Lifestyle

Harga Jual Daging Ayam Di Pasar Kota Medan Melonjak Signifikan, Kini Mencapai Rp40.000 Untuk Setiap Kilogram

Published

on

Semarang (usmnews) dikutip fari cnnindonesia.com Menjelang penghujung tahun, masyarakat Kota Medan, Sumatera Utara, dihadapkan pada tekanan ekonomi baru yang cukup memberatkan. Pasar-pasar tradisional di wilayah tersebut kini mencatatkan lonjakan harga daging ayam potong yang sangat tajam. Berdasarkan pantauan terbaru, harga komoditas sumber protein utama ini telah menembus angka psikologis Rp40.000 per kilogram (kg).

Kenaikan ini bukanlah fluktuasi biasa, melainkan tercatat sebagai lonjakan harga tertinggi yang pernah terjadi dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Situasi ini tentu menambah beban masyarakat yang tengah bersiap menghadapi kebutuhan akhir tahun, di mana permintaan bahan pangan biasanya meningkat secara alami.

Analisis Penyebab: Kelangkaan Pasokan dan Mahalnya Pakan Gunawan Benjamin, selaku Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, memberikan analisis mendalam mengenai fenomena ini. Dalam keterangannya pada Senin (24/11), ia menegaskan bahwa kenaikan harga hingga level Rp40.000 per kg tersebut adalah sesuatu yang sulit dihindari dalam kondisi pasar saat ini. Faktor utama yang menjadi pemicu adalah menipisnya ketersediaan stok ayam siap potong di tingkat peternak maupun distributor.

Namun, masalah suplai bukan satu-satunya variabel penentu. Gunawan menyoroti adanya tekanan biaya produksi yang sangat berat di sektor hulu. Komponen utama pakan ternak, yaitu jagung, mengalami kenaikan harga yang signifikan.

“Harga jagung saat ini sudah menyentuh kisaran Rp7.200 hingga Rp7.500 per kg. Karena jagung adalah bahan baku utama pakan, kondisi ini secara otomatis mengerek naik Harga Pokok Produksi (HPP) di tingkat peternak, baik untuk ayam pedaging maupun ayam petelur,” jelas Gunawan.

Kenaikan harga jagung ini menciptakan efek domino yang luas. Ketika biaya pakan melambung, peternak terpaksa menyesuaikan harga jual mereka ke pasar agar tidak merugi, yang akhirnya beban tersebut ditanggung oleh konsumen akhir.

Dampak Merembet ke Komoditas Telur
Efek domino dari mahalnya harga pakan jagung tidak hanya berhenti pada daging ayam. Komoditas turunan lainnya, yakni telur ayam, juga terkena imbasnya. Di pasar, harga telur ayam ras kini ditransaksikan pada rentang harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Saat ini, harga telur berada di kisaran Rp1.700 hingga Rp2.200 per butir. Padahal, sebelumnya harga telur masih bisa didapatkan dengan harga yang relatif terjangkau, yakni antara Rp1.400 hingga Rp2.100 per butir. Bahkan, di beberapa lokasi atau pengecer tertentu, harga jual telur sudah ada yang menyentuh angka ekstrem hingga Rp2.500 per butir.

Ancaman Inflasi dan Daya Beli
Gunawan menekankan bahwa tren kenaikan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak dua bulan lalu. Namun, bulan ini menjadi puncak akumulasi kenaikan yang paling signifikan. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi, dampak makroekonomi akan segera terasa.

Lonjakan harga pada dua komoditas pangan strategis ini—daging ayam dan telur—dikhawatirkan akan menjadi penyumbang utama angka inflasi pangan (volatile food) di daerah tersebut. Lebih jauh lagi, hal ini berpotensi menekan daya beli masyarakat secara luas. Oleh karena itu, langkah konkret berupa stabilisasi pasokan dan pengendalian harga pakan ternak menjadi sangat krusial untuk segera dilakukan oleh pemangku kebijakan guna meredam gejolak pasar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version