Nasional
Jejak Proyek yang Kandas: Refleksi Sutiyoso atas Tragedi Tiang Monorel Jakarta

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia.com Tiang-tiang beton yang berdiri membisu di sepanjang Jalan HR Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika, Jakarta Selatan, bukan sekadar konstruksi bangunan yang tak selesai. Bagi warga Jakarta, deretan pilar tersebut adalah monumen kegagalan perencanaan transportasi massal yang hingga kini masih menjadi pemandangan sehari-hari. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, atau yang akrab disapa Bang Yos, baru-baru ini kembali berbagi kisah mengenai awal mula ambisi pembangunan monorel tersebut hingga akhirnya berakhir menjadi proyek mangkrak.
Awal Mula Ambisi dan Visi Bang Yos

Pada masa kepemimpinannya di awal era 2000-an, Sutiyoso menghadapi tantangan besar berupa kemacetan kronis di ibu kota. Visi besarnya adalah menciptakan sistem transportasi terpadu yang modern. Selain merintis Bus Rapid Transit (TransJakarta), ia melihat monorel sebagai solusi yang paling efisien karena tidak memakan banyak lahan di permukaan jalan yang sudah sangat sempit.
Proyek ini resmi dimulai pada tahun 2004 dengan proses groundbreaking yang dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri kala itu. Harapan publik sangat tinggi; monorel diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas warga dari Kuningan hingga Senayan. Bang Yos merencanakan pembangunan ini melibatkan pihak swasta agar tidak terlalu membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Titik Balik: Kendala Pendanaan dan Investor
Namun, impian tersebut mulai menemui jalan buntu ketika konsorsium swasta yang memenangkan proyek, yakni PT Jakarta Monorail, mengalami kesulitan pendanaan. Krisis finansial dan ketidakmampuan investor dalam memenuhi kewajiban modal membuat pengerjaan di lapangan tersendat.
Sutiyoso menjelaskan bahwa dalam perjalanannya, struktur kepemilikan saham di dalam konsorsium tersebut sering berganti-ganti, yang justru memperumit koordinasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat itu berada dalam posisi yang sulit; di satu sisi ingin proyek berlanjut, namun di sisi lain tidak bisa memberikan jaminan finansial secara penuh karena risiko hukum dan fiskal yang sangat besar.
Estafet Kepemimpinan dan Keputusan Penghentian
Setelah masa jabatan Sutiyoso berakhir pada 2007, proyek ini diwariskan kepada gubernur-gubernur berikutnya, mulai dari Fauzi Bowo, Joko Widodo, hingga Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Bang Yos menyayangkan kurangnya kontinuitas yang tegas dalam penyelesaian proyek ini.
Setiap kepemimpinan baru membawa evaluasi dan syarat baru bagi pihak pengembang. Puncaknya, pada era Gubernur Ahok, Pemprov DKI akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan PT Jakarta Monorail karena syarat teknis dan finansial yang diminta pemerintah tak kunjung terpenuhi. Keputusan ini secara resmi mematikan status proyek monorel, menyisakan tiang-tiang beton yang sudah terlanjur tertanam sebagai “sampah visual” di jantung kota.
Penyesalan dan Pelajaran di Masa Depan
Dalam ceritanya, Sutiyoso tak menampik adanya rasa sedih melihat proyek yang ia gagas dengan semangat modernisasi kini hanya menjadi beban kota. Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur berskala besar di Indonesia sangat rentan terhadap pergantian kebijakan politik dan ketidakpastian komitmen dari pihak swasta.
Hingga saat ini, wacana mengenai pemanfaatan kembali tiang-tiang tersebut—baik untuk jalur transportasi lain maupun sebagai sarana iklan dan penghijauan—terus bergulir tanpa kepastian yang jelas. Tragedi monorel Jakarta menjadi pelajaran berharga bagi perencana kota di masa depan: bahwa sebuah visi besar tanpa dukungan pendanaan yang sehat dan payung hukum yang kuat hanya akan berakhir menjadi beton tak bertuan yang merusak estetika kota.
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia Jejak Proyek yang Kandas: Refleksi Sutiyoso atas Tragedi Tiang Monorel Jakarta
Tiang-tiang beton yang berdiri membisu di sepanjang Jalan HR Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika, Jakarta Selatan, bukan sekadar konstruksi bangunan yang tak selesai. Bagi warga Jakarta, deretan pilar tersebut adalah monumen kegagalan perencanaan transportasi massal yang hingga kini masih menjadi pemandangan sehari-hari. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, atau yang akrab disapa Bang Yos, baru-baru ini kembali berbagi kisah mengenai awal mula ambisi pembangunan monorel tersebut hingga akhirnya berakhir menjadi proyek mangkrak.
Awal Mula Ambisi dan Visi Bang Yos
Pada masa kepemimpinannya di awal era 2000-an, Sutiyoso menghadapi tantangan besar berupa kemacetan kronis di ibu kota. Visi besarnya adalah menciptakan sistem transportasi terpadu yang modern. Selain merintis Bus Rapid Transit (TransJakarta), ia melihat monorel sebagai solusi yang paling efisien karena tidak memakan banyak lahan di permukaan jalan yang sudah sangat sempit.
Proyek ini resmi dimulai pada tahun 2004 dengan proses groundbreaking yang dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri kala itu. Harapan publik sangat tinggi; monorel diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas warga dari Kuningan hingga Senayan. Bang Yos merencanakan pembangunan ini melibatkan pihak swasta agar tidak terlalu membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Titik Balik: Kendala Pendanaan dan Investor
Namun, impian tersebut mulai menemui jalan buntu ketika konsorsium swasta yang memenangkan proyek, yakni PT Jakarta Monorail, mengalami kesulitan pendanaan. Krisis finansial dan ketidakmampuan investor dalam memenuhi kewajiban modal membuat pengerjaan di lapangan tersendat.
Sutiyoso menjelaskan bahwa dalam perjalanannya, struktur kepemilikan saham di dalam konsorsium tersebut sering berganti-ganti, yang justru memperumit koordinasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat itu berada dalam posisi yang sulit; di satu sisi ingin proyek berlanjut, namun di sisi lain tidak bisa memberikan jaminan finansial secara penuh karena risiko hukum dan fiskal yang sangat besar.
Estafet Kepemimpinan dan Keputusan Penghentian
Setelah masa jabatan Sutiyoso berakhir pada 2007, proyek ini diwariskan kepada gubernur-gubernur berikutnya, mulai dari Fauzi Bowo, Joko Widodo, hingga Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Bang Yos menyayangkan kurangnya kontinuitas yang tegas dalam penyelesaian proyek ini.
Setiap kepemimpinan baru membawa evaluasi dan syarat baru bagi pihak pengembang. Puncaknya, pada era Gubernur Ahok, Pemprov DKI akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan PT Jakarta Monorail karena syarat teknis dan finansial yang diminta pemerintah tak kunjung terpenuhi. Keputusan ini secara resmi mematikan status proyek monorel, menyisakan tiang-tiang beton yang sudah terlanjur tertanam sebagai “sampah visual” di jantung kota.

Penyesalan dan Pelajaran di Masa Depan
Dalam ceritanya, Sutiyoso tak menampik adanya rasa sedih melihat proyek yang ia gagas dengan semangat modernisasi kini hanya menjadi beban kota. Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur berskala besar di Indonesia sangat rentan terhadap pergantian kebijakan politik dan ketidakpastian komitmen dari pihak swasta.
Hingga saat ini, wacana mengenai pemanfaatan kembali tiang-tiang tersebut—baik untuk jalur transportasi lain maupun sebagai sarana iklan dan penghijauan—terus bergulir tanpa kepastian yang jelas. Tragedi monorel Jakarta menjadi pelajaran berharga bagi perencana kota di masa depan: bahwa sebuah visi besar tanpa dukungan pendanaan yang sehat dan payung hukum yang kuat hanya akan berakhir menjadi beton tak bertuan yang merusak estetika kota.







