Entertainment
Klarifikasi dan Permintaan Maaf Prilly Latuconsina Terkait Polemik Status “Open to Work” di LinkedIn

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kumparan.com Aktris dan pengusaha muda, Prilly Latuconsina, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah mengaktifkan fitur bingkai foto “Open to Work” pada profil LinkedIn pribadinya. Tindakan ini memicu reaksi beragam dari netizen, di mana sebagian pihak menilai langkah tersebut kurang sensitif terhadap kondisi masyarakat yang tengah berjuang keras mencari pekerjaan di tengah situasi ekonomi yang sulit. Prilly dianggap memiliki privilese dan akses pekerjaan yang jauh lebih mudah dibandingkan para pencari kerja pada umumnya, sehingga penggunaan fitur tersebut dinilai tidak tepat sasaran.
Menanggapi kegaduhan yang terjadi, Prilly Latuconsina segera merilis pernyataan resmi melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, pemain film “Budi Pekerti” ini menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas ketidaknyamanan dan kekecewaan yang mungkin timbul akibat tindakannya. Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki niat untuk meremehkan perjuangan para pencari kerja atau bersikap abai terhadap realitas sosial yang ada.

Prilly menjelaskan bahwa motivasi utamanya menggunakan fitur “Open to Work” bukanlah untuk mencari pekerjaan dalam artian konvensional demi bertahan hidup, melainkan sebagai upaya untuk membuka peluang kolaborasi profesional di lintas industri. Sebagai seorang figur publik yang terus ingin berkembang, Prilly melihat fitur tersebut sebagai sarana untuk memperluas jejaring (networking) dan mengeksplorasi bidang-bidang baru yang belum pernah ia jamah sebelumnya. Ia ingin menunjukkan keterbukaannya terhadap kemitraan strategis, bukan untuk mengambil jatah atau kesempatan kerja yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Lebih lanjut, aktris berusia 29 tahun ini mengakui bahwa posisi dan pengalaman hidupnya memang berbeda dengan mayoritas masyarakat umum, dan ia memahami mengapa penggunaan fitur tersebut bisa menimbulkan persepsi negatif atau rasa sakit hati bagi sebagian orang. Insiden ini diakuinya sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk lebih bijak dalam menggunakan fitur media sosial profesional.
Sebelum kontroversi ini memuncak, Prilly sempat mengungkapkan rasa terima kasihnya karena telah menerima lebih dari 30.000 permintaan koneksi (connection requests) serta berbagai tawaran kerja sama dari perusahaan, organisasi, hingga brand setelah status tersebut aktif. Bahkan, ia sempat menerima tawaran unik dari sebuah media untuk menjajal peran sebagai reporter.

Sebagai penutup klarifikasinya, Prilly berkomitmen untuk terus melanjutkan kegiatan-kegiatan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat luas dan menjadikan insiden ini sebagai evaluasi diri. Ia berterima kasih atas segala masukan, perhatian, dan pengertian yang diberikan oleh publik kepadanya.







