Tech
Indonesia Dinobatkan sebagai Sumber Serangan Siber Terbesar di Dunia, Melampaui Rusia dan Ukraina
Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia Dalam sebuah laporan mengejutkan yang dirilis oleh Cloudflare pada awal Desember 2025, Indonesia secara resmi dinobatkan sebagai “sarang hacker” terbesar di dunia. Laporan Q3 DDoS Threat Cloudflare tersebut mencatat bahwa Indonesia telah menduduki peringkat pertama sebagai sumber serangan Distributed Denial of Service (DDoS) selama empat kuartal berturut-turut, sebuah rekor yang sebelumnya sering didominasi oleh negara-negara dengan reputasi siber yang kuat seperti Rusia atau Ukraina.
Dominasi Indonesia dalam Peta Siber Global
Data menunjukkan pergeseran tren yang signifikan dalam satu tahun terakhir. Sejak kuartal ketiga tahun 2024, lalu lintas serangan siber yang berasal dari alamat IP Indonesia terus memuncaki daftar global. Padahal, sebelum periode ini, Indonesia hanya berada di peringkat kedua atau bahkan lebih rendah. Lonjakan drastis terlihat jelas dari data lima tahun terakhir (sejak Q3 2021), di mana permintaan serangan HTTP DDoS dari Indonesia meningkat tajam sebesar 31,9 persen.
Dalam daftar terbaru Cloudflare, Indonesia kokoh di posisi puncak, diikuti oleh Thailand yang naik delapan peringkat, dan Bangladesh yang melonjak empat belas peringkat. Menariknya, negara-negara yang biasanya diasosiasikan dengan konflik siber berat seperti Rusia kini berada di posisi ke-5, sementara Ukraina turun ke peringkat ke-10. Hal ini mengindikasikan bahwa Asia, khususnya Asia Tenggara, kini telah menjadi pusat baru bagi aktivitas siber ilegal, dengan Indonesia sebagai aktor utamanya.
Ancaman Botnet “Aisuru” dan Serangan Hiper-Volumetrik
Laporan tersebut juga menyoroti munculnya ancaman baru yang lebih canggih pada kuartal ketiga 2025, yaitu botnet bernama Aisuru. Jaringan perangkat terinfeksi ini diperkirakan memiliki pasukan antara 1 hingga 4 juta host di seluruh dunia. Aisuru bertanggung jawab atas gelombang serangan DDoS “hiper-volumetrik” yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kekuatan mencapai lebih dari 1 terabit per detik (Tbps) dan 1 miliar paket per detik (Bpps).
Skala serangan ini sangat masif, bahkan sempat menyebabkan gangguan internet luas di Amerika Serikat hanya karena volume lalu lintasnya yang membebani Penyedia Layanan Internet (ISP). Sasaran utamanya meliputi sektor-sektor vital seperti penyedia telekomunikasi, perusahaan gaming, layanan hosting, hingga sektor keuangan.
Karakteristik Serangan: Cepat dan Mematikan
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah kecepatan serangan yang semakin sulit diantisipasi. Sekitar 71% serangan DDoS HTTP dan 89% serangan pada lapisan jaringan berlangsung kurang dari 10 menit. Durasi yang sangat singkat ini membuat intervensi manusia hampir mustahil dilakukan secara real-time. Kerusakan yang ditimbulkan dalam hitungan detik sering kali memerlukan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, bagi tim teknis untuk memulihkan sistem, memeriksa integritas data, dan mengembalikan layanan online agar aman digunakan kembali.
Apa Artinya bagi Indonesia?
Label “sarang hacker” ini tidak serta-merta berarti semua serangan dilakukan oleh warga negara Indonesia. Dalam banyak kasus serangan DDoS, perangkat-perangkat di Indonesia (seperti router, CCTV, atau perangkat IoT yang keamanannya lemah) sering kali diretas dan dijadikan “zombie” atau bagian dari botnet oleh aktor jahat dari mana saja. Perangkat-perangkat inilah yang kemudian digunakan untuk menyerang target global, sehingga lalu lintas serangan terdeteksi berasal dari Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang seperti Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) maupun Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) belum memberikan tanggapan resmi. Namun, laporan ini menjadi alarm keras bagi infrastruktur digital nasional, menandakan perlunya peningkatan keamanan siber yang mendesak, terutama pada perangkat-perangkat internet publik dan pribadi yang rentan disalahgunakan.