Tech
Kalkulator vs. AI dan Smartphone: Bos Raksasa Kalkulator Buka Suara Mengenai Pergeseran Teknologi

Semarang (usmnews) dikutip dari cnnindonesia.com Di tengah hiruk pikuk revolusi digital, di mana smartphone dan kecerdasan buatan (AI) telah mengambil alih hampir semua fungsi komputasi pribadi, perusahaan-perusahaan yang mengkhususkan diri pada teknologi niche seperti kalkulator saku menghadapi tantangan eksistensial yang unik. Baru-baru ini, pimpinan dari salah satu produsen kalkulator saku terbesar di dunia angkat bicara mengenai posisi produk tradisional mereka di tengah gelombang AI dan perangkat multifunction modern.
Secara umum, kalkulator saku yang dahulu menjadi kebutuhan primer pelajar dan profesional kini telah terintegrasi sepenuhnya ke dalam smartphone dan bahkan dapat digantikan oleh asisten AI yang jauh lebih canggih. Hampir setiap gawai pintar memiliki aplikasi kalkulator bawaan, dan perintah suara kepada asisten digital (seperti Siri atau Google Assistant) mampu melakukan perhitungan kompleks dalam hitungan detik. Fenomena ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana produk diskret seperti kalkulator saku masih dapat bertahan di pasar?

Bos perusahaan kalkulator raksasa tersebut mengakui bahwa lanskap teknologi telah berubah drastis, namun ia menawarkan pandangan yang optimistis sekaligus realistis. Ia berpendapat bahwa meskipun smartphone dan AI menawarkan solusi komputasi yang all-in-one, kalkulator saku tetap memiliki relung pasar yang tidak bisa sepenuhnya digantikan. Relung pasar ini terutama berada di tiga sektor utama:
1. Kinerja dan Keandalan Profesional
Untuk lingkungan kerja yang membutuhkan akurasi, kecepatan, dan pengoperasian non-distraksi—seperti akuntansi, teknik sipil, dan ujian masuk perguruan tinggi—kalkulator fisik masih menjadi pilihan utama. Perangkat ini dirancang hanya untuk satu tujuan, sehingga minim bug atau gangguan notifikasi yang sering terjadi pada smartphone. Selain itu, kalkulator profesional seringkali memiliki tata letak tombol (key layout) yang didesain secara ergonomis dan fungsionalitas khusus (seperti fungsi statistik atau grafik) yang lebih mudah diakses daripada melalui antarmuka layar sentuh.
2. Sektor Pendidikan dan Regulasi Ujian
Banyak lembaga pendidikan dan badan penyelenggara ujian yang melarang penggunaan smartphone atau perangkat berkemampuan internet demi menjaga integritas akademik. Dalam konteks ini, kalkulator saku, terutama model ilmiah dan grafik, menjadi alat komputasi yang diizinkan dan esensial. Perusahaan kalkulator mempertahankan relevansi mereka dengan terus menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan untuk memastikan produk mereka memenuhi standar kurikulum terbaru.
3. Aspek Budaya dan Ergonomi Taktil
Pimpinan perusahaan tersebut juga menyoroti aspek ergonomi taktil dan kenyamanan psikologis. Banyak pengguna, terutama generasi yang lebih tua atau yang bekerja dalam waktu lama, masih lebih nyaman merasakan tombol fisik yang memberikan feedback taktil jelas (bunyi dan rasa klik) daripada mengetuk layar sentuh. Kalkulator fisik juga tidak memerlukan booting atau koneksi internet, menjadikannya instrumen yang ready-to-use kapan saja.
Strategi perusahaan raksasa ini bukan melawan AI, melainkan beradaptasi dan berkolaborasi. Mereka mungkin tidak lagi bersaing dalam komputasi harian sederhana, tetapi mereka memperkuat keunggulan mereka dalam durabilitas, fungsi spesifik profesional, dan integrasi kurikulum pendidikan. Ke depannya, inovasi mereka kemungkinan akan bergeser ke fitur yang meningkatkan kegunaan di lingkungan non-digital, membuktikan bahwa bahkan di tengah dominasi chip AI tercanggih, masih ada tempat bagi perangkat yang dirancang dengan kesederhanaan dan ketepatan fungsi.






