Education
Kenapa Remaja Zaman Dulu Terlihat Lebih Tua? Ini Alasannya
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBC Indonesia, Fenomena mengenai remaja di masa lalu yang tampak jauh lebih dewasa dibandingkan generasi sekarang sering kali memicu perdebatan menarik di media sosial, dan hal ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui kombinasi faktor sosiologis, biologis, hingga teknis.
Salah satu alasan mendasar yang paling sering diabaikan adalah konsep asosiasi gaya atau yang sering disebut sebagai “jangkar fesyen.” Di era 1970-an hingga 1990-an, tren seperti rambut permanen yang bervolume, penggunaan bantalan bahu pada pakaian, hingga bingkai kacamata yang besar dan berat dianggap sebagai puncak gaya anak muda.
Namun, karena generasi tersebut terus mempertahankan gaya yang sama seiring bertambahnya usia, otak kita secara otomatis mengaitkan elemen estetika tersebut dengan sosok orang tua atau kakek-nenek. Akibatnya, saat kita melihat foto remaja di masa lalu dengan gaya rambut atau pakaian tersebut, kita secara tidak sadar memproyeksikan usia mereka saat ini ke dalam foto masa muda mereka, sehingga mereka terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.
Selain faktor persepsi psikologis, terdapat perbedaan biologis yang nyata yang dipicu oleh perubahan drastis dalam kebiasaan perawatan diri dan kesehatan kulit. Pada beberapa dekade silam, kesadaran akan bahaya radiasi ultraviolet sangatlah minim, bahkan budaya berjemur tanpa perlindungan atau justru menggunakan minyak untuk mempercepat proses pencokelatan kulit sangat lazim dilakukan.
Paparan sinar matahari tanpa perlindungan tabir surya (SPF) selama bertahun-tahun menyebabkan kerusakan kolagen yang masif, yang secara visual memunculkan tanda-tanda penuaan seperti garis halus dan tekstur kulit yang lebih kasar di usia yang relatif muda.
Sebaliknya, remaja masa kini tumbuh di era di mana informasi mengenai skincare sangat mudah diakses, sehingga penggunaan pelindung matahari menjadi rutinitas harian yang efektif menjaga elastisitas kulit dan memberikan kesan wajah yang lebih “segar” serta awet muda.
Gaya hidup juga memegang peranan krusial dalam membentuk tampilan fisik lintas generasi. Di masa lalu, merokok adalah aktivitas yang sangat umum dan sering kali dianggap sebagai simbol kedewasaan bagi remaja, tanpa banyak mempertimbangkan dampak buruknya terhadap kesehatan kulit.
Kandungan nikotin dalam rokok diketahui dapat mempersempit pembuluh darah di lapisan luar kulit, yang mengganggu aliran oksigen dan nutrisi penting, sehingga kulit perokok cenderung lebih kusam dan lebih cepat berkerut.
Pengurangan angka perokok di kalangan remaja modern, ditambah dengan perbaikan nutrisi secara global serta akses yang lebih baik terhadap perawatan gigi dan ortodonti, telah mengubah struktur wajah anak muda secara signifikan. Gigi yang lebih rapi dan kesehatan mulut yang terjaga memberikan kontribusi besar pada penampilan wajah yang lebih proporsional dan tidak tampak “keras” seperti generasi sebelumnya.
Terakhir, perkembangan teknologi fotografi turut memengaruhi cara kita memandang usia seseorang dalam gambar. Foto-foto dari era film sering kali memiliki karakteristik butiran yang kasar, kontras yang tajam, dan rentang dinamis yang terbatas yang justru mempertegas bayangan serta tekstur pada wajah manusia. Hal ini sangat kontras dengan era digital saat ini, di mana sensor kamera memiliki kemampuan untuk menghaluskan detail secara otomatis, belum lagi pengaruh berbagai filter media sosial yang mampu mengaburkan ketidaksempurnaan kulit.
Secara kolektif, semua faktor ini mulai dari evolusi standar kecantikan, kemajuan medis, hingga cara kita mengabadikan momen, menciptakan ilusi bahwa waktu berjalan lebih lambat bagi wajah generasi sekarang dibandingkan dengan mereka yang tumbuh di era sebelumnya.