Nasional
klarifikasi panitia terkait video viral penari celana pendek di panggung maulid nabi wonosobo
Sebuah insiden yang melibatkan kesalahpahaman visual telah memicu perbincangan hangat di jagat media sosial setelah beredarnya **video viral** yang menampilkan sejumlah wanita menarikan tarian tradisional **dolalak** dengan pakaian terbuka—berupa baju lengan pendek dan celana pendek—di sebuah panggung yang, secara kebetulan, masih berlatar belakang spanduk peringatan **Maulid Nabi Muhammad SAW**.
Video ini dengan cepat menyebar dan menarik perhatian publik, menimbulkan berbagai spekulasi mengenai kesesuaian acara hiburan tersebut dengan konteks peringatan hari besar keagamaan.
Peristiwa yang terekam dalam video tersebut, yang terjadi di Desa Mutisari, Kecamatan Watumalang, **Wonosobo**, pada tanggal 8 September 2025 lalu, menjadi sorotan utama. Dalam rekaman yang dilihat oleh *detikJateng*, terlihat jelas para penari dolalak menampilkan keahlian mereka. Namun, kontras yang mencolok terjadi karena di belakang mereka terpampang *backdrop* atau spanduk besar yang secara eksplisit menyebutkan acara tersebut sebagai **pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW**.
Kombinasi antara tarian yang dianggap beberapa pihak kurang pantas untuk acara keagamaan dengan latar belakang spanduk Maulid Nabi inilah yang memicu kehebohan di dunia maya.### Panitia Mengakui Kesalahan TeknisMenyikapi kegaduhan yang timbul, pihak **panitia peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Desa Mutisari** akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi yang komprehensif.
Salah seorang panitia, yang bernama Soli, membenarkan bahwa lokasi dan kegiatan yang terekam dalam video tersebut memang betul diselenggarakan di desa mereka. Namun, ia menekankan bahwa terjadi **kesalahan fatal dalam manajemen panggung** yang mengakibatkan kesalahpahaman kronologis acara.
Soli menjelaskan secara rinci bahwa sejatinya, acara keagamaan—yaitu **pengajian dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW**—dan acara kesenian tradisional dolalak merupakan **dua kegiatan yang terpisah, meskipun dilaksanakan pada hari dan di lokasi yang sama**. Dia merinci, “Benar itu (video viral tarian di peringatan Maulid Nabi Muhammad) di desa kami. Tapi itu sebenarnya **tidak di waktu yang sama**.
Meskipun masih di hari yang sama,” ujarnya saat dihubungi.### Perbedaan Waktu dan Tujuan AcaraMenurut keterangan panitia, acara pengajian utama telah diselenggarakan jauh lebih awal, yakni **dimulai sejak pagi hari pukul 08.00 WIB dan berakhir pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB**. Acara ini berjalan sesuai dengan tata cara dan nilai-nilai keagamaan.Sementara itu, gelaran seni **tari tradisional dolalak** yang menjadi objek viral tersebut merupakan **acara hiburan rakyat** yang baru diselenggarakan pada malam harinya.
Pagelaran dolalak ini dijadwalkan **mulai pukul 21.00 WIB hingga selesai**. Soli menjelaskan lebih lanjut bahwa panggung dan sistem suara (*sound system*) yang sudah terpasang untuk acara pengajian pagi hari dimanfaatkan kembali oleh warga setempat untuk menyelenggarakan hiburan malam. Pemanfaatan fasilitas yang sudah ada ini dianggap sebagai peluang bagi warga untuk menikmati tontonan kesenian, mengingat persiapan sarana prasarana sudah selesai.
Namun demikian, akar permasalahan dari polemik ini terletak pada kelalaian sederhana yang berdampak besar. Panitia dengan jujur **mengakui kesalahan mereka karena tidak segera melepas *backdrop*** acara pengajian yang bertuliskan ‘Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW’ sebelum pertunjukan dolalak dimulai pada malam hari.”Memang kami mengaku salah karena **tidak melepas *backdrop* yang digunakan untuk pengajian**.
Jadinya seperti ini seakan-akan tari dolalak ini dalam rangka peringatan Maulid Nabi,” ungkap Soli, menunjukkan penyesalan atas keteledoran teknis tersebut. Kesalahan ini secara tidak sengaja menciptakan ilusi bahwa tarian dengan kostum celana pendek tersebut merupakan bagian integral atau penutup dari rangkaian acara peringatan Maulid Nabi.
Padahal, pada kenyataannya, acara keagamaan telah selesai beberapa jam sebelumnya.Klarifikasi ini diharapkan dapat meluruskan pandangan publik yang sempat terbelah. Pihak panitia menekankan bahwa tidak ada niat sedikit pun untuk menggabungkan dua jenis acara dengan nuansa yang sangat berbeda tersebut. Insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggara acara di masa mendatang mengenai pentingnya detail teknis, terutama dalam hal visual panggung, guna menghindari kesalahpahaman dalam penyampaian informasi kepada masyarakat luas.