Business

Ironi Komoditas Mangga Nasional, Di Tengah Melimpahnya Produksi, Ekspor Lesu dan Impor Meroket

Published

on

Semarang (usmnews) – dikutip dari cnbcindonesia.com saat ini tengah menghadapi sebuah ironi besar dalam tata niaga pertanian, khususnya pada komoditas mangga. Meskipun tercatat sebagai salah satu negara produsen mangga papan atas dunia dengan hasil panen menyentuh angka 3,01 juta ton pada tahun 2025, peran Indonesia di kancah perdagangan global masih sangat minim. Lebih mengejutkan lagi, di tengah kelesuan ekspor tersebut, keran impor mangga justru terbuka semakin lebar dan angkanya melonjak drastis.

​Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), rasio mangga lokal yang berhasil menembus pasar internasional tidak sampai 0,1% dari total produksi nasional. Sebagai perumpamaan yang cukup miris, dari setiap satu ton (1.000 kilogram) mangga yang berhasil dipanen oleh petani di tanah air, hanya sekitar satu kilogram saja yang sukses dikapalkan ke luar negeri.

Pulau Jawa Sebagai Lumbung Mangga Nasional

​Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, volume produksi mangga di Indonesia sebenarnya relatif stabil dan selalu berada di atas kisaran 2,8 juta ton. Meskipun pada tahun 2025 terjadi penurunan panen sebesar 8,87% (sekitar 293 ribu ton) dari capaian 3,30 juta ton di tahun 2024, angka 3,01 juta ton tetaplah sebuah volume pasokan yang tergolong masif.

​Sayangnya, pemerataan sentra produksi masih menjadi pekerjaan rumah. Ekosistem budidaya mangga praktis hanya terpusat di Pulau Jawa, di mana tiga provinsi utamanya mendominasi lebih dari 75% total produksi nasional. Berikut adalah rinciannya:

  • Jawa Timur: Merupakan lumbung mangga terbesar dengan kontribusi mencapai 43,3% atau setara dengan 1,30 juta ton.
  • Jawa Tengah: Menyusul di posisi kedua dengan hasil panen sebanyak 545 ribu ton.
  • Jawa Barat: Berada di urutan ketiga dengan menyumbang 425 ribu ton.

​Akibat dari perputaran barang yang terpusat ini, mayoritas hasil panen mangga tidak pernah menyeberang ke pasar internasional. Buah ini lebih banyak diserap oleh pasar domestik, mulai dari pasar tradisional, ritel modern, hingga industri pengolahan. Pada tingkat konsumen langsung, BPS mencatat bahwa konsumsi mangga skala rumah tangga mencapai 156,68 ribu ton pada 2025. Meski turun 24,2% dari tahun sebelumnya, tingkat partisipasi konsumsi masih cukup terjaga di level 4,28%.

​Perjalanan ekspor mangga Indonesia dipenuhi oleh fluktuasi yang cenderung stagnan dan melemah. Sempat mencetak angka yang cukup menjanjikan di tahun 2021 dengan 3.111,95 ton, angkanya terjun bebas menjadi sekadar 312,30 ton di tahun 2022. Meski sempat ada upaya pemulihan dengan naiknya volume ekspor menjadi 642,67 ton (2023) dan 891,35 ton (2024), kinerja ini kembali anjlok ke level 704 ton pada tahun 2025.

​Bagi negara dengan kapasitas panen jutaan ton, volume ekspor dalam hitungan ratusan ton tersebut tentu sangat timpang. Selama ini, Indonesia hanya bergantung pada segelintir pasar tujuan utama seperti Malaysia, Singapura, dan Uni Emirat Arab, yang banyak tertolong oleh faktor kedekatan geografis dan kecenderungan selera terhadap buah tropis.

​Jika dikomparasikan, daya saing ekspor Indonesia masih tertinggal jauh di belakang raksasa pengekspor buah seperti Meksiko, Peru, Thailand, atau Brasil. Di negara-negara tersebut, komoditas mangga telah terintegrasi secara matang dengan sistem logistik mutakhir, fasilitas rantai pendingin (cold chain), hingga penetrasi ritel berskala internasional.

Fenomena Melonjaknya Impor

Foto: BPS

​Di balik suramnya realisasi ekspor, angka impor mangga justru menampilkan grafik yang meroket tajam dalam dua tahun ke belakang. Data memperlihatkan tren kenaikan yang signifikan:

  • 2023: 531 ton
  • 2024: 1.159 ton
  • 2025: 2.766 ton

​Berdasarkan data di atas, volume mangga impor yang masuk ke Indonesia pada tahun 2025 nyaris empat kali lipat lebih besar dibandingkan mangga yang diekspor (704 ton). Situasi ini menjadi indikator yang jelas bahwa besarnya panen di dalam negeri belum mampu menjawab spesifikasi pasar secara menyeluruh. Seringkali, impor mendesak dilakukan demi memenuhi kebutuhan industri, mendatangkan varietas unggul tertentu, atau menyuplai ketersediaan stok saat buah lokal sedang tidak dalam musim panen.

​Secara nilai ekonomi, impor mangga pada tahun 2025 sukses menyedot devisa sebesar US$ 2,32 juta, membengkak 27,1% (naik US$ 153,92 ribu) dibanding periode sebelumnya. Tiga negara yang meraup untung sebagai pemasok utama mangga ke Indonesia meliputi:

  1. Perancis: Menjadi negara asal dengan nilai impor tertinggi, yakni US$ 795,02 ribu (dengan volume 111,55 ton yang mengindikasikan tingginya harga mangga premium dari Eropa).
  2. India: Menyuplai 736,02 ton mangga dengan nilai impor mencapai US$ 746,03 ribu.
  3. Thailand: Mengirimkan pasokan terbesar secara volume yakni 770,81 ton, dengan nilai transaksi sebesar US$ 443,13 ribu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version