Connect with us

Nasional

Hutan Mangrove: Dari Benteng Alami Pesisir Menjadi ‘Perangkap Abadi’ Sampah Plastik

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Hutan mangrove, yang selama ini dikenal sebagai pahlawan lingkungan karena kemampuannya menahan abrasi dan menyerap karbon, kini menghadapi ancaman eksistensial yang ironis. Alih-alih hanya berfungsi sebagai pelindung, ekosistem ini kini berubah fungsi menjadi “perangkap raksasa” bagi sampah manusia. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution menyingkap realitas pahit ini, menyoroti bagaimana akar-akar mangrove kini tercekik oleh limbah plastik yang tak terurai.

​Riset Mengungkap Fakta: Mangrove Sebagai Jaring Sampah

​Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Universitas Barcelona, Spanyol, mengambil lokasi di Kolombia sebagai studi kasus. Riset ini menggabungkan data empiris dari survei sampah di 29 lokasi hutan mangrove dengan data sosial melalui 671 wawancara penduduk pesisir. Temuan utamanya sangat jelas: hutan mangrove secara alami bertindak sebagai perangkap bagi sampah makro (sampah berukuran besar), terlepas dari struktur hutannya. Namun, faktor penentu utamanya bukanlah alam, melainkan seberapa dekat hutan tersebut dengan aktivitas manusia.

​Studi ini membedakan mangrove menjadi tiga zona berdasarkan letaknya:

  1. Mangrove Tepi Sungai (Riverine): Tumbuh di sepanjang aliran sungai.
  2. Mangrove Cekungan (Basin): Tumbuh di area pedalaman dengan pasang surut terbatas.
  3. Mangrove Pinggiran (Fringe): Tumbuh di sepanjang teluk terbuka atau laguna.

​Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mangrove Pinggiran (Fringe) adalah korban terparah. Pasang surut air laut secara konstan mendorong sampah terapung dari lautan ke arah pantai. Di sana, akar-akar mangrove yang rapat menahan sampah tersebut agar tidak kembali ke laut. Akibatnya, rata-rata sampah yang menumpuk di zona ini mencapai 2,5 item per meter persegi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jenis mangrove tepi sungai atau cekungan yang rata-rata hanya menampung di bawah 0,4 item per meter persegi.

​Dominasi Plastik dan Fenomena “Karbon Plastik Tanah”

​Dari seluruh sampah yang terjebak, 90 persen adalah plastik. Botol minum, wadah makanan, dan tutup botol adalah pemandangan umum di sela-sela akar pohon. Sementara itu, sampah yang lebih berat seperti logam atau kaca biasanya ditemukan di mangrove cekungan, yang mengindikasikan adanya pembuangan sampah langsung oleh manusia di area tersebut, bukan terbawa arus.

​Yang lebih mengkhawatirkan adalah apa yang terjadi setelah sampah itu terperangkap. Proses degradasi yang lambat namun pasti sedang terjadi:

  • Fragmentasi: Paparan sinar matahari, hantaman ombak, dan gigitan hewan memecah plastik besar menjadi mikroplastik.
  • Penguburan Alami: Hewan seperti kepiting seringkali menarik serpihan plastik ke dalam liang mereka.
  • Sedimentasi: Lumpur pasang surut perlahan menimbun plastik tersebut.

​Ketua studi, Ostin Garcés Ordonez, menyebut fenomena ini sebagai “Karbon Plastik Tanah”. Plastik yang tertimbun di dalam lumpur mangrove dapat bertahan selama puluhan tahun, bahkan berabad-abad, tanpa terurai sepenuhnya. Fragmen mikroplastik yang dihasilkan kemudian masuk ke dalam rantai makanan laut, dimakan oleh ikan, dan pada akhirnya berisiko dikonsumsi kembali oleh manusia.

​Dilema Sosial: Kesadaran Warga vs Keterbatasan Infrastruktur

​Wawancara dengan penduduk setempat mengungkapkan dimensi sosial dari krisis ini. Masyarakat pesisir sebenarnya menyadari betapa pentingnya mangrove bagi perlindungan banjir dan habitat ikan. Mereka juga paham bahaya polusi. Namun, mereka terjebak dalam sistem pengelolaan limbah yang buruk.

​Banyak komunitas tidak memiliki akses ke layanan pengangkutan sampah yang memadai. Akibatnya, praktik membuang sampah ke sungai, menimbunnya di tanah, atau membakarnya menjadi solusi terpaksa yang umum dilakukan. Sampah yang dibuang sembarangan inilah yang akhirnya bermuara dan terperangkap di hutan mangrove.

​Jalan Keluar: Sanitasi dan Edukasi

​Para peneliti menegaskan bahwa menyelamatkan mangrove tidak cukup hanya dengan aksi bersih-bersih pantai sesekali. Solusi jangka panjang harus menyentuh akar masalah:

  1. Pengurangan Plastik Sekali Pakai: Mengurangi produksi dan konsumsi kemasan plastik adalah langkah tercepat untuk membendung aliran sampah.
  2. Infrastruktur Sanitasi: Pemerintah harus menjamin akses pengelolaan sampah yang layak bagi masyarakat pesisir. Ini dianggap sebagai hak asasi untuk hidup bermartabat sekaligus syarat mutlak pelestarian lingkungan.
  3. Edukasi Berkelanjutan: Meningkatkan pemahaman masyarakat agar tidak membuang sampah ke aliran air yang bermuara ke mangrove.

​Tanpa intervensi segera, hutan mangrove akan kehilangan fungsinya sebagai penyaring alami dan justru menjadi bom waktu ekologis yang menyimpan racun bagi generasi mendatang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *