Nasional

Isolasi di Tapal Batas, Langkah Cepat Pemkab Nunukan Atasi Krisis Penerbangan Arus Balik di Dataran Tinggi Krayan

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Permasalahan klasik mengenai aksesibilitas kembali mencuat di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Hingga Rabu (7/1/2026), suasana di loket bandara setempat masih dipadati oleh antrean warga yang gelisah. Mereka tengah berjuang untuk mendapatkan tiket pesawat dalam rangka arus balik usai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kepadatan ini tidak terelakkan mengingat satu-satunya moda transportasi andalan, yakni pesawat perintis, memiliki keterbatasan kapasitas yang sangat signifikan dengan hanya menyediakan 12 kursi penumpang per penerbangan.

Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Warga Perbatasan

Ketua Komisi 3 DPRD Nunukan, Rian Antoni, menyoroti fenomena ini sebagai masalah menahun yang memerlukan solusi struktural, bukan sekadar penanganan insidental. Keterbatasan akses ini berdampak langsung pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Banyak laporan masuk mengenai mahasiswa yang terancam terlambat masuk kuliah, serta karyawan yang terpaksa membolos kerja karena tertahan di kampung halaman tanpa kepastian tiket kembali.

Foto : benuantara.co.id

​Situasi yang mendesak ini bahkan memicu fenomena di mana masyarakat meminta bantuan “jalur khusus” kepada para legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Krayan untuk mengamankan tiket. Namun, Rian menegaskan bahwa meskipun ia memahami kepanikan warga, ia tidak dapat membenarkan praktik menyerobot antrean. “Semua orang memiliki urusan yang sama pentingnya. Kita tidak mungkin mendahulukan satu pihak dan mengorbankan yang lain yang sudah mengantre panjang,” ungkapnya, menekankan pentingnya keadilan dalam situasi krisis ini.

Intervensi Cepat Pemerintah Melalui Subsidi Ongkos Angkut (SOA)

Di tengah kepelikan tersebut, angin segar datang dari Pemerintah Daerah Nunukan. Bupati Nunukan, Irwan Sabri, mengambil langkah taktis dengan mempercepat realisasi program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) Penumpang Pesawat Udara tepat di awal tahun anggaran. Kebijakan ini dinilai sangat krusial mengingat Krayan adalah wilayah yang secara geografis terisolasi dan hanya dapat dijangkau secara efektif melalui jalur udara.

​Tidak tanggung-tanggung, Pemda Nunukan menggelontorkan alokasi anggaran sebesar Rp 8,6 miliar untuk menjamin konektivitas wilayah ini. Dalam pelaksanaannya, pemerintah menggandeng maskapai Susi Air untuk melayani dua rute vital:

  1. Rute Nunukan – Long Bawan (pp): Dengan frekuensi sebanyak 408 kali penerbangan.
  2. Rute Nunukan – Binuang (pp): Dengan frekuensi sebanyak 104 kali penerbangan.

Foto : kompas.com

Komitmen Kehadiran Negara

Langkah cepat Bupati Nunukan ini mendapat apresiasi tinggi dari legislatif. Rian Antoni menyebut percepatan kontrak SOA ini sebagai solusi nyata yang langsung menyentuh akar masalah transportasi di Krayan. Kontrak penerbangan subsidi ini resmi dimulai sejak 6 Januari 2026 dan direncanakan berlanjut hingga Desember mendatang.

​Bupati Irwan Sabri menegaskan bahwa percepatan ini bukan tanpa alasan. Ia menyadari urgensi posisi Krayan sebagai garda terdepan perbatasan negara. Dengan mengaktifkan subsidi penerbangan sejak awal tahun, pemerintah ingin membuktikan komitmennya bahwa negara hadir untuk melayani warganya, bahkan di wilayah pedalaman yang paling sulit dijangkau sekalipun. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya mengurai kemacetan arus balik saat ini, tetapi juga menjamin stabilitas mobilitas warga Krayan sepanjang tahun 2026.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version