Lifestyle
Kecanduan Video Game: Mengenal Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBC Indonesia Ketergantungan atau adiksi terhadap video game merupakan sebuah fenomena yang tidak mengenal batasan usia; masalah ini dapat menjangkiti siapa saja, mulai dari populasi anak-anak, merambah ke remaja, hingga menjerat orang dewasa. Dampak negatif yang ditimbulkannya pun signifikan, memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari dan berpotensi mengganggu kesehatan fungsi otak.Di kalangan akademisi dan peneliti, terdapat perdebatan mengenai bagaimana mengklasifikasikan kecanduan ini. Sebagian ahli menganggapnya sebagai bentuk kecanduan perilaku (behavioral addiction), yang memiliki kemiripan dengan gangguan perjudian (gambling disorder). Kesamaan ini ditarik berdasarkan adanya hasrat atau dorongan kuat untuk terus meraih kemenangan, yang menjadi salah satu alasan utama seseorang bermain tanpa henti.
Namun, pandangan ini tidak disepakati secara universal. Sebagian ahli lain merasa perbandingan dengan kecanduan judi kurang relevan. Mereka menyoroti perbedaan fundamental, di mana kecanduan video game sering kali tidak melibatkan kerugian finansial atau materi yang substansial, tidak seperti judi. Selain itu, faktor keterampilan memainkan peran besar; memenangkan video game menuntut keahlian kognitif, strategi, dan refleks yang tajam, sementara kemenangan dalam perjudian sebagian besar ditentukan oleh faktor keberuntungan atau kebetulan.

Tanda-tanda dan Faktor Pendorong Kecanduan
Untuk mengidentifikasi potensi kecanduan video game, ada beberapa tanda dan gejala yang dapat diamati. Gejala ini sering kali mencerminkan gangguan signifikan dalam hidup seseorang. Penurunan Kinerja: Terjadi kemunduran prestasi di sekolah, produktivitas di tempat kerja, atau kegagalan dalam memenuhi tanggung jawab rumah tangga akibat terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain. Gejala Penarikan Diri (Withdrawal): Munculnya emosi negatif seperti kesedihan mendalam, kecemasan, atau tingkat iritabilitas (mudah tersinggung) yang tinggi ketika individu tersebut tidak dapat bermain game atau perangkatnya diambil.
Peningkatan Toleransi: Kebutuhan untuk terus menambah durasi bermain demi merasakan tingkat kesenangan atau kepuasan yang sama seperti sebelumnya. Isolasi Sosial: Mulai menghentikan atau kehilangan minat pada aktivitas sosial, hobi, atau hubungan yang sebelumnya dianggap penting dan dinikmati, demi memprioritaskan waktu bermain.Kehilangan Kontrol: Ketidakmampuan untuk mengurangi waktu bermain atau kegagalan berulang kali untuk berhenti, meskipun sudah menyadari adanya konsekuensi negatif yang timbul. Perilaku Menipu: Berbohong kepada anggota keluarga, teman, atau orang lain mengenai jumlah total waktu yang sebenarnya dihabiskan untuk bermain game. Pengabaian Diri: Menurunnya standar kebersihan atau perawatan diri akibat terlalu fokus bermain game.

Mekanisme Pelarian (Escapism): Menggunakan aktivitas bermain game sebagai cara untuk lari dari situasi penuh tekanan di lingkungan kerja atau sekolah, atau untuk menghindari konflik interpersonal di rumah.Pengaturan Emosi Negatif: Menjadikan video game sebagai sarana untuk meredakan suasana hati yang buruk, seperti menekan perasaan bersalah atau keputusasaan.Para peneliti masih terus mendalami apa penyebab pasti dari kecanduan video game, serta sifat adiktif yang terkandung dalam internet dan game itu sendiri. Namun, hipotesis utama saat ini berpusat pada sistem penghargaan di otak. Diyakini bahwa proses bermain dan meraih kemenangan dalam game dapat memicu pelepasan dopamin. Dopamin adalah zat kimia otak (neurotransmitter) yang memegang peran krusial dalam berbagai fungsi tubuh, terutama yang terkait dengan sensasi menyenangkan, penghargaan, dan motivasi.
Penting dicatat bahwa dopamin adalah neurotransmitter yang sama yang aktif dalam gangguan adiktif lainnya, seperti gangguan perjudian dan penyalahgunaan zat. Bahkan, penelitian neurologis terkini menunjukkan adanya kesamaan yang teramati pada struktur dan fungsi otak individu dengan kecanduan video game dan individu dengan gangguan penggunaan zat terlarang.Pendekatan Perawatan dan TerapiPilihan intervensi utama untuk menangani kecanduan video game adalah melalui psikoterapi. Psikoterapi sendiri merupakan istilah luas yang mencakup beragam teknik perawatan yang bertujuan membantu pasien mengidentifikasi, memahami, dan akhirnya mengubah emosi, pola pikir, serta perilaku yang dianggap mengganggu atau merusak.Ada beberapa jenis psikoterapi spesifik yang terbukti dapat memberikan manfaat bagi seseorang dengan kecanduan video game:Terapi Perilaku Kognitif (CBT – Cognitive Behavioral Therapy): Ini adalah bentuk terapi yang sangat terstruktur dan berorientasi pada pencapaian tujuan. Seorang terapis atau psikolog akan membantu pasien mengamati dengan cermat pikiran dan emosi mereka.
Tujuannya adalah agar pasien memahami bagaimana pikiran mereka secara langsung memengaruhi tindakan (dalam hal ini, perilaku bermain game). Melalui CBT, individu dilatih untuk melepaskan diri dari pola pikir dan perilaku yang negatif serta obsesif, dan belajar mengadopsi kebiasaan serta kerangka berpikir yang lebih sehat. Terapi Kelompok: Jenis psikoterapi ini melibatkan sekelompok orang yang bertemu secara rutin untuk memaparkan dan mendiskusikan masalah mereka bersama-sama, semuanya di bawah pengawasan seorang profesional (terapis atau psikolog). Terapi kelompok dapat menjadi sumber dukungan moral dan motivasi yang sangat berharga, terutama bagi individu yang mungkin telah kehilangan kontak sosial atau teman sebaya akibat kecanduan game yang mereka alami.Konseling Keluarga atau Pernikahan: Pendekatan terapi ini melibatkan orang-orang terdekat pasien. Tujuannya adalah untuk memberikan edukasi kepada anggota keluarga atau pasangan mengenai gangguan kecanduan tersebut, sekaligus membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih stabil dan suportif untuk proses pemulihan.






