Connect with us

anonymous

Jeremy Hammond, Anggota Anonymous, Divonis 10 Tahun Penjara atas Serangan Stratfor dan 8 Sistem Lain

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari KOMPAS.com, Sistem peradilan Amerika Serikat menjatuhkan hukuman berat kepada Jeremy Hammond, seorang peretas ulung yang dikenal sebagai salah satu anggota kunci kelompok peretas internasional Anonymous.

Hammond dijatuhi hukuman kurungan penjara selama 10 tahun oleh Hakim Distrik Selatan New York, AS, Loretta Preska, atas serangkaian serangan siber yang terencana, terutama yang menargetkan perusahaan Strategic Forecasting (Stratfor) serta delapan sistem komputer lainnya.

Dalam pembacaan vonis, Hakim Preska menegaskan bahwa tindakan Hammond melampaui batas kejahatan siber biasa. Ia menilai bahwa Hammond secara sengaja mencuri data rahasia, merusak situs web, dan menciptakan apa yang disebut “kekacauan maksimal” (maximal chaos) di dunia maya.

Dampak Serangan Siber yang Melumpuhkan

Kejahatan utama yang menjadi dasar hukuman Hammond adalah serangan ke Stratfor, sebuah perusahaan intelijen swasta yang berbasis di Texas. Serangan yang terkait dengan kelompok Anonymous ini mengakibatkan pencurian besar-besaran, termasuk e-mail rahasia dan informasi pribadi dari sekitar 860.000 karyawan perusahaan tersebut.

Hakim Preska menyoroti parahnya dampak yang ditimbulkan oleh serangan tersebut, dengan mengatakan, “Serangan ini mematikan Stratfor selama berminggu-minggu,” menggarisbawahi kerugian operasional dan reputasi yang dialami Stratfor.

Selain Stratfor, Hammond juga mengakui keterlibatannya dalam serangkaian serangan siber lain yang terjadi antara Juni 2011 hingga Februari 2012. Targetnya tidak main-main, meliputi delapan sistem komputer sensitif, termasuk situs web Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Departemen Keamanan Publik Arizona. Aksi-aksi peretasan ini menunjukkan jangkauan dan ambisi kelompok Anonymous dalam menyerang target-target pemerintah dan keamanan.

Secara keseluruhan, Preska menilai tindakan Hammond telah menyebabkan kerugian material yang sangat besar, ditaksir mencapai antara 1 juta hingga 2,5 juta dollar AS, dan melibatkan setidaknya 250 korban yang datanya dicuri atau dirusak. Hakim menyatakan bahwa pengadilan akan mempertimbangkan lebih lanjut mengenai kewajiban Hammond untuk membayar ganti rugi (restitution) kepada para korban.

Pembelaan Diri dan Motivasi Ideologis

Meskipun menghadapi konsekuensi hukum yang berat, Jeremy Hammond dalam dokumen pembelaan dirinya tidak menunjukkan penyesalan atas niat di balik tindakannya, meskipun ia mengakui aspek ilegal dari peretasan yang dilakukan.”Saya meretas puluhan perusahaan dan lembaga pemerintah, dan mengerti bahwa apa yang saya lakukan adalah melanggar hukum, dan tindakan ini bisa membawa saya ke penjara,” ujar Hammond.

Namun, ia melanjutkan dengan menjelaskan motivasinya yang bersifat ideologis: “Tapi saya merasa memiliki kewajiban untuk menggunakan keterampilan saya mengekspos dan menghadapi ketidakadilan dan untuk membawa kebenaran ke titik terang.

“Pernyataan ini mencerminkan pandangan khas kelompok hacktivist seperti Anonymous, yang melihat tindakan peretasan sebagai alat perlawanan terhadap otoritas atau entitas yang dianggap korup atau tidak adil.

Akhir Sidang dan Pengawasan KetatSidang vonis di Pengadilan Distrik Selatan di Manhattan, New York, berakhir dengan suasana yang dipenuhi pendukung Hammond. Setelah dijatuhi hukuman 10 tahun, Hammond mengakhiri pidatonya dengan pesan penyemangat kepada para pendukungnya: “Tetap kuat dan terus berjuang.

“Rencananya, ia akan menjalani hukuman di penjara federal dekat Chicago, kota asalnya. Setelah bebas, ia masih harus menjalani masa pengawasan ketat selama tiga tahun. Hakim Preska secara spesifik menetapkan bahwa semua aktivitas Hammond terkait komputer dan perangkat yang terhubung ke internet akan diawasi secara cermat, sebuah langkah pencegahan yang umum diterapkan pada terpidana kejahatan siber.

Saat persidangan usai, Hammond memberikan senyuman dan melambaikan tangan kepada para pendukungnya. Momen terakhirnya sebelum dibawa keluar ruang sidang ditutup dengan seruan khas kelompoknya: “Hidup Anonymous,” sambil mengangkat tangan, sebelum petugas membawanya pergi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *