Connect with us

Business

IHSG Menembus Level 9.000: Era Baru Pasar Modal Indonesia

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.comKenaikan IHSG hingga menyentuh angka 9.000 merupakan hasil dari akumulasi sentimen positif yang telah terbangun sejak akhir tahun lalu. Penguatan ini didorong oleh stabilitas makroekonomi dalam negeri, tingkat inflasi yang terkendali, serta proyeksi pertumbuhan PDB yang tetap solid. Di sisi lain, kondisi pasar global yang mulai kondusif—terutama terkait kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang lebih melunak—telah memicu kembalinya aliran modal ke pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Dominasi Investor Asing: Fenomena “Net Buy” Besar-besaran

Salah satu motor utama yang membawa IHSG ke level tertinggi sepanjang masa ini adalah aksi beli bersih (net buy) oleh investor asing. Setelah sempat menunjukkan tren outflow pada periode sebelumnya, investor mancanegara kini kembali melakukan akumulasi secara masif. Akumulasi ini menunjukkan bahwa aset-aset di Indonesia dianggap memiliki valuasi yang masih menarik dibandingkan dengan risiko yang ada, ditambah dengan penguatan nilai tukar Rupiah yang memberikan keuntungan tambahan bagi investor luar negeri.

Daftar Saham yang Paling Banyak Diakumulasi Asing

Berdasarkan data perdagangan, aliran modal asing terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) yang memiliki fundamental kuat. Berikut adalah sektor dan saham yang menjadi primadona:

1. Sektor Perbankan (The Big Four)

Sektor keuangan tetap menjadi tulang punggung kenaikan indeks. Investor asing tercatat melakukan akumulasi besar pada:

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Selalu menjadi pilihan utama karena tingkat keamanan dan profitabilitasnya yang stabil.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Menarik perhatian karena performa kredit mikro yang kuat dan rasio dividen yang tinggi.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) & PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Keduanya mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan, mendorong asing untuk terus menambah porsi kepemilikan.

2. Sektor Telekomunikasi dan Teknologi

Seiring dengan percepatan digitalisasi dan infrastruktur 5G yang semakin merata, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) kembali menjadi incaran. Asing menilai Telkom memiliki keunggulan kompetitif dalam penguasaan data dan konektivitas yang sangat krusial bagi ekonomi digital Indonesia di tahun 2026.

3. Sektor Energi dan Komoditas Hilirisasi

Kebijakan hilirisasi pemerintah mulai membuahkan hasil dalam laporan keuangan emiten. Saham-saham yang terkait dengan ekosistem baterai kendaraan listrik dan pengolahan mineral, seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) atau entitas terkait nikel lainnya, terlihat mulai dikoleksi kembali oleh pengelola dana global yang fokus pada investasi berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance).

Analisis Sentimen: Mengapa Sekarang?

Ada beberapa faktor kunci yang menjelaskan mengapa investor asing begitu agresif melakukan akumulasi saat IHSG menyentuh 9.000:

Revisi Naik Proyeksi Laba Emitem: Analis global mulai menaikkan target harga saham-saham di Indonesia menyusul laporan kinerja kuartal IV 2025 yang melampaui ekspektasi.

Stabilitas Politik: Kondisi politik yang stabil pasca-transisi kepemimpinan memberikan kepastian hukum bagi investor jangka panjang.

Efek Window Dressing & Januari Effect: Momentum awal tahun sering kali menjadi saat bagi manajer investasi untuk menyusun ulang portofolio mereka dengan aset-aset yang berkinerja unggul.

Pandangan Ke Depan

Meskipun IHSG telah mencapai rekor 9.000, para analis mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) dalam jangka pendek. Namun secara keseluruhan, tren bullish ini diprediksi akan terus berlanjut selama aliran modal asing tetap konsisten masuk ke pasar domestik.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *