Nasional
Kemenhut Dorong Konsep Pengelolaan Hutan Lestari Lewat Multiusaha Kehutanan
Semarang (usmnews) – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkomitmen penuh dalam meluruskan paradigma masyarakat mengenai aktivitas penebangan pohon. Pihak kementerian menegaskan bahwa pemanfaatan hasil hutan secara lestari sama sekali berbeda dengan perusakan lingkungan. Sebaliknya, aktivitas tersebut merupakan bagian integral dari strategi besar dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Pemerintah menerapkan mekanisme ketat seperti penetapan batas pemanenan (allowable cut) dan kewajiban penanaman kembali.
Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan Kemenhut, Krisdianto, membagikan pandangannya dalam sebuah diskusi di Bogor. Menurut beliau, pembiaran hutan tanpa pengelolaan justru memicu penumpukan biomassa yang meningkatkan risiko kebakaran. Oleh karena itu, pemanfaatan yang terukur justru menjadi tameng pelindung bagi ekosistem hutan kita.
“Kita ingin persepsi masyarakat berubah. Menebang pohon bukan berarti merusak hutan, tetapi mengelolanya secara lestari,” kata Krisdianto.
Menggali Potensi Ekonomi Lewat Skema Multiusaha
Selanjutnya, pemerintah terus memacu peningkatan nilai ekonomi kawasan hutan agar tidak mudah beralih fungsi. Pemerintah memperkenalkan skema multiusaha kehutanan yang mengoptimalkan komoditas kayu maupun non-kayu secara berkelanjutan. Melalui program ini, masyarakat dapat mengolah biomassa hutan menjadi arang, biochar, dan asap cair. Hasil olahan tersebut memiliki nilai jual tinggi sekaligus mampu menyuburkan tanah pertanian.
Krisdianto menambahkan bahwa Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) memegang peranan krusial sebagai ujung tombak di lapangan. Lembaga ini bertugas memberdayakan potensi ekonomi lokal sesuai dengan karakteristik unik setiap wilayah tapak.
“Dengan multiusaha kehutanan, kita mendorong supaya KPH bisa lebih berperan secara ekonomi juga dari sektor kehutanan,” katanya.
Dukungan Riset BRIN untuk Komoditas Gaharu dan Aren
Langkah strategis Kemenhut ini mendapat dukungan penuh dari para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Prof. Dr. Maman Turjaman, menyoroti prospek ekspor komoditas gaharu Indonesia. Beliau menilai Indonesia memiliki lebih dari 30 jenis gaharu bernilai tinggi yang belum optimal pemanfaatannya.
“Kita berharap ada kebijakan yang lebih ramah sehingga masyarakat memperoleh pendapatan dari keanekaragaman hayati yang dimiliki, sementara di sisi lain tekanan terhadap hutan tetap bisa dikendalikan,” katanya.
Sementara itu, peneliti BRIN Saptadi Darmawan merekomendasikan tanaman aren sebagai bahan baku utama bioetanol masa depan. Budidaya aren pada lahan marginal berfungsi ganda sebagai tanaman konservasi sekaligus penghasil energi terbarukan. Melalui kolaborasi riset dan kebijakan ini, pengelolaan hutan lestari akan membawa kesejahteraan nyata bagi masyarakat.