International
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik Pertama Tahun Ini Saat AS Guncang Venezuela
Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Situasi keamanan di Asia Timur kembali memanas pada awal tahun ini setelah Korea Utara melakukan uji coba senjata strategisnya. Pada hari Minggu (4/1), militer Korea Selatan mengonfirmasi bahwa rezim Pyongyang telah menembakkan beberapa rudal balistik ke arah lepas pantai timurnya. Aksi militer ini tercatat sebagai peluncuran rudal pertama yang dilakukan Korea Utara pada tahun ini, menandai dimulainya kembali siklus provokasi di kawasan tersebut.
Konteks Geopolitik: Bayang-Bayang Insiden Venezuela Peluncuran ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan bertepatan dengan momen geopolitik yang sangat sensitif. Secara waktu, penembakan rudal ini dilakukan hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, dijadwalkan bertolak ke Beijing, China, untuk menghadiri pertemuan puncak tingkat tinggi. Namun, pemicu utama yang diduga kuat mendorong aksi agresif Pyongyang adalah perkembangan situasi di belahan bumi lain, yakni operasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat baru saja melakukan operasi yang berujung pada penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dari negaranya. Bagi Korea Utara, yang merupakan sekutu ideologis Venezuela, peristiwa ini adalah manifestasi dari “skenario mimpi buruk” mereka. Pyongyang telah lama menuduh Washington berambisi menggulingkan pemerintahan Kim Jong Un. Jatuhnya Maduro di tangan operasi AS seolah memvalidasi ketakutan tersebut, memicu respons defensif agresif dari Korea Utara untuk menunjukkan kekuatan penangkalan (deterrence) mereka.
Analisis Ahli dan Pesan Tersembunyi Hong Min, seorang analis senior dari Institut Unifikasi Nasional Korea, menilai bahwa keputusan peluncuran rudal ini sangat dipengaruhi oleh manuver Presiden AS Donald Trump di Venezuela. Menurutnya, pesan tersirat yang ingin disampaikan Pyongyang sangat jelas: Korea Utara bukanlah target yang mudah ditaklukkan seperti Venezuela.
Dengan memamerkan kemampuan rudal balistiknya, Pyongyang menegaskan bahwa setiap upaya serangan presisi atau pergantian rezim oleh AS akan menghadapi konsekuensi militer yang fatal. Program nuklir dan rudal yang mereka kembangkan selama beberapa dekade diposisikan sebagai tameng utama untuk menjamin kelangsungan hidup rezim dari ancaman eksternal serupa.
Kronologi dan Deteksi Teknis Secara teknis, Kementerian Pertahanan Korea Selatan melaporkan deteksi peluncuran beberapa proyektil yang diduga kuat sebagai rudal balistik dari area sekitar Pyongyang pada pukul 07.50 pagi waktu setempat (Sabtu, 22.50 GMT). Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jepang turut mengonfirmasi insiden ini, mencatat bahwa rudal tersebut mendarat di lokasi yang belum ditentukan di perairan sekitar pukul 08.08 pagi.
Ini adalah aktivitas rudal signifikan pertama sejak November tahun lalu. Pada saat itu, uji coba dilakukan sebagai respons kemarahan atas persetujuan Presiden Trump terhadap rencana Korea Selatan untuk membangun armada kapal selam bertenaga nuklir, sebuah langkah yang dianggap Pyongyang mengganggu keseimbangan kekuatan militer di kawasan.
Manuver Diplomatik dan Persiapan Domestik Di sisi diplomatik, peluncuran ini memberikan tekanan tersendiri bagi Presiden Lee Jae Myung yang hendak menemui Presiden Xi Jinping. Lee diharapkan dapat melobi China—sebagai penyokong ekonomi utama Korea Utara—untuk membantu meredakan ketegangan dan memperbaiki hubungan antar-Korea. Namun, aksi provokatif ini seolah menjadi pesan awal dari Pyongyang bahwa mereka tidak akan mudah tunduk pada tekanan diplomatik.
Di dalam negeri, Korea Utara juga tengah bersiap menyambut kongres partai penguasa yang akan digelar dalam beberapa minggu ke depan, yang pertama dalam lima tahun terakhir. Menjelang perhelatan akbar tersebut, Kim Jong Un terlihat semakin agresif memperkuat sektor pertahanan. Laporan media pemerintah, KCNA, menyebutkan bahwa Kim baru saja meninjau fasilitas produksi senjata dan memerintahkan peningkatan kapasitas produksi senjata berpemandu taktis sebesar 250 persen. Langkah ini menegaskan ambisi Korea Utara untuk menantang aliansi AS-Korea Selatan serta mempersiapkan potensi ekspor senjata ke sekutu strategisnya, Rusia.