International
Ketegangan Memuncak: Khamenei Tegaskan Bertahan di Tengah Tudingan Intervensi AS Atas Minyak Iran
Semarang (usmnews) – Dikutip CNN Indonesia Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara resmi menyatakan penolakannya untuk mundur dari tampuk kekuasaan meskipun tekanan aksi demonstrasi terus meningkat di berbagai wilayah Iran. Dalam pernyataan terbarunya, Khamenei tidak hanya menegaskan stabilitas posisinya, tetapi juga melontarkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat (AS). Ia mengeklaim bahwa gelombang protes yang terjadi saat ini bukanlah murni gerakan aspirasi rakyat, melainkan hasil campur tangan atau “cawe-cawe” pihak asing yang didalangi oleh Washington.
Motif Ekonomi di Balik Gejolak Politik: Khamenei berargumen bahwa ketertarikan Amerika Serikat terhadap situasi domestik Iran berakar pada ambisi penguasaan sumber daya alam, khususnya cadangan minyak bumi. Menurutnya, AS sedang berupaya menciptakan ketidakstabilan politik agar dapat memuluskan jalan bagi kembalinya pengaruh Barat di sektor energi Iran. Ia memandang bahwa narasi hak asasi manusia dan demokrasi yang disuarakan oleh pihak luar hanyalah kedok untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan geopolitik jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Tuduhan Manipulasi Massa: Dalam pidatonya, sang pemimpin tertinggi menekankan bahwa musuh-musuh Iran merasa terancam oleh kemandirian negara tersebut. Ia menuduh intelijen Barat sengaja memprovokasi kemarahan publik dan memanfaatkan isu-isu sensitif untuk memicu kerusuhan. Khamenei memperingatkan warga Iran agar tidak terjebak dalam skenario yang disusun oleh pihak luar, yang menurutnya bertujuan untuk melemahkan kedaulatan nasional dan memecah belah persatuan bangsa demi keuntungan korporasi migas internasional.
Sikap Keras Pemerintah: Sikap keras kepala Khamenei ini menandakan bahwa pemerintah Iran kemungkinan besar akan terus menggunakan pendekatan keamanan dalam menangani para demonstran. Dengan membingkai protes sebagai bentuk pengkhianatan yang didukung asing, ruang untuk dialog antara pemerintah dan rakyat menjadi semakin sempit. Penolakan untuk mundur ini sekaligus mengirimkan pesan kepada dunia internasional bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan sanksi maupun agitasi politik yang dianggap sebagai upaya neo-kolonialisme modern.