Education

Keindahan dan Perjuangan Pendidikan di Pelosok Negeri

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip Kompas.com Indonesia menyimpan permata pendidikan yang tersembunyi, salah satunya adalah SDN 6 Sa’dan yang berlokasi di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Sekolah dasar ini dijuluki sebagai sekolah dengan pemandangan terindah, bahkan sering disebut “sekolah di atas awan” karena letaknya yang berada di dataran tinggi Pesondongan, Lembang Sa’dan Pesondongan, Kecamatan Sa’dan.

Menurut informasi dari akun Instagram resmi Puslapdik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), fenomena menakjubkan ini terjadi hampir setiap pagi. Sekolah ini diselimuti oleh kabut tebal dan hamparan awan putih yang membentang luas, menutupi area lembah di sekitarnya. Pemandangan dari sudut tertentu memberikan ilusi seolah-olah sekolah tersebut terapung di tengah lautan awan.

Selain menyajikan panorama yang luar biasa, lokasi geografis ini juga menciptakan suasana belajar yang sangat khas. Udara pegunungan yang sejuk dan dingin senantiasa menyelimuti lingkungan sekolah. Terkadang, sinar matahari akan menerobos lapisan awan, menciptakan bias cahaya yang dramatis di antara bangunan sekolah. Keindahan alam ini menjadikan SDN 6 Sa’dan, yang didirikan pada tanggal 30 September 2010, lebih dari sekadar tempat menuntut ilmu; ia menjadi simbol nyata bahwa pendidikan dapat diakses di mana saja, bahkan di daerah terpencil dengan keindahan alam yang memukau.

Tantangan Berat di Sekolah Terpencil​. Namun, kisah sekolah di dataran tinggi tidak hanya tentang keindahan. Kondisi geografis yang sulit juga menyimpan tantangan berat, terutama bagi para pengajar dan siswa. Artikel ini menyoroti bahwa banyak sekolah di Indonesia, selain SDN 6 Sa’dan, berada di lokasi yang sulit dijangkau.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Yones Franky Latumutuany, seorang guru di SD YPPK Manusela, yang terletak di dataran tinggi Seram Utara, Maluku Tengah. Sekolah ini juga mendapat julukan “negeri di atas awan”. Perjuangan Yones dan murid-muridnya dalam mengakses fasilitas dasar sangat memprihatinkan.

Sebagai contoh, untuk mengikuti ujian Asesmen Nasional, para guru dan siswa harus melakukan perjalanan yang luar biasa sulit. Mereka wajib berjalan kaki selama lima hari empat malam menuju kota terdekat hanya demi mendapatkan akses internet dan listrik. Medan yang harus ditempuh pun sangat ekstrem, melewati sungai dan hutan, dengan kondisi jalan setapak yang penuh lumpur. Yones bercerita, mereka harus menyeberangi sungai saat air surut, bahkan kadang harus menginap di hutan dengan membuat tenda seadanya jika terjadi banjir besar yang menghalangi perjalanan.

Ironisnya, selama puluhan tahun, daerah ini nyaris terisolasi dari akses komunikasi. Para pendidik dan peserta didik hidup tanpa sinyal telepon maupun jaringan internet. Yones menggambarkan kondisi ini dengan mengatakan, “Sebelum ada Starlink, kami buta informasi, tidak bisa akses apa pun. Baru bisa dapat informasi kalau sudah turun ke pesisir.”

Syukurlah, tahun ini, sebuah perubahan signifikan terjadi. Berkat inisiasi pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tengah, layanan internet satelit Starlink berhasil dipasang. Fasilitas komunikasi ini menjadi anugerah yang sangat dinantikan. Bagi Yones, hadirnya Starlink merupakan momen bersejarah. Ia menyatakan rasa syukur bahwa setelah berpuluh-puluh tahun, mereka akhirnya dapat menikmati informasi dan komunikasi secara langsung, sebuah hak yang baru bisa mereka rasakan setelah Indonesia merdeka selama 80 tahun.

Secara keseluruhan, artikel ini menyajikan dua sisi mata uang dari pendidikan di wilayah terpencil Indonesia: keindahan alam yang menawan seperti di SDN 6 Sa’dan, beriringan dengan perjuangan heroik para guru dan siswa, seperti yang dialami Yones dan murid-muridnya di Maluku Tengah, dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur dan akses komunikasi demi mendapatkan pendidikan yang layak.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version