ancaman kesehatan yang nyata. Polusi berat yang meracuni aliran sungai membuat airnya tidak lagi aman untuk diolah maupun dikonsumsi, memaksa otoritas setempat untuk membatasi distribusi air secara drastis.
Meskipun pihak berwenang mengklaim bahwa pasokan air telah dipulihkan pada akhir Januari, realitas di lapangan berbicara lain. Banyak warga melaporkan bahwa air yang keluar dari keran mereka masih berwarna keruh, kekuningan, dan mengeluarkan bau menyengat seperti telur busuk. Situasi ini memaksa penduduk untuk mengubah pola hidup mereka secara drastis demi bertahan. Ravinder Kumar, seorang warga berusia 55 tahun yang tinggal di Sharma Enclave, menuturkan betapa sulitnya menjaga kebersihan diri di tengah kondisi ini. Menurutnya, air bersih hanya mengalir sekali dalam tiga hari, itu pun hanya berlangsung selama satu jam. Akibatnya, mandi menjadi sebuah kemewahan; ia dan keluarganya hanya bisa membersihkan tubuh setiap empat atau lima hari sekali.
Dampak dari krisis ini dirasakan secara luas. Dewan Air Delhi mencatat setidaknya ada 43 kawasan yang dihuni oleh sekitar dua juta orang yang terkena dampak langsung gangguan pasokan ini. Investigasi lebih lanjut menemukan bahwa lebih dari 600.000 penduduk di 10 wilayah bahkan tidak menerima setetes air pun selama berhari-hari. Kondisi sanitasi yang memburuk ini memicu kekhawatiran serius akan wabah penyakit. “Kesehatan semua orang menurun. Semuanya kotor,” keluh Shashi Bala, tetangga Ravinder, yang menggambarkan keputusasaan warga menghadapi lingkungan yang semakin tidak layak huni.
Secara historis, Sungai Yamuna adalah nadi peradaban Delhi sejak abad ke-17. Namun ironisnya, bagian sungai yang melintasi ibu kota—hanya sekitar 2% dari total panjang sungai—justru menyumbang 76% dari total polusi di sepanjang alirannya. Limbah industri yang tidak terkendali dan sistem pengelolaan kota yang buruk telah “mematikan” sungai ini. Kandungan oksigen terlarut seringkali turun hingga titik nol, membunuh kehidupan akuatik dan mengubah sungai menjadi saluran pembuangan raksasa yang terbuka. Fenomena busa putih beracun yang kerap menutupi permukaan air menjadi bukti visual paling mencolok dari kerusakan ekosistem yang terjadi.
Masalah ini semakin diperparah dengan pertumbuhan kota yang tak terencana. Jutaan warga miskin tinggal di permukiman ilegal yang tidak memiliki akses ke jaringan pipa air bersih maupun sistem pembuangan limbah yang memadai. Akibatnya, limbah rumah tangga dan industri meresap ke dalam tanah, mencemari cadangan air tanah dengan logam berat yang berbahaya.
Pemerintah Delhi telah berjanji untuk meningkatkan kapasitas pengolahan limbah hingga hampir dua kali lipat menjadi 1.500 juta galon per hari dan membangun jaringan sanitasi yang menyeluruh pada tahun 2028. Namun, bagi warga seperti Raja Kamat yang tinggal di daerah kumuh Raghubir Nagar, janji-janji manis tersebut terasa sangat jauh dari kenyataan pahit yang mereka hadapi setiap hari. Ia menceritakan bahwa air sempat mati total selama lima hari, dan ketika akhirnya mengalir, warnanya hitam pekat dan hanya tersedia selama 30 menit. Rasa frustrasi warga semakin memuncak, seperti yang diungkapkan oleh Bhagwanti, seorang lansia berusia 70 tahun, yang merasa pemerintah seolah tidak peduli apakah rakyat kecil seperti mereka hidup atau mati di tengah krisis yang tak berkesudahan ini.