Lifestyle
Kondisi Mati Rasa Emosional Saat Tubuh Tetap Beraktivitas Normal

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Badan Momen pergantian tahun sering kali disambut dengan euforia dan harapan yang melambung tinggi. Bagi sebagian besar orang, ini adalah waktu yang tepat untuk menyusun resolusi, merancang strategi masa depan, atau memperbaiki hubungan sosial yang sempat merenggang. Namun, realitas tidak selalu seindah rencana di atas kertas. Di balik gemerlap perayaan dan semangat pembaruan, terdapat sekelompok orang yang justru merasa terjebak dalam kelelahan ekstrem, tekanan mental, dan hilangnya energi kehidupan. Tuntutan untuk memulai tahun dengan “sempurna”, ditambah dengan tumpukan agenda yang menanti, sering kali menciptakan kombinasi stres yang melumpuhkan motivasi dan fokus.
Di era digital saat ini, kondisi psikologis tersebut mulai mendapatkan nama dan pengakuan luas melalui media sosial, khususnya TikTok, dengan istilah functional freeze. Istilah ini menggambarkan sebuah paradoks: seseorang mengalami mati rasa secara emosional dan kehilangan motivasi internal, namun secara fisik mereka masih mampu menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari. Meskipun istilah ini belum masuk dalam buku teks psikologi klinis atau diagnosis resmi medis, para ahli kesehatan mental mulai memberikan perhatian serius karena fenomena ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat modern.

Dave Boyd, seorang terapis di Washington, mengakui bahwa ia pertama kali mendengar istilah ini dari pasiennya yang merasa terwakili oleh sebuah video di TikTok. Pasien tersebut menggambarkan kondisinya sebagai perasaan kewalahan dan tak berdaya, seolah-olah hidup dalam mode autopilot. Mereka tetap bangun pagi, pergi bekerja, dan mengurus anak, namun batin mereka terasa kosong, seakan hanya “sekadar ada” tanpa benar-benar “hidup”. Psikolog klinis Janina Fisher menambahkan bahwa meskipun functional freeze bukan istilah medis, gejalanya sangat nyata dan bisa beririsan dengan gangguan afektif musiman (seasonal affective disorder), depersonalisasi, atau respons trauma jangka panjang. Penggunaan istilah ini menjadi penting karena memberikan validasi bahasa bagi mereka yang merasa “lelah namun gelisah”.
Secara visual, gejala functional freeze sering digambarkan dengan perilaku pasif di waktu luang, seperti menatap layar ponsel berjam-jam tanpa tujuan (doomscrolling), duduk diam setelah mandi, atau sekadar melamun dengan tatapan kosong. George A. Bonanno, profesor psikologi dari Columbia University, menjelaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar rasa malas, melainkan mekanisme pertahanan otak akibat banjir informasi dan tekanan hidup yang berlebihan. Otak manusia yang dirancang untuk mendeteksi ancaman kini terus-menerus disuguhi berita buruk dan tuntutan hidup, sehingga memicu mode waspada yang tak berkesudahan.

Untuk keluar dari jeratan ini, langkah pertama adalah introspeksi diri untuk memahami akar masalahnya, apakah itu tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau kecemasan umum. Jika kelelahan fisik adalah pemicunya, memperbaiki pola tidur menjadi prioritas. Namun, jika akarnya adalah stres emosional, aktivitas yang menenangkan sistem saraf seperti yoga, meditasi, atau olahraga ringan sangat disarankan. Konsultasi dengan terapis juga menjadi langkah bijak untuk memproses perasaan yang terpendam. Pada akhirnya, para ahli menekankan bahwa manusia memiliki resiliensi atau daya lenting yang luar biasa. Mengalami functional freeze bukan berarti akhir segalanya, melainkan sinyal dari tubuh dan pikiran untuk berhenti sejenak dan menata ulang ritme hidup.







