Lifestyle
Indonesia Darurat TBC: Lonjakan Kasus, Ancaman Penularan, dan Kelompok yang Paling Rentan

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com Berdasarkan laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, situasi penyakit Tuberkulosis (TBC) di tanah air kini memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan. Per Januari 2026, Indonesia tercatat menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia. Hal yang mengejutkan adalah rasio penularan di Indonesia kini telah melampaui India, negara yang sebelumnya sering berada di posisi puncak. Data menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 386 kasus TBC per 100.000 penduduk, sebuah angka yang jauh di atas India yang mencatat 190 kasus per 100.000 penduduk.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menekankan bahwa tingginya angka ini menunjukkan bahwa penularan di tingkat masyarakat masih terjadi secara masif. Salah satu karakteristik TBC yang membuatnya berbahaya adalah sifat gejalanya yang muncul secara perlahan atau laten. Berbeda dengan virus seperti COVID-19 yang dampaknya langsung terasa berat dalam waktu singkat, penderita TBC seringkali masih merasa sehat dan tetap bisa beraktivitas seperti bekerja atau berolahraga selama beberapa bulan awal meskipun sudah terinfeksi. Kondisi “merasa sehat” inilah yang justru memicu penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis secara tidak sengaja kepada orang-orang di sekitar.
Selain masalah deteksi, faktor lingkungan juga memegang peranan krusial. Bakteri TBC dikenal sangat tangguh dan mampu bertahan hidup hingga enam bulan di dalam ruangan yang lembap dan minim cahaya matahari. Sebaliknya, bakteri ini akan mati hanya dalam waktu 15 hingga 30 menit jika terpapar sinar ultraviolet secara langsung. Oleh karena itu, kondisi rumah dengan ventilasi yang buruk dan sanitasi yang rendah menjadi faktor pendorong utama melonjaknya kasus TBC di berbagai daerah.

Artikel tersebut juga menyoroti kelompok masyarakat yang memiliki risiko tertinggi tertular. Pertama adalah mereka yang tinggal di lingkungan padat penduduk atau di rumah dengan kondisi sirkulasi udara yang tidak memadai. Kedua, kelompok usia produktif menjadi sasaran utama karena mobilitas mereka yang tinggi, sering kali bertemu dengan banyak orang di transportasi umum atau tempat kerja. Ketiga, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, penderita diabetes melitus, lansia, serta anak-anak yang mengalami masalah gizi atau stunting, sangat rentan mengalami komplikasi serius akibat penyakit ini.
Pemerintah kini berupaya melakukan akselerasi penanganan melalui program quick win yang melibatkan berbagai sektor, tidak hanya tenaga medis. Fokus utamanya adalah memperbaiki sanitasi lingkungan, memastikan kecukupan gizi masyarakat, serta memperkuat sistem pelaporan kasus agar rantai penularan dapat segera diputus. Kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami batuk berkepanjangan sangat diperlukan guna menekan angka kematian dan mencapai target eliminasi TBC di masa depan.







